Akibat Diteriaki Virus Corona, Mayat Diindramayu Tidak Ada Yang Berani Evakuasi

INIKECE - Akibat dari penyebaran virus corona tersebut banyak sekali menjadi orang ketakutan dan lebih memilih untuk menjaga diri dan jauhi orang-orang terlebih dahulu. Banyak orang sekarang lebih memilih dirumah saja.

Keajaiban Bumi Yang Belum Terpecahkan Hingga Sampai Sekarang, Menjadi Misteri Bumi

INIKECE - Bumi selalu memiliki keajaiban, hingga fenomena alam yang luar biasa, sampai ada suatu tempat dimana tidak dapat diteliti keajaiban bumi tersebut dikarena masih menjadi misteri teka-teki bagi para ilmuan.

Cerita Power Girl! Pesona Sang Gadis Jagoan

INIKECE - Suara gaduh dan teriakan terdengar dari ruangan penuh matras dengan tulisan Ruang Latihan Judo itu. Terlihat seorang gadis dengan rambut kuncir kuda sedang bergulat dengan lelaki yang memiliki ukuran tubuh sedikit lebih besar darinya.

Ramalan April Hari Ini Berdasarkan Zodiak, Simak Yuk!

INIKECE - Diakhir pekan ini, ramalan zodiak hari ini meminta Scorpio dan Aquarius untuk lebih peka terhadap pasangan jika tidak ingin hubungan menjadi buruk. Sementara itu, Virgo diharapkan lebih waspada karena berisiko terkan alergi. .

Romance Remaja! So I Love My Ex - Dia Bukan Lagi Si Cungkring, Part 2

INIKECE - Aluna menarik dan membuang napasnya. Ia memalingkan wajah saat melihat keberadaan Zello. Oke, Aluna memang tahu Zello kuliah di tempat yang sama dengannya, tetapi dia tidak pernah tahu bahwa Zelo ada di Fakultas Ekonomi.

Cerita Dalam Buku - KKN di Desa Penari (Two)

Cerita Dalam Buku - KKN di Desa Penari (Two)

INIKECE - Hari pembekalan pun tiba. Semua anak yang akan melaksanakan tugas KKN selama 24 hari sudah berkumpul di aula kampus. Setelah mendengar pidato rektor dan para dosen yang menjadi penanggung jawab pengawasan selama pelaksanaan kegiatan ini selesai berpidato, KKN tahun ini resmi dibuka.

Teriakan mahasiswa dan mahasiswi yang pecah seakan menjadi pembuka dari rentetan cerita ini. Widya, Ayu, Nur, Bima, Wahyu, dan Anton bersiap menuju desa yang akan dijadikan tempat melaksanakan KKN selama satu setengah bulan ke depan.

Mengabdikan diri, membantu, dan mengedukasi kehidupan satu setengah bulan ke depan. Mengabdikan diri, membantu, dan mengedukasi kehidupan masyarakat agar menjadi lebih baik, dengan sarana dan prasarana penunjang proker (Program Kerja) mereka yang telah selesai dikerjakan.

Kelompok Widya masuk ke mobil yang akan mengantarkan mereka. Perbekalan yang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari juga tertata rapi di bagasi mobil. Setelah semua siap, mobil melaju tempat dimana mereka nanti akan tinggal, di sebuah desa di pelosok Jawa.

Hujan perlahan turun rintik-rintik. Pemandangan aspal yang basah mengingatkan Widya dengan percakapannya tempo hari bersama kedua orangtuanya.

"Nak, apa gak ada tempat lain untik pelaksanaan KKN kamu? Tempat ini jauh sekali, loh. Selain itu, di sana masih belum terlalu ramai, mana lewat hutan lagi," tanya Bu Azrah, ibu Widya. Ia khawatir anak semata wayangnya mendapatkan tempat KKN yang dirasa tidak masuk akal.

"Tenang saja Bu, dari laporan observasi Ayu sama Nur tempatnya bagus, kok. Ibu percaya saja sama Widya. Widya pasti bisa kok, menjaga diri," ucap Widya sembari mengelus punggung tangan ibunya, berharap seluruh kekhawatirannya meluap.

"Air mengalir pasti larinya ke timur, pernah dengar kalimat itu, Wid? Di timur, masih banyak hal-hal tabu yang kadang tidak masuk akal, karena semuanya itu berkumpul di timur. Dari yang baik, buruk, sampai yang terburuk. Ibu cuma takut anak ibu satu-satunya kenapa-kenapa," kata Bu Azrah, yang disambut tatapan lembut Widya. Hal itu, membuat ibunya akhirnya luluh.

"Ya sudah," kata Bu Azrah kemudian. "Jaga diri, jaga ucapan, hati-hati dalam bersikap. Jangan lupa makan ya Nak, sehat-sehat pokoknya."

Malam itu, Widya mendapatkan pelukan terhangat dari ibunya. Ia tidak pernah merasa sehangat ini.

BACA JUGA CERITA SEBELUMnya :

Cerita Dalam Buku - KKN di Desa Penari (One)


***

Tanpa sadar, Widya tersenyum sendiri sambil menatap keluar jendela mobil. Tiba-tiba, seseorang menepuk bahunya. "Oalah, Wid, Wid, jangan kebanyakan ngelamun kamu, nanti kalau kamu kesurupan, aku ndak mau bantuin kamu, mending aku nyemilin kuaci ae." Wahyu, kating sekaligus teman Ayu yang satu ini memang menyebalkan sekaligus paling selengek diantara mereka.

Bila saja bukan karena permintaan Ayu, lelaki kurus kering dengan mulut cerewet ini akan Widya coret dari proposal anggota KKN mereka. Bersama Anyon si tambun yang suka ngomong kasar tanpa pakai otak, mereka seperti pelengkap.

Namun, ia harus segera membiasakan diri. Kata orang, semakin kamu tidak menyukai seseorang, maka kamu akan semakin jatuh cinta sama dia. Apalagi kalau dipikir-pikir, program KKN banyak melahirkan novel percintaan yang kadang kisahnya terjadi berdasarkan kisah nyata. Amit-amit! batin Widya, melihat Wahyu yang sedari tadi sibuk memakan kuacinya.

Perjalanan mereka cukup jauh, butuh waktu 4 hingga 6 jam. Mereka berangkat pada pukul 11 siang, dan tiba di tempat tujuan menjelang pukul 4 sore. Saat ini mereka baru akan memasuki jalanan hutan yang sering dibicarakan orang.

Orang bilang, hutan ini hutan paling angker di Jawa Timur. Banyak cerita yang beredar tentang pengalaman orang yang pernah melewatinya, meski hanya sebatas rumor. Namun sore ini, hutan ini seakan, memiliki semacam daya tarik tersendiri. Hal itu membuat Widya merasa ngeri setiap memandang pepohonan yang ia lewati, seakan-akan, dari balik semak belukar di antara pepohonan itu ada sesuatu yang tengah mengamatinya.

Berbeda dengan kedua temannya, Nur dan Ayu saling berbicara satu sama lain. Begitu juga dengan Wahyu dan Anyon, mereka sibuk membahas kenapa klub sepakbola yang mereka dukung semalam bisa dibantai begitu saja dengan tim kelas bawah.

Widya melihat Bima, mata mereka sempat bertemu di kaca mobil depan. Bima tersenyum lalu membuang muka untuk menutupi perasaan groginya. Dari semua orang di sini, hanya Bima yang masih bisa menampilkan sosok dewasa, seakan keberadaannya untuk menjadi pemimpin kelompok. Ada perasaan nyaman saat Widya menatap mata cokelat itu.

Tanpa sadar, mereka sudah sampai di sebuah rest area. Tempat ini dijadikan titik temu oleh seseorang yang akan menjemput mereka. Selang tidak beberapa lama, sebuah mobil hitam mendekat. Dari dalam mobil, keluar seorang lelaki muda dengan setelan rapi.

"Mas Ilham," panggil Ayu.

Lelaki itu pun mendekat dan melemparkan senyum pada mereka.

"Sudah lama nunggu?" tanyanya ramah. Dari penamopilannya, sepertinya Mas Ilham berusia antara 34 atau 35 tahun. Garis wajahnya tampak tegas, dan lekuk bibirnya nyaris sama persis seperti milik Ayu. Sekarang Widya tahu, seperti apa Mas Ilham yang sering Ayu ceritakan.

Mas Ilhamlah yang membantu mereka untuk mendapatkan izin kepada Kepala Desa setempat agar bisa melaksanakan kegiatan di desa ini. Tanpa basa-basi, Mas Ilham menjabat tangan semua orang lalu meminta semua mengikutinya. Sebelum masuk ke dalam mobil mereka terlebih dahulu memindahkan perbekalan mereka dan kemudian berangkat.

Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Mobil Mas Ilham menyusuri jalan beraspal yang di kiri-kanannya adalah hutan belantara. Setelah cukup lama berkendara, akhirnya mereka sampai di sekitar gerbang selatan. Ada sebuah gapura yang tertutup oleh rimbunnya tanaman liar.

Beberapa orang yang menggunakan motor pun mendekat. "Pak Ilham," sapa salah satu pria yang mengendarai motor itu.

"Pak Aryo, dimana pak Prabu?" tanya Mas Ilham, melihat satu per satu pemotor itu.

"Pak Prabu tidak enak badan. Beliau berpesan kepada kami agar menyampaikannya kepada Anda, Pak. Apa ini anak-anak kuliahannya?" tanya pria berkulit sawo matang itu, seorang pria yang diperkenalkan Mas Ilham sebagai orang yang akan mengantar ke desanya. Jalan menuju desa itu memang tidak dapat dilalui oleh mobil akibat sulitnya medan dan akses jalan yang belum ada. Maka dari itu Mas Ilham meminta warga yang memiliki motor untuk menjemput.

"Oh, begitu," kata Mas Ilham. "Ya sudah, ayo, keluarkan perbekalannya, lalu kalian bisa ikut bapak-bapak ini ke desa mereka."

Mendegarkan itu, semua anak-anak segera bergegas. Widya mendapat tumpangan seorang lelaki paruh baya yang memperkenalkan dirinya dengan nama Waryan. Ia sangat ramah, bahkan membantu Widya untuk naik ke atas motor.

"Jancuk, numpak sepeda tah iki?" (sial, naik motor ya ini) kata Wahyu yang memancing tatapan sengit semua anak-anak yang mendengar ucapannya.

Mungkin aneh, tetapi, Widya sempat mengamati perubahan wajah pada semua pemotor yang merupakan warga desa itu. Tatapan mereka berubah, semacam jengkel dengan ucapan atau kalimat Wahyu yang memang terdengar aneh, terlebih di Jawa bagian timur seperti ini. Kalimat itu seperti sebuah penghinaan, meski di tempat Wahyu tinggal, kalimat itu terdengar biasa saja, tetap saja Widya dan anak-anak lain merasa tidak enak.

Ayu yang kemudian mencoba mencairkan suasana, sehingga mimik wajah warga desa itu, kembali tenang. Ayu benar-benar tahu cara mengambil hati warga desa sana, tidak salah, bila dulu, saat Ayu mengajaknya bergabung dalam projek KKN ini, Widya langsung menerimanya.

"Masuk ke hutan ya, Pak?" tanya Widya, setelah ia berhasil duduk di atas jok motor tua itu. Suara mesin motor mulai terdengar kerontong, sedikit membuat was-was, apakah motor itu tidak apa-apa mengingat ia sendiri mendengar bahwa akses jalannya saja seperti tidak layak untuk motor seperti ini.

Dengan ramah, Pak Waryan mengatakan, "Iya, masuk ke hutan, palingan cuma sekitar tiga puluh menitan," kata beliau dengan nada ramah, "Mbaknya gak usah takut, motor ini sudah teruji kok," lanjut beliau sembari tertawa. Mungkin Pak Waryan bisa melihat ekspresi gelisah Widya selama duduk di atas jok motor.

Tiga puluh menit, batin Widya. Itu bukan waktu yang sebentar sih. Sejauh apa memang desanya dari jalan utama ini?

Motor yang mengangkut Ayu mulai berjalan lebih dulu, setelah berpamitan dengan Mas Ilham yang melambaikan tangan, seakan bangga melihat adiknya. Sorot matanya benar-benar menyiratkan kebanggaan pada sang adik, juga rasa sayang kakak kepada adiknya.

Yang lain segera mengikuti, tak terkecuali motor yang mengangkut Widya. Perjalanan menuju desa pun dimulai. (BERSAMBUNG)...

Tak Sampai Tujuan! Ibu Ini Harus Melahirkan Di Pinggir Jalan, Ini Faktanya

Tak Sampai Tujuan! Ibu Ini Harus Melahirkan Di Pinggir Jalan, Ini Faktanya

INIKECE - Nasib membuatnya harus melahirkan di pinggir jalan, karena tidak sampai tujuan ke rumah sakit untk bersalin. Seorang ibu rumah tangga, warga Gunung Singkup, Dusun Desa, Desa Bojongkondang, Kec Langkaplancar, Kab Pengandaran, Jawa Barat.

Diketahui nama dari ibu yang lahiran anaknya di pinggir jalan ini bernama Yati (28), ia berhasil melahirkan bayi berjenis kelamin perempuan dengan berat 3.8 kilogram di tepi jalan rusak desa.

Ia terpaksa melakukan proses lahiran di pinggir jalan di karena jalan yang sangat rusak dan perut yang sudah terasa sangat mulas tak tertahan. Tidak hanya itu, akses jalan rumahnya ke pos kesehatan desa (Poskesdes) cukup jauh sekitar 5 kilometer.

Pada saat ingin menuju pos kesehatan, Yati menggunakan sepeda motor bersama suaminya yang telah menempuh perjalanan 1,5 kilometer. Tetapi keadaan perut yang sudah mulas tidak tertahan, Yati terpaksa berhenti melanjutkan perjalanan.

Pada saat berhenti, ada beberapa warga yang sedang melintas melihat Yati yang sudah ingin melahirkan ikut membantu, dan salah satu seorang ibu membantu Yati dalam proses persalinan dengan menutup lokasi persalinan dengan kain seadanya.

Ketika posisi bayi sudah keluar, Dukun beranak tiba di lokasi. Selain itu, bidan desa yang dikabari warga datang untuk membantu persalinan.

Setelah melahirkan, Yati pun ditandu ke rumahnya dengan menggunakan tandu yang dibuat dari sarung yang dipasangi bambu untuk menopang tubuhnya.


Berikut ini kisah Yati yang melahirkan di tepi jalan rusak dan ditandu dengan kain sarung :

1. Yati Merasa Mulas

Kepala Puskesmas Langkaplancar Yana Taryana mengatakan, kejadian Yati melahirkan di tepi jalan berawal pada Jumat subuh saat Yati sudah merasa mulas.

Saat menggunakan sepada motor bersama suaminya hendak menuju ke Poskesdes, Yati sudah merasa mulas. Saat itu, Dukun beranak beserta sanak keluarganya tak mengikuti Yati.

"(Keluarga) memutuskan bersama paraji (dukun beranak), (Yati) dibawa ke Poskesdes (pos kesehatan desa)," ujarnya.

2. Kondisi Jalan Rusak

Yati bersama suami menggunakan sepada motor menuju Poskodes yang terletak di dusun yang tak jauh dari dusunya. Baru berjalan sekitar 1,5 kilometer, mulas yang dialami Yati semakin hebat.

Sampai-sampai suami tak tega melanjutkan perjalanan lantaran kondisi jalan rusak. Sang suami kemudian menggendong Yati rebah di rerumputan tepi jalan.

"Jarak rumah Bu Yati ke poskesdes 5 kilometer. Dia sudah menempuh perjalanan dari rumah ke lokasi lahiran 1,5 kilometer. Dibawa ke poskesdes kasihan (lebih jauh)," katanya.

3. Dibantu Warga Untuk Melahirkan

Melihat istrinya yang sudah berteriak-teriak ingin melahirkan, sang suami pun kebingunan karena tak tahu apa yang harus dilakukan. Di mana saat itu, Dukun beranak dan keluarganya tak mengikuti Yati dan sang suami.

Sebab, mereka sedang menyiapkan tempat di rumah Yati untuk sang bayi ketika sudah lahir. Tiba-tiba, ada seorang ibu yang melintas di jalan itu. Ia kemudian turut membantu menenangkan Yati. Akhirnya, dengan bantuan ibu-ibu yang tak dikenalnya, Yati menjalani proses persalinan di tepi jalan rusak tersebut.

Beruntung, Dukun beranak tiba di lokasi. Selain itu, bidan desa yang dikabari warga juga datang untuk membantu proses persalinan.

"(Tapi, setelah mereka datang), posisi bayi sudah di luar," ujar Yana.

Dukun beranak dan bidan desa pun hanya kebagian tugas memotong talu pusar sang bayi.

4. Miliki Riwayat Mudah Bersalin

Yana mengatakan, Yati memang memiliki riwayat mudah bersalin. Anak pertamanya pun lahir dengan proses persalinan yang mudah.

"Riwayat anak pertamanya juga begitu, tak lama setelah mulas langsung keluar. Mudah bersalin," jelas Yana.

5. Ditandu Dengan Kain Sarung

Usai melahirkan di pinggir jalan, Yati (28), pulang ke rumahnya, hal ini diputuskan keluarga mengingat lokasi lahiran dekat dengan rumah ketimbang harus ke poskesdes.

Yati dibawa ke rumah dengan cara ditandu. Tandunya pun sedeharna, terbuat dari sarung yang dipasangi bambu di atasnya untuk menopang tubuh Yati.

"Ambulans sebenarnya siap siaga. Hanya posisinya ada di puskesmas, di pokesdes tidak ada ambulans. Jarak lokasi ke puskesmas sekitar 10 kilometer, cukup jauh," ujar Yana.

Waktu Yang Tersisa - Cerpen

Waktu Yang Tersisa - Cerpen

INIKECE - Namaku Shinta Permata Sari. Orang biasa memanggilku Shinta. Terlahir dari keluar yang cukup berada dengan penghasilan yang bisa dibilang cukup, membuat aku merasa tak pernah berkekurangan. Semua kebutuhanku selalu terpenuhi.

Aku juga memiliki saudara tetapi bukan sedarah. Namanya Tini, dia adalah gadis kecil yang diadopsi oleh papa dan mama dari sebuah panti asuhan setahun sebelum aku dilahirkan.

Dari mana asalnya, aku tak tahu karena memang aku tak pernah bertanya atau mencari tahu tentang keluarganya.

Walaupun kami bukan sedarah, tetapi kami selalu seperti sedarah. Tini adalah kakak yang baik dan bijaksana. Ya, semuanya itu mungkin karena setiap kebutuhan kami selalu dipenuhi sehingga kami tidak pernah merasa iri satu dengan yang lainnya.

Namun kekayaan dan harta benda yang kami miliki tidak menjamin terpenuhnya semua kebutuhan yang lainnya. Saat aku berusia 17 tahun, aku mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku. Aku dibawa ke rumah sakit dan mendapat perawatan selama sebulan.

Selama sebulan itu juga aku tak sadarkan diri. Untunglah dewi fortune masih berada di pihakku. Aku masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan kehidupanku di dunia ini.

Semenjak kecelakaan itu terjadi, keluargaku berubah secara drastis. Keluargaku bukan lagi keluarga yang harmonis seperti yang terjadi sebelumnya.

Hal ini terlihat jelas dalam diri papa. Dia menjelma menjadi sosok yang asing bagiku dalam keluargaku. Aku tidak lagi mendapatkan kasih sayangnya karena dia mulai menjauh dariku.

Bahkan dia tidak peduli lagi dengan semua kebutuhanku dan juga masa depanku. Aku tak tahu alasan di balik semuanya itu, namun satu hal yang pasti bahwa sejak kecelakaan itu terjadi, papa menjadi orang yang asing bagiku.

Sementara itu, mama dan Tini tetap menjadi sosok yang selalu menyayangiku. Mama selalu mencurahkan kasih sayangnya kepadaku meskipun seringkali pipinya menjadi tempat daratan tangan papa.

Dia selalu memberiku semangat agar aku tetap kuat dan tetap tersenyum menghadapi semuanya. Aku pernah mencoba bertanya tentang papa kepadanya, namun hanya air mata yang bisa diberikannya kepadaku sebagai jawabannya.

Kata-kata yang selalu ia berikan kepadaku, kamu harus tetap semangat, jangan memikirkan mama, mama tidak apa-apa.

Sikap yang kontras antara papa dan mama menghantarkanku pada pertanyaan tentang siapakah diriku yang sebenarnya.

Senada dengan pertanyaan itu, aku pun menjadi pribadi yang munafik. Aku selalu tersenyum tatkala aku bergabung dengan teman-temanku. Aku selalu menunjukkan senyumanku kepada mereka seolah tak ada beban yang harus kutanggung dalam kehidupanku.

Namun, sebenarnya jauh di dalam lubuk hatiku tergores luka yang kian menganga. Aku juga terkadang merasa iri dengan cerita mereka, tatkala mereka menghabiskan waktu bersama keluarga mereka. Tanpa terasa, air mataku bercucuran membayangi semuanya itu.

Setahun setelah menyelesaikan kuliah, aku mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah tempat yang membutuhkan keahlianku.

Daerah itu cukup jauh dari rumah. Aku meniti karirku di tempat yang asing dan di antara orang asing. Aku tahu betapa sulitnya beradaptasi dengan orang-orang asing, cara membangun komunikasi yang baik dengan mereka, menjadi bagian dari kebudayaan mereka dan banyak hal lain lagi yang harus aku lalui. Namun aku berpikir bahwa itulah konsekuensi dari jalan hidup yang aku tempuh.

Di luar dugaanku, ternyata membangun persaudaraan di tempat yang asing tidak sesulit yang aku pikirkan. Tiga bulan pertama aku sudah diterima sebagai anggota keluarga yang baru dalam lingkungan tempat tinggalku.

Mereka menganggap aku sebagai bagian dari keluarga mereka. Senyuman dan ramah tama mereka berhasil menjawab keraguanku bahkan juga prasangkaku yang sedikit negatif tentang mereka.

Pada saat itu juga aku berkenalan dengan Nikho, pria yang menjadi pendamping hidupku. Dia adalah pria yang beradal dari daerah yang cukup jauh dari tempat itu dan setahun mendahuluiku mengabdi di daerah itu sebagai gutu sekolah menengah atas.

Empat tahun terpisah dari keluarga sungguh menggoreskan rindu dalam hatiku. Walaupun papa belum kembali seperti dulu, namun aku tetap yakin bahwa di dalam lubuk hatinya, dia masih merindukan diriku.

Aku juga merindukan canda ria yang pernah kulewati bersama mama dan Tini. Tentunya mereka sangat merindukan cerita tentang pengalamanku membangun hidup di tempat yang asing.

Aku memutuskan untuk mengambil cuti dari pekerjaanku. Rindu yang kumiliki terlampau berat sehingga aku memutuskan untuk sejenak kembali kepada pangkuan mama. Aku ingin menceritakan semua pengalaman baru yang aku dapatkan di luar rumah dan juga tentang Nikho, pria pengusir sepiku.

Perasaan rindu itu seakan sirnah tatkalah aku mendapatkan kenyataan piluh di balik dinding rumahku. "Itu kubur siapa, Ma?" tanyaku.

"Itu kubur dari almarhum ayahmu, Nak. Kami kecelakaan ketika kami hendak mengunjungimu. Papamu sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan besar dengan berlaku kasar terhadap kamu. Malangnya, Sang Pencipta terlalu cepat mengambilnya sehingga dia tak dapat menemuimu," jelas mama.

Kenyataan yang begitu pahit. Aku merasa bahwa aku belum sempat mengucapkan terima kasihku kepada papa yang telah menghadirkanku di dunia ini. Aku juga belum sempat menceritakan pengalaman hidupku yang baru serta menunjukkan teman dekatku kepadanya.

Setelah waktu cuti selesai, aku kembali ke tempat kerjaku. Dengan berat hati aku melangkah meninggalkan rumah karena aku harus meninggalkan mama dengan Tini dalam perasaan kehilangan. Aku tahu mama pasti merasa sepi, mama pasti merindukan diriku, tetapi aku juga harus membangun masa depanku dengan meniti karirku.

Kedekatan antara aku dan Nikho mencapai puncaknya ketika dia mengutarakan semua isi hatinya kepadaku. Bahkan saat itu juga dia melamarku untuk menjadi pendamping hidupnya. Aku menerima lamarannya dan mulai saat itu kami menjalin hubungan asmara.

Aku memberitahukan mama dan Tini tentang kebahagiaanku dan mereka memberi respon yang positif kepadaku. Mungkin mereka setuju dan ikut bahagia dengan pilihanku, pikirku.

Suatu hari ketika aku baru saja pulang dari kantor, aku mendapat kabar dari Tini bahwa mama sedang sakit. Dia berpesan agar aku harus pulang secepatnya demi mama. Tanpa berpikir panjang aku kembali mengambil cuti.

Dalam perjalanan menuju rumah, aku dihadapkan dengan hal yang aneh. Dari balik kaca mobil, aku menatap sosok mama yang memberikan senyuman kepadaku serta melambaikan tangannya seakan mengatakan, selamat tinggal anakku.

Perasaanku tak karuan. Tanpa sadar air mataku jatuh. Benar saja, sesampainya di rumah aku kembali mendapatkan kenyataan yang pahit. Mama telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Mungkinkah senyuman dan lambaian itu menjadi wajah terakhir mama yang ia tunjukkan kepadaku?

Setelah kepergian mama, aku seringkali merasa sakit pada beberapa bagian tubuhku. Aku mencoba untuk mengecek kondisiku di dokter spesialis penyakit dalam dan dari hasil pemeriksaan, aku mendapatkan luka yang baru lagi.

Ginjal yang kumiliki kini tidak lagi cocok denganku. Lebih menyakitkan lagi bahwa aku pernah mendapatkan donor ginjal dan kini tidak cocok lagi denganku. Donor ginjal? Kapan? Mengapa aku tak pernah tahu hal ini?

Aku mulai mencari kebenaran yang tidak aku ketahui. Dalam pencarian itu aku menemukan jawabanya dari Tini. Setelah kecelakaan itu, aku dibawa ke rumah sakit. Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa aku gagal ginjal dan harus segera mendapatkan donor.

Papa dan mama bingung untuk mencari ginjal yang cocok untuku. Karena keadaan yang mendesak, dengan rela papa memberikan ginjalnya kepadaku walaupun dia tahu akibat dari keputusannya itu. Benar saja, setelah pendonoran itu, papa berubah menjadi sosok yang asing bagiku dan keluargaku, jelas Tini kepadaku.

Setelah kepergian kedua orang tuaku, aku memutuskan untuk berpindah tugas demi menjaga rumah dan semua yang papa dan mama tinggalkan untukku. Aku meninggakan tempat kerjaku dan kembali ke kampung halaman tempat dulu aku dibesarkan.

Hari berganti, bulan berlalu. Dengan keputusan yang matang, aku dan Nikho memutuskan untuk menyatukan cinta kami dalam sakramen perkawinan.

Walaupun aku hanya ditemani oleh Tini, aku tetap merasa bahagia. Aku tahu, dari alam sana papa dan mama ikut bahagia melihat pernikahanku.

Walaupun sudah menikah, aku tetap merahasiakan penyakitku kepada suamiku. Aku tidak memberitahukannya karena aku takut hal itu hanya menjadi beban dalam kehidupannya.

Walaupun terkadang aku merasa letih, namun aku menyembunyikan semuanya itu di balik senyumku. Aku berlaku seolah aku baik-baik saja, tidak ada yang terjadi padaku.

Empat tahun setelah menikah, kami dikareuiai seorang putra. Kami menamai buah hati kami Andri. Kebahagiaan kami tentu saja terasa sempurna. Aku sungguh merasakan bahagia karena di tengah penyakit yang melanda tubuhku, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk tersenyum dengan menitipkan buah hati kami melalui kandunganku.

Sebagai karyawan tentunya suamiku sering pulang malam dari kantornya. Sering juga dia meninggalkanku dan juga buah hati kami karena ahrus menghadiri urusan penting perusahaan di luar daerah. Dia sering menjadi utusan dari perusahannya untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan lainnya atau dalam urusan lainnya.

Sautu hari, ketika suamiku bertugas ke luar daerah, aku mengajak anakku menghabiskan akhir pekan kami di pantai yang dulu sering aku dan suamiku berkunjung. Aku sengaja mengajak anakku karena aku ingin kembali mengingat masa-masa di mana Nikho mengutarakan perasaannya kepadaku.

Aku tersentak ketika melihat sosok yang berdiri di depanku. Dia bukanlah orang yang asing dalam hidupku. Apakah itu benar suamiku? Tapi siapakah wanita di sampingya? Apakah itu selingkuhannya? Apakah selama ini dia telah menghianatiku?

Aku kembali dengan perasaan tak karuan. Ternyata selama ini suamiku telah menghianatiku, batinku.

Deraian air mata terus membahasi pipiku. Aku tak lagi menghubunginya atau mengirim kabar kepadanya. Aku tak memberikan kabar kepadanya meskipun begitu banyak pesan yang muncul darinya di balik layar chellphoneku.

Seminggu setelah kejadian itu, aku dikunjungi oleh teman-teman kantor suamiku. Mereka membawakan beberapa bunga dan juga sebuah foto dari suamiku.

Aku bingun dengan kehadiran mereka. Sesaat kemudian salah satu teman suamiku menceritakan kisah yang sebenarnya yang terjadi dengan suamiku.

Aku menangis mendengar semua cerita itu. Selama ini, suamiku menyembunyikan penyakitnya dariku. Selama ini dia pergi ke luar daerah hanya untuk mengobati penyakitnya. Dan seminggu yang lalu adalah perjumpaan kami yang terakhir. Tapi mengapa dia tidak menceritakan yang sebenarnya kepadaku? Megapa dia harus berbohong kepadaku?

Setelah kepergian suamiku, kehidupanku tak teratur lagi. Aku selalu keluar malam untuk mencari hiburan yang dibawa pergi oleh suamiku. Aku tak peduli lagi dengan hadiah terindah yang dia tinggalkan padaku yakni putra kami.

Bagiku kepergian darinya adalah kehilangan segalanya dalam kehidupanku. Aku menjadi kupu-kupu malam dan bergabung dengan beberapa temanku. Disana aku menyerahkan seluruh tubuhku kepada orang yang tak aku kenal. Di sana aku mereguk alkohol hingga aku tak sadarkan diri.


Suatu malam sebuah kejadian aneh menimpaku. Ketika aku menyelesaikan tugasku malam itu sebagai seorang pramuria, di tengah perjalanan pulang aku menatap seseorang wanita yang mirip denganku. Mungkinkah dia kembaranku?

Aku coba bertanya-tanya. Seketika itu juga aku menyaksikan runtuhnya bangunan yang ada di sekitarku. Deruan suara kendaraan makin lama makin mengecil hingga semuanya hilang dariku. Aku ditarik oleh sebuah kekuatan besar yang membawaku kepada sebuah situasi yang tak pernah aku alami.

Aku menatap ribuan orang yang bertekun dalam panasnya api yang bernyala-nyala. Mereka mendaraskan doa yang pernah aku dengar dan aku ucapakan sebelumnya. Mereka sepertinya menanti sebuah pembebasan dari api yang terus menyala-nyala.

Lalu aku di bawa kepada situasi lainnya. Disana aku melihat kebahagiaan yang berlimpah. Terdengar canda dan tawa dari ribuan orang yang ada disana. Mereka sangat menikmatinya. Tidak ada penderitaan disana.

Sesaat kemudian aku kembali dalam kesendirian. Semuanya menghilang dari padaku.

"Apakah kamu mengerti semuanya?" Sebuah suara muncul, entah dari mana datangnya aku tak ahu.

"Aku telah memberikanmu kesempatan untuk berada di dunia sebelum engkau ada di sana. Aku menyiapkan sebuah rencana untuk kehidupanmu dan masa depanmu tetapi engkau menjauh dari jalan yang telah aku siapkan untukmu. Bahkan engkau tak menghargai tubuhmu yang aku titipkan kepadamu agar engkau mampu mengenal aku sebagai penciptamu." lanjutnya.

Keheningan kembali menguasai kami.

"Sekarang pulanglah, seseorang menunggumu di sana. Dia sangat membutuhkan kamu," lanjut suara itu dan seketika itu juga dia menghilang.

Kepalaku terasa berat. Aku tak bisa membuka mataku tetapi aku mendengar suara dari orang-orang yang berada di dekatku. Aku mencoba dna berusaha untuk membuka mataku agar aku dapat melihat semua orang yang berada di sekelilingku khususnya kembali melihat putraku.

"Mama sudah bangun?" sebuah pertanyaan muncul dari pria kecil yang berada di sampingku. Air mata berjatuhan membasahi pipinya.

"Mbak Shinta sudah sadar?" tanya Tini yang berdiri di samping putraku. Air matanya juga bercucuran membasahi pipihnya.

"Mbak Shinta, kabar baik ini harus mbak Shinta tahu bahwa secara ajaib ginjal mbak Shinta kembali normal seperti dulu. Selamat ya mbak," kata seorang dokter kepadaku.

"Ma, aku sangat merindukan mama. Aku sayang mama," kata putraku sembari memelukan tubuhku dan merebahkan kepadalnya di atas tubuhku.

Aku juga sangat menyayangimu nak, kataku dalam hati. Ibu minta maaf ya nak, ibu telah menjadi seorang ibu yang tidak bertanggung jawab.

Tak terasa air mataku berjatuhan membasahi pipihku. Air mata tentang cinta yang memberiku arti kehidupan, syukur dan kesempatan yang ada dalam kehidupanku.

Sisa Sperma Terdapat Pada Dirinya! Hubungan Dokter dan Bidan Yang Tertangkap

Sisa Sperma Terdapat Pada Dirinya! Hubungan Dokter dan Bidan Yang Tertangkap

INIKECE - Skandal yang dilakukan oleh seorang dokter dan seorang bidan ini, tertangkap basah oleh suaminya sendiri (bidan). Diketahui saat melakukan penggerebekan tersebut, diketahui dokter dan bidan telah selesai melakukan hubungan intim.

Hingga penyedilikan perzinahan terjadi terhadap dokter dan bidan RSUD Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto.

Dilakukan penyedilikan dengan menggunakan visum atau SOAP, hasil dari visum tersebut bakal melengkapi sejumlah barang bukti yang sebelumnya diamankan penyedik kepolisian dalam kasus dugaan perzinahan oknum dokter (Adi Rijana Putra) dengan bidan (Maya Ariesta Dewi).

"Hasil visum dan SOAP sudah keluar. Itu akan menjadi tambahan barang bukti sebelum kami melakukan gelar perkara untuk menentukan status tersangka dalam kasus ini," kata Kasat Reskrim Polresta Mojokerto, AKP Ade Warokka, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (4/10/2019).

Visum merupakan laporan tertulis untuk kepentingan peradilan atas permintaan yang berwenang yang dibuat oleh dokter, terhadap segala sesuatu yang dilihat dan ditemukan pada pemeriksaan barang bukti, berdasarkan sumpah pada waktu menerima jabatan, serta berdasarkan pengetahuannya yang sebaik-baiknya.

Visum biasanya dilakukan terhadap korban pemerkosaan, pencabulan serta penganiayaan. Utamanya bagi korban anak dibawah umur. Atau wanita yang masih perawan. Sementara SOAP dilakukan untuk wanita yang sudah menikah atau tidak perawan. Hal itu untuk mengetahui adanya sisa-sisa sperma dalam alat vital seorang wanita.

Sementara dari hasil SOAP yang dilakukan dokter RSUD Wahidin Sudiro Husodo, ditemukan adanya sisa sperma dalam alat viral bidan Maya. Hal itu menguatkan indikasi adanya affair di antara keduanya. Ditambah dengan sejumlah barang bukti yang ditemukan petugas saat melakukan penggeledahan pada Selasa (2/10/2019) malam.

"Iya ada sisa (sperma). Sedangkan barang bukti yang kami amankan ada sprei, sarung, bantal, rambut, kemudian sejumlah handphone milik kedua terlapor. Untuk handphone kami masih kami uji laboratorium forensik Polda Jatim," jelasnya.

Hingga saat ini, kata Werokka, unsur pidana dalam kasus dugaan perzinahan ini sudah terpenuhi. Dalam waktu dekat, polisi bakal memanggil sejumlah saksi untuk kembali dimintai keterangan. Sebelum, pihaknya memutuskan untuk melakukan gelar perkara.

"Sampai saat ini sudah ada 6 orang saksi, dan ada satu lagi saksi yang akan mintai keterangan. Ia sebagai saksi kunci. Kalau uncur pidananya sudah terpenuhi, sesuai dengan pasal 284 ayat 1 dan 2," tandasnya.


Skandal perselingkuhan yang melibatkan pegawai di RSUD Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto terbongkat. Pasca digerebeknya seorang dokter bernisial ARP saat berduaan dengan oknum bidan berinisial MAD, Selasa (1/10/2019).

Penggerebekan pasangan selingkuh itu terjadi sekira pukul 08.00 WIB. Keduanya tertangkap basah saat berduaan di dalam kamar rumah di kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Mirisnya, keduanya digerebek oleh suami MAD, yang juga anggota polisi.

Belakangan terkuat ARP (Adi Rijana Putra) merupakan dokter spesialis ortopedi yang terikat status PNS. Sedangkan MAD (Maya Ariesta Dewi) merupakan pegawai tetap BLUD. Keduanya berdinas di RSUD Wahidin Sudiro Husodo, milik Pemkot Mojokerto.

Tak hanya terancam hukuman pidana, Adi yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu berpotensi terkena sanksi disiplin pegawai. Itu sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Pada pasal 3 angka 6, disebutkan setiap PNS wajib menjunjung tinggi kehormatan negara, pemerintah, dan martabat PNS.

Ancaman sanksi juga menanti Maya. Terberat pegawai BLUD RSUD Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto itu terancam sanksi pemecatan. Hal itu tergantung dari hasil evaluasi kinerja Maya yang sudah tiga tahun ini diangkat menjadi pegawai tetap RSUD Wahidin Sudiro.

Cinta Dan Harta Menjadi Pemicu Bencana Pembunuhan, Istri Majikan Dan Sopir Terlibat Cinta Terlarang

Cinta Dan Harta Menjadi Pemicu Bencana Pembunuhan, Istri Majikan Dan Sopir Terlibat Cinta Terlarang

INIKECE - BHS alias Bayu (33), salah seorang pelaku perencanaan pembunuhan VT (42) mengaku menyesal. Ia pun menceritakan mulai kedekatan dirinya dengan istri korban berinisial YL (40), yang mana telah ia kenal sekitar setahun lamanya.

Bayu mengatakan, perkenalan dirinya dengan YL di Surabaya, sekitar akhir 2018. Kala itu, dirinya tengah menjadi penyelenggara salah satu acara di ibu kota Jawa Timur tersebut.

"Pertama kenal di pelatihan di Surabaya, saya penyelenggara event, istri korban salah satu peserta," kata Bayu saat ditemui di Mapolsek Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (3/10).

Dari perkenalkan itu, dirinya sering sekali berkomunikasi lewat media sosial. Hingga akhirnya terbawa perasaan.

Singkat cerita, Bayu akhirnya disuruh ke Jakarta oleh YL untuk bekerja di bawah komando VT yang merupakan wiraswasta di bidang teknologi informasi. Namun, sampai di Jakarta, Bayu dikerjakan sebagai sopir pribadi korban.

"Saat itu belum ada posisi apa-apa dikerjaan. Tapi suaminya sangat tertarik dengan skill dan kemampuan saya, yaudah untuk sementara waktu jadi driver, hingga saya kenal keluarga ibu dan bapak (YL dan VT)," kata Bayu.

Di Jakarta, hubungan Bayu dan YL makin erat, hingga melakukan hubungan intim. Hal ini dikarenakan keduanya mengaku merasa nyaman. "Jadi mungkin beliau nyaman dengan saya. Saya pun nyaman komunikasi dengan beliau, jadi deket seperti itu aja," ujar BHS.

Terkait pembunuhan, berawal dari adanya kecemburuan YL terhadap suaminya yang diduga berselingkuh. Selain itu, YL juga berencana menguasai harta suaminya bersama dengan Bayu. Hingga akhirnya, tercetus membunuh dengan racun sianida.

"Saya sudah beli, sudah racik. Tapi nggak jadi karena ibu (YL) takut. Akhirnya rencana lain dengan menyewa pembunuh bayaran," katanya.

Akhirnya mereka menyewa dua orang pembunuh bayaran berinisial HER dan BK. Sesuai perencanaan, eksekusi terhadap VT dilakukan 13 September lalu. Di mana kejadian itu di dalam mobil.

"Jadi ada saya, bapak, dan seorang pembunuh bayaran itu. Saya di samping bapak, bapak yang bawa mobil, dia di belakang. Seorang lagi (pembunuh bayaran) di luar. Saat itu saya minta izin karena mual. Lalu terjadi penusukan itu di leher dan perut," katanya.

Akan tetapi aksinya gagal. VT berhasil melepaskan diri dan mengemudikan mobilnya menjauhi TKP. Meskipun sudah ada tiga luka tusuk. VT pun lalu menuju ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan sebelum membuat laporan ke Mapolsek Kelapa Gading.

Tak Kalah Seru, Game Yang Siap Diluncurkan Dan Siap Dinikmati Anak Bangsa

Tak Kalah Seru, Game Yang Siap Diluncurkan Dan Siap Dinikmati Anak Bangsa

INIKECE - Tak kalah seru dan menarik dari game-game yang biasa dimainkan oleh banyak orang. Terutama di Indonesia, game yang bakal dapat dinikmati orang banyak orang terutama anak bangsa ini. Game ini wajib dicoba.

Oktober diidentikan dengan Halloween, yang jatuh pada tanggal 31. Biasanya, industri gaming merayakan hari tersebut dengan menghadirkan event bernuansa Halloween dalam game garapannya. atau merilis permainan bernuansa horor.

Contohnya publisher Aksys Games, yang bakal merilis game berjudul Ghost Parade. Yang menarik, permainan tersebut dikembangkan oleh anak-anak bangsa berbakat, yang tergabung dalam studio Lentera Nusantara!

Ghost Parade berkisah tentang anak wanita bernama Suri, yang memutuskan untuk pulang melalui Svaka Forest nan misterius, tapi akhirnya tersesat. Disana ia bertemu dengan sejumlah makhluk astral, yang tertarik dengan keberanian dan kebaiknnya.

Namun, Suri mendapati bahwa sejumlah oknum serakah berencana menghancurkan hutan, demi memenuhi ambisinya! Bekerja sama dengan rekan-rekan barunya, sang gadis berusaha untuk menyelamatkan hutan dan seluruh penghuninya.


Dengan mengusung gaya permainan metroidvania, di awal permainan Suri hanya dibekali Lentera untuk menyerang lawan. Namuun, nantinya ia bisa merekrut 30 ghost companion yang dibekali kemampuan uniknya tersendiri. Seperti menembakkan proyektil, menciptakan platform untuk berpijak, dan lain sebagainya.


Hanya tiga hantu yang dapat digunakan dalam satu waktu, tetapi melalui kombinasi yang tepat, kalian bisa membuka special skill. Dan melalui Skill Point yang dikumpulkan, kita bisa meningkatkan beragam attribute milik Suri (attack, defense), juga kekuatan para hantu.


KEY FEATURES
  • Ghost of a Chance : Bepergian sendirian sangatlah berbahaya! Namun, kalian tidak perlu khawatir berkat adanya 30 ghost companion. Gamer bisa berinteraksi dengan lebih dari 70 roh yang akan membantumu selama bertualang.
  • A Brave New World : Lampaui batas dunia yang kalian kenal, dan masuki dunia berdasarkan mitologi dan folklore Indonesia.
  • A Feast for the Eyes : Ghost Parade menawarkan seni yang indah dan desain karakter orisinal. Semua itu menyajikan visual yang kompleks dan dinamis seperti halnya cerita.


Menurut jadwaknya, Ghost Parade bakal dirilis untuk PC (via Steam), PlayStation 4, dan Nintendo Switch pada 31 Oktober mendatang. Gamer yang berminta sudah bisa melakukan pre-order melalui Aksys Games Store.

Kasus Pemerkosaan Terjadi Terhadap Dua Siswi SMP Di Berau, Oleh Tiga Teman Sekolahnya

Kasus Pemerkosaan Terjadi Terhadap Dua Siswi SMP Di Berau, Oleh Tiga Teman Sekolahnya

INIKECE - Terjadi lagi, dan terjadi lagi. Pemerkosaan terdapat dua siswi SMP di Berau di lakukan sendiri orang beberapa teman sekolahnya. Dua siswi SMP ini terlah menjadi korban dari tiga temannya sekolahnya yang terus mencokoki Miras terdapata mereka.

Kasus kedua siswi SMP ini terjadi di Tanjung Redeb, dengan insial Dd (14) dan Pr (14) diduga menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan tiga teman sekolahnya sendiri, dan diketahui ada sosok satu pria dewasa yang terlibat di dalamnya.

Permerkosaan empat pria tehadap dua siswi SMP ini telah diselidiki oleh pihak berwajib dan salah satu diantara empat pria tersebut menjadi buronan.

Dugaan pemerkosaan itu dilakukan 2 kali pada 15 September 2019 dan 22 September 2019. Dan diketahui ketiga pelabu (teman sekolah) telah berhasil ditangkap di rumah masing-masing, kemari. Sementara satu pelaku lainnya, pria dewasa dan kini masih dalam buruan pihak polisi.

Pemerkosaan ini terjadi pada saat orangtua korban Dd, tidak ada di rumah.
"Jadi awalnya, ada tetangga melapor ke orangtua korban. Waktu rumah kosong, putrinya bawa 4 temannya ke rumah. Satu diantaranya, orang dewasa," kata Kasat Reskrim Polres Berau AKP Rengga Puspo Saputro, kepada wartawan di Tanjung Redeb, Selasa (1/10).

Usai mendapatkan laporan tetangga, orangtua korban kaget bukan kepalang. Dia lantas menginterogasi putrinya. Akhirnya putrinya mengaku telah diperlakukan tidak senonoh temannya.

KUNJUNGI

"Setelah orangtuanya kroscek ke anaknya, benar terjadi persetubuhan anak di bawah umur," ujar Rengga.

Sebelum perkosaan itu terjadi, diketahui empat pelaku ini membawa miras. Korban dicekoki miras campuran beralkohol tinggi.

"Korban tidak sadarkan diri. Ada satu korban disetubuhi satu pelaku, dan korban lain disetubuhi 3 pelaku. Dari 4 pelaku, 3 pelajar usia 14-15 tahun dan 1 orang dewasa. Pelaku dewasa ini sedang kami cari, masuk DPO," terang Rengga.

Polisi menyita barang bukti pakaian korban, handuk dan juga hasil visum media rumah sakit. "Kita kenakan pasal 81 ayat 2 Undang-undang Perlindungan Anak, dengan ancaman 10 tahun penjara," ucap Rengga.

Cerita Remaja! Mata Tanpa Raga

Cerita Remaja! Mata Tanpa Raga

INIKECE - "Aku dapat melihat kalian, tetapi tak semua dari kalian dapat melihatku. Kalian dapat merasakan dikhianati, benci, cinta dan kasih sayang dari semua orang, tetapi tidak denganku. Sampai suatau waktu, kutemukan dia yang dapat melihatku dan berbagi rasa itu denganku."

***

Mataku terbuka dan mendapati pantulan diriku tergantung di jendela kamarku. Aku? Tergantung? Apa yang sedang aku lakukan? Kulihat kembali dengan saksama pantulan diriku. Sarung guling terikat pada leherku dan tepat di bawah ragaku terdapat kursi lipat yang sudah tak berdiri lagi. Tak lama kemudian, aku mendengar ketukan pintu dari luar sambil menyuarakan namaku.

"Baskara! Mas Baskara! Ada apa?" Teriak bundaku.

Semua terjadi begitu cepat. Ayahku seketika mendobrak pintu kamar dan terdiam memegang bunda yang menangis histeris melihat diriku. Kucoba meraih bunda dan ayah, namun apalah daya. Tak bisa. Kucoba sekali lagi, tetap tidak bisa. Segera aku berlari melihat pantulan diriku dalam cermin, tidak kusangka tak terdapat diriku di dalamnya. Iya, aku adalah jiwa tanpa raga.

***

Tak lama setelah kepergianku, ayah dan bunda memutuskan untuk menjual rumah yang kami tempati selama beberapa tahun terakhir. Rumah ini tidak begitu besar, hanya terdapat ruang tamu yang disambung dengan ruangan tengah, dapur dan ruang makan, 3 kamar tidur, kamar utama yang ditempati ayah dan bunda, satu kamar tidur untukku, dan sisanya untuk kamar tamu, serta 2 kamar mandi.

"Ayah merasa rumah ini sudah terlalu luas bagi kita. Kita bisa pindah ke tempat yang lebih kecil lagi ya, bunda."

Beberapa hari setelah kepergianku, memang terasa sangat sepi dan dingin di rumah kami. Ayah dan bunda hanya memiliki aku sebagai anak semata wayangnya. Aku memahami alasan di balik menjual rumah ini, yaitu demi kebaikan mereka untuk terus melanjutkan hidup tanpaku. Tak selang lama, rumah kami terjual kepada seseorang yang kuketahui kemudian bernama Pak Dakra.

Saat Pak Dakra berkunjung untuk melihat rumahku, ia mengajak seseorang yang bisa kutakan sebagai istri Pak Dakra dan perempuan yang sepertinya berusia 16 tahun, seusaiku, dipanggilnya Kinan.

Kuamati dengan saksama Kinan. Gadis tinggi, berambut panjang sebahu yang tergerai indah, dan berparas manis menurutku. Ketiga orang tersebut menampilkan wajah sangat gembira saat berkeliling rumahku. Dilihatnya setiap sudut ruang, kamar, dan tak lupa halaman belakang yang penuh tanaman milik bundaku. Rupanya bunda memang sengaja meninggalkan koleksi tanaman anggreknya untuk menghiasi halaman ini.

Kulihat Kinan kembali masuk ke dalam rumah. Ia berkeliling di dalam rumah untuk kedua kalinya, dan berhenti di depan pintu kamarku.

"Ma, ini kamarnya buat Kinan ya," serunya kepada mamanya yang berada di kamar utama.

"Iya nak, jadi kamar satunya untuk kamar tamu ya." kata mamanya memastikan.

Kuikuti Kinan yang mulai masuk dan berkeliling di kamarku. Diperhatikan olehnya setiap detail yang ada disana. Sudah tidak ada barang apapun yang ditinggalkan ayah dan bunda, yang ada hanyalah kamar kosong dan jendela tanpa tirai yang menampakkan cahaya matahari.

"Baik, jadi nanti di pojok sana untuk lemari, sedangkan di sana untuk meja belajar, Oh ya, kaca jangan sampai ketinggalan. Hmm, lemari buku diletakkan dekat meja belajar mungkin ya," ucapnya sambil menunjuk ke sgala arah yang ada dikamarku.

Kulihat ia melihat ke arah jendela. Didekatinya jendela itu dan dipegangnya kusen kayu jendela itu.

"Kamu pasti sudah melewati masa-masa yang susah ya," ucapnya sambil menatap ke arahku.

Iya, menatapku. Namun, kupikir hanyalah sebuah kebetulan karena aku sedang berdiri di samping jendela dan sedang menatapnya.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi bukankah itu salah jika kamu berhenti berjuang?" ucapnya kembali sembari mendekatku.

Apakah dia bisa melihatku? Segera kemudian aku mengambil langkah untuk berpindah tempat menjauhinya, namun terhenti saat dia mengatakan, "Hai, kamu terkejut karena aku bisa melihatmu?"

***

Aku masih menatap Kinan tidak percaya. Bagaimana bisa gadis ini melihatku? Kuamati arah matanya lebih dalam. Dan ia pun tertawa Ah, rupanya dia hanya bermain-main. Jadi, kulanjutkan langkahku untuk menjauh dari jendela.

"Kamu kira aku nggak bisa melihatmu ya? Kenapa pergi?" tanyanya sambil memutar seluruh badannya untuk melihat ke arahku.

"Tunggu. Kamu benar-benar bisa melihatku?" tanyaku memberanikan diri.

"Iya. Bahkan dari tadi saat aku datang, sudah lihat kamu. Tapi kamu diam saja," jelasnya sambil mendekatkan diri ke arahku.

Tentu aku terkejut dan membuatku mundur hingga ke arah dinding kamar, yang tentu saja bisa aku tembus tanpa mengkhawatirkan jiwaku.

"Haha, Lucu deh kamu. Harusnya aku yang takut sama kamu. Kok jadi kamu yang takut." katanya sembari tertawa menjauhkan diri dariku.

"Kamu bisa dengar suaraku juga?" tanyaku dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa dia mendengar? Bukankah suaraku sangat lirih untuk didengar manusia sepertinya?

"Tentu saja bisa. Tapi mama sama papa tidak bisa. Kurasa hanya aku yang bisa mendengar suaramu," jawabanya sambil membuka pintu dan berjalan keluar dari kamarku.

Bagaimana bisa? tanyaku dalam diri. Kuikuti langkahnya menuju halaman depan menyambut truk pindahan yang Pak Dakra sewa utnuk mengangkat perabotan miliknya.

"Ma, Pa. Truknya sudah datang!" serunya sambil berlari ke arah truk yang sedang terparkir itu.

Pak Dakra dan istrinya segera keluar dan mulai mengatur letak perabotannya untuk menghiasi rumahku.

***

Tiga jam kemudian, kamarku telah berubah menjadi kamar yang sangat bernuansa 'gadis'. Sebelumnya, saat masih bersama ragaku, kamar ini memang tidak banyak pernak-prenik atau pun perabotan. Tetapi berbeda saat Kinan mulai mendekorasi kamarku. 

Senang melihat kamarku berwarna dan penuh pernak-pernik, meskipun di sisi lain tentu ini bukanlah karakterku. Tidak masalah, karena ini kamar Kinan sekarang. Aku berdiri di sebelah meja belajar yang menghadap langsung ke jendela. Kulemparkan pandangan pada isi kamarku dan beralih memandang jendela yang menampilkan halaman depan yang penuh dengan rumput sintetis yang dipesan oleh ibu kala itu.

Jendela kamarku bisa diaktakan sangat tinggi, memenuhi satu sisi dinding kamarku, dan di antara jendela itu terdapat besi-besi yang menghubungkan sisi kanan dengan sisi kiri kusen jendela, serta sisi atas dan bawahnya. Jendela ini memang menjadi tempat favoritku untuk merenung, baik ketika masih bersama ragaku ataupun sekarang tanpanya.

"Sedang apa?" tanya Kinan mengejutkanku.

Rupanya dia sudah selesai makan siang di ruang makan bersama keluarganya.

"Lihat-lihat aja." kataku menatap jendela.

"Mungkin karena kita belum berkenalan dengan baik. Jadi canggung. Kinan," katanya sambil mengelurkan tanganya.

Tentu kau tidak bisa menggenggam tanganku.

"Hmm.. Kurasa kamu tidak bisa genggam tanganku deh," kataku dengan sopan tetap mengelurkan tanganku menyambut tangannya.

"Memang. Tapi tak apa. Biar lebih sopan. Kamu makhluk yang paling ramah di antara yang lain," katanya sambil duduk di atas kasur ukuran queen size yang berada di belakang meja belajarnya.

Sedangkan aku masih belum beralih dari tempatku berada.

"Jadi, kamu memang bisa lihat makhluk sepertiku?" tanyaku membuka percakapan.

"Hmm. Nggak semuanya sih. Beberapa, tetapi ya kalau dianya ramah pasti aku ajak ngobrol," jawabnya sambil memainkan telepon genggamnya.

"Eh siapa nama kamu? tanyanya sebelum aku bertanya lagi,

"Baskara. Baskara Adhi Wardhana," jawabku dan mulai berlarih untuk duduk di sampingnya.

Kulihat dia mulai membuka aplikasi instagram dan mulai mengetikkan namaku.

"Ini bukan nama instagram kamu? Baskaradhi?" tanyanya sambil menunjukkan layar telepon genggamnya padaku.

"Hahaha, Millennial. Benar itu."

"Kamu masih kelas 2 SMA? ini foto masih tahun ini. Kita seumuran?" tanyanya sambil tetap menatap fotoku pada layar handphoenya.

"Kalau kamu umur 16 tahun sekarang, maka iya, kita seumuran."

"Maka kita seumuran, apa yang terjadi padamu?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Haha. Rahasia, lebih baik kamu yang bercerita, bagaimana kamu bisa kemari?"

***

Matahari semakin turun ke arah barat dan menampilkan cahaya jingga yang indah untuk dilihat mata. Sinar itu pun sampai ke arah jendela kamarku dan membuat Kinan terkagum.

"Aku pilih kamar ini tadi karena jendela ini." katanya sambil berdiri, sengaja membuat wajahnya berpantulan dengan cahaya jingga itu.

Saat melihatnya, dia terlihat sangat menarik. Entah kata apa yang tepat untuk menggambarkannya. Cantik? Manis? Entah, yang jelas sangat indah untuk dikagumi.

"Asal kamu tahu, kamar ini, dulunya, adalah milikku," jelasku.

"Bagus. Kamu tidak salah memilih kamar ini. Sangat sempurna." Dia tetap tidak berpaling.

"Saat rumah ini dibangun, usiaku 12 tahun. Ayahku memberikan kebebasan padaku untuk menata kamarku. Mulai dari hal kecil seperti perabotan ataupun ya, seperti jendela ini."

"Aku suka jendela ini. Saat bahagia ataupun sedih bisa menenangkan diri hanya dengan cara memandangi halaman luar melalui jendela ini," katanya sambil berputar kembali duduk di atas kasurnya.

Sebelumnya, ia bercerita mengenai perjalanan hidupnya, yaitu sering berpindah-pindah rumah karena pekerjaan ayahnya yang mengharuskan berpindah. Pak Dakra adalah seorang manajer di suatu bank ternama dan sering kali mendapatkan perindah untuk bekerja di luar kota.

"Capek tau, Bas. Pindah-pindah," keluhnya sambil memeluk boneks beruang Brown miliknya.

"Pindah ke mana aja emang?" tanyaku.

"Jadi dulu aku di Jakarta sampai umurku 5 tahun, terus pindah ke Semarang, lalu ke Batam. Kemudian kembali ke Jakarta selama 2 tahun. Sekarang mungkin berakhir di sini deh," jelasnya sambil menggelengkan kepala.

"Kenapa tidak menetap di Jakarta?"

"Mama nggak mau. Ya tapi ayah juga gak mau sih. Aku juga. Haha," jawabnya sambil menertawakan dirinya sendiri.

"Aku aja di Surabaya terus dari lahir sampai sekarang."

"Ya enak lah. Asal kamu tahu, capek tahu beres beres. Masukin barang ke kardus. Nanti kan juga dibongkar. Jadi kdang suka susah gitu deh," katanya dan melemparkan badannya di atas kasur untuk rebahan.

Kuamati wajah manisnya yang sedang memejamkan mata. Memang terlihat sedikit raut wajah yang menunjukkan kelelahan, tetapi entah mengapa itu menjadi tidak terlihat karena mulunya yang terus bercerita tiada hentinya dan mengoceh mengenai segala hal. Tak butuh lama, ternyata ia sudah tertidur dengan posisi tersebut.


Beberapa hari ini sudah memasuki waktu sibuk bagi setiap orang. Pak Dakra bekerja, Kinan yang memulai petualangan di sekolah barunya, dan istri Pak Dakra yang berada di rumah sebagai ibu rumah tangga.

Istri Pak Dakra, Bu Tia, memiliki hobi yaitu merajut dan melukis. Beberap hasil rajutan Bu Tia dipajang dengan bingkai foto yang diletakkan di ruang tamu sebagai pemanis ruangan. Lukisannya pun dapat kukatakan sangatlah indah. Sepertinya Bu Tia memiliki darah seni yang melimpah.

Rumahku yang dahulu menjadi sepi karena kepergianku, kini berubah menjadi rumah yang menyenangkan. Setiap pagi kulihat Bu Tia merawat tanaman Anggrek milik bunda, kemudian membuat sarapan bersama Pak Dakra, dan ditemani pula dengan lawakan khas dari Kinan.

"Ma, Pa. Jus, jus apa yang pernah manis?" tanya Kinan masuk ke dapr.

"Apa emang?" tanya Pak Dakra.

"Jus, Just a freind with you. Hahahah."

"Hahaha. Apa sih kamu nak!" kata Pak Dakra kemudian berlari kecil untuk menggelitik Kinan.

"Hahaha, Ayo sekarang Kinan sama papa sarapan!" kata Bu Tia sembari meletakkan satu piring yang berisi beberapa lapis roti tawar, dan piring lainnya berisi keju, sosis, dan beberapa potongan tomat.

Mereka pun segera menyelesaikan sarapannya dna bergegas pergi.

***

Setiap pukul 18.00, Kinan selalu tiba di rumah setelah sekolah dan bimbingan belajar tambahan. Setelah sampai di kamarku, atau dapat dikatakan sebagai kamar tidurnya, Kinan selalu bercerita mengenai kejadian yang dialaminya pada hari itu. Mulai dari beberapa temannya yang menjahilinya, hingga kakak kelasnya yang sering menggodanya.

Untunglah ada yang berperilaku baik padanya, karena ketika mendengarnya menderita, hal tersebut sangat mengganggu perasaanku. Entah mengapa, aku tidak ingin gadis seperti Kinan harus merasakan seperti yang aku rasakan.

Hingga suatu malam, Kinan kembali ke rumah lebih riang daripada biasanya. Setelah menyapa ibunya yang sedang merajut di ruang tengah, Kinan bergegas ke kamar tidurnya, kemudian merebahkan badan dan memejamkan matanya.

"Hari yang menyebalkan?" tanyaku memposisikan diri berada di sampingnya.

"Bukan. Hari yang ajaib deh pokoknya!" katanya sembari membuka kedua matanya yang indah dan menampakkan pupilnya yang berwarna coklat itu.

"Kenapa?" tanyaku mendekatatkan diri kepadanya.

"Aku sebenarnya malu, Bas. Tapi, karena menggembirakan jadi aku cerita aja deh," katanya kemudian sembari memeluk bantal yang berada di sampingnya.

Aku pun mendekatkan diri padanya dan berusaha mendengarkannya dengan saksama.

"Kamu ingat Ryan, tidak? Yang kubilang dia selalu baik sama aku dan mengajakku berangkat bimbingan belajar dengannya. Dia tadi memintaku untuk menjadi pacarnya!" katanya tersipu malu.

Ada perasaan yang tidak bisa kujelaskan. Aku merasa senang karena ekspresi mukanya yang bahagia, tetapi aku merasa marah, kesal, dan mungkin kecewa pada diriku. Seharusnya bisa saja lelaki itu adalah aku.

"Cie. Lalu, kamu kasih dia jawaban apa?"

"Aku bilang kalau kita coba aja untuk jadi pasangan."

"Emang kamu yakin?" tanyaku dengan nada tingi dan membuat Kinan terkejut.

"Kenapa, Bas? Kamu kok gak senang sih sama berita ini." tanyanya dengan muka cemberut.

Bagaimana aku bisa senang? Aku senang karena Kinan terlihat bahagia, tetapi aku tidak dapat membohongi diri jika aku kesal dan iri pada pria bernama Ryan. Dia akan dapat merasakan kasih sayang lebih. Aku pun terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Kinan.

"Bas. Tenang. Ryan anak yang baik kok. Dia sellau membantuku saat beberapa teman mulai mengerjaiku. Kamu nggak perlu khawatir."

"Nan. Semua cowok awalnya pasti baik-baik sama cewek yang diincarnya. Lihat saja nanti," kataku tak bisa menyembunyikan kekesalanku.

"Apa sih, Bas? Kok jadi marah-marah, Ya sudah. Percuma juga cerita. Kamu nggak akan ngerti!" katnaya sembari pergi meninggalkan kamarnya.

***

Semenjak percakapan itu, aku dan Kinan semakin jarang berbicara. Kinan mulai jarang ada di rumah. Hingga beberapa bulan kemudian, aku sering melihat Kinan menangis di kamarnya. Memang terkadang ia tertawa, namun tak jarang pula ia menangis histeris.

"Bas. Aku putus sama Ryan," katanya sambil membaca buku pelajaran biologi.

Tentu hal tersebut sangat mengejutkan bagiku.

"Bagaimana bisa?" tanyaku sambil duduk di meja belajarnya.

"Kalau kamu sekarang adalah manusia, pasti kamu dimarahin mama sekarang," katanya sambil melemparkan boneka beruang Brown kearahku. Tentu boneka itu terpental terkan dinding dan jatuh begitu saja.

"Nggak akan kena! Hahahaha," kataku sambil bergaya menjulurkan lidah.

"Bas, kadang aku mikir. Mungkin kamu masih tetap jadi manusia, aku berharap kita bertemu loh," katanya sambil menurunkan buku dari hapadannya.

"Kenapa kamu mikir gitu?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.

"Entah. Mungkin orang lain yang gak bisa lihat kamu, jadi aku dianggap aneh karena bicara sendiri."

"Hahaha. Iyalah."

"Aku hanya merasa nyaman aja. Nggak enak tau jadi anak tunggal gini. Ya enak nggak enak sih."

"Memang. Posisi kita sama. Sama-sama anak tunggal."

"Tapi sekarang, bedanya kamu hantu, aku bukan." katanya mendekatkan dirinya padaku.

Aku merasakan hembusan napasnya dekat denganku. Detak jantungnya pun terdengar olehku. Kutatap matanya dan aku merasa yakin, mungkin dia sedang menatap mataku juga. Tentu dengan caranya sendiri.

"Entah, Bas. Aku ngerasa nyaman sama kamu," katanya memundrukan badannya dan kembali membaca buku biologinya.

Suasana menjadi hening. Aku tak tahu harus membalas apa tas pernyataannya itu. Bisa diaktakan, selama menjadi manusia pun, baru kali ini merasakan kenyamanan bersama seorang wanita, selain bundaku. Menurutku, Kinan adalah seorang gadis yang sangat nyaman untuk diajak berbincang. Tidak hanya itu, dia juga sangat humoris dengan lawakan garingnya.

Dia juga sangat penyayang. Terlihat dari caranya mengasihi papa dan mamanya. Kelebihan fisik seperti cantik, tinggi dan lainnya, tentu dapat dilihat pada siapa saja. Tetapi, kelebihan batin yang cantik dan baik sepertinya? Belum tentu dapat dilihat pada orang lain.

"Bas. Kok diam aja sih?" tanyanya sambil menuju ke meja belajarnya untuk merapikan buku yang ia butuhkan besok.

"Enggak. Aku ingin kamu tahu. Selama aku hidup pun, baru kali ini aku merasa nyaman dengan perempuan, selain bundaku."

Kulihat dia tersenyum. Aduh, jangan senyum, Aku tidak tahan untuk tidak melihatnya. Tidak merasa gugup tetapi merasa kamin melayang saat ku melihat senyumnya.

"Haha. Makasih, Bas. udah ah, aku ngantuk. Lampunya dimatikan ya!" katanya sambil menekan tombol lampu ke arah mati.

***

Waktu terus bergulir hingga ia dinyatakan lulus sebagai pelajar SMA. Aku bersyukur karena Kinan adalah pribadi yang sangat kuat dan tegas. Meskipun sering kali dia diganggu oleh beberapa temannya, dia tetap bertahan dan berhasil. Aku tidak ingin Kinan berakhir sepertiku. Meninggal bunuh diri karena perisakan yang terjadi di sekolahku.

Kehidupan perkuliahan Kinan pun dimulai. Menyenangkan mendengarkannya bercerita mengenai masa-masa orientasi kampus yang sedang berlangsung. Saat itu, seringkali Kinan mengomel karena kakak tingkat yang menyebalkan ataupun tugas kuliah yang tiada henti menghampirinya. Ketika masa orientasi tersebut telah berlalu, justru membuat Kinan semakin sibuk.

"Bas, kamu ingat sama kakak tingkat yang aku cerita kalau dia sangat sangat nyebelin, tapi dia tampan nggak sih?" tanyanya sambil mengerjakan sketsa desain rumah, yang kutahu itu adalah tugas hariannya sebagai mahasiswa arsitektur.

"Mungkin. Hmm, Kak Alief?" tanyaku menebak.

"Iya. Hahaha. Dia kocak dah."

"Kenapa emang dia?" tanyaku dengan nada curiga.

"Dia minta aku buat jadi kekasihnya."

Lagi. Untuk kedua kalinya, aku merasakan hal yang sama. Kinan memang tidak seperti saat SMA dahulu. Dia tidak tertawa seperti dulu, akan tetapi terlihat wajahnya yang tersipu malu dengan perkataannya sendiri.

"Lalu, apa jawabanmu?" tanyaku duduk di sampingnya.

"Iya, aku bilang kita jalani aja." matanya tetap menatap sketsa yang sedang dia kerjakan.

"Nan. Tapi aku nggak suka," jawabku dan membuat Kinan menatapku tajam.

"Kenapa, Bas?" tanyanya.

Aku tidak bisa begitu saja membiarkanmu terluka karena pria lagi, Kinan. Nggak bisa.

"Karena aku sayang sama kamu."

Suasana kamar pun hening. Kinan menghentikan tatapannya padaku dan kembali menatap sketsanya. Beberapa detik kemudian, dia mengubah duduknya dan membereskan kertas-kertas dan alat tulis lainnya yang berserakan.

"Dan aku berharap kalau kamu akan menampakkan dirimu dan ragamu, Bas. Aku harap kau benar-benar nyata!" ucapnya dan memasukkan semua barang ke dalam tasnya.

Aku ingin menghentikan dan memeluknya. Aku tidak ingin dia meninggalkan ruangan ini untuk saat ini saja. Aku ingin bersamanya. Tuhan. Aku sadar bahwa aku mencintainya.

"Nan," panggilku lagi.

"Bas. Udah, Terima Kasih, aku pergi dulu." katanya dan melangkah pergi meninggalkan kamarnya.

***

Kinan memang tidak kemana-mana. Dan aku masih tetap di rumah ini. Hanya saja Kinan mulai jarang atau bahkan tidak pernah berbicara denganku setelah insiden itu. Yang kutahu memang Kinan akhirnya menerima ajakan Kak Alief untuk menjadi pasangan dan tetap bertahan hingga Kinan lulus mendapatkan gelar sarjana. Di sisi lain aku senang melihat Kinan senang, tetapi aku tak dapat membohongi perasaanku jika aku iri dengan Kak Alief.

HIngga suatau hari, saat Kinan berada di kamar, ia mencariku.

"Baskara?" panggilnya.

"Ya, Nan?" sahukut gembira.

Bagaimana tidak. Ini akan menjadi percakapan pertama kita setelah bertahun-tahun tidak berbincang. Kinan, aku merindukan semua obrolan kita.

"Aku cuma mau kamu tahu. Aku berterima kasih atas segalanya ini.." katanya sambil meletakkan sebuah undangan diatas meja belajarnya.

Kubaca dengan telisi isi undangan tersebut. Nama Kinan dan Kak Alief tertulis di sana. Dituliskan bahwa mereka akan melaksanakan akad nikah di sebuah masjid besar di Surabaya esok hari.

Sakit. Tuhan, ada perasaan sedih karena aku sangat menyayanginya. Semenjak kehadiran Kinan, meskipun aku tak bersama ragaku lagi, aku merasakan kegembiraan, kenyamanan, atau dapat dikatakan bahwa aku jatuh cinta padanya. Tapi apalah dayaku, aku hanyalah jiwa tanpa raga, yang akan selalu mendengarkan keluh-kesahnya, kegembiraannya, ataupun yang dia alami.

Aku harap dia akan selalu berbahagia dengan pria yang telah dipilihnya. Maafkan aku dan selamat berbahagia, Kinan.

Tentang Penulis

Fachrysa Ditia Zulfira, atau sehari-harinya dipanggil Echa. Seorang mahasiswi Universitas Indonesia yang sedang berjuang untuk memenuhi cita-cita sebagai Sarjana Hukum. Seorang kakak perempuan yang senang mendengarkan cerita orang lain dan menuliskannya kembali dalam sebuah cerita. Motivasi menulisnya berasal dari memenangkan perlombaan menulis cerpen saat berada di sekolah dasar. Mencintai menulis dan akan selalu berkarya di mana pun dan kapan pun.