Akibat Diteriaki Virus Corona, Mayat Diindramayu Tidak Ada Yang Berani Evakuasi

INIKECE - Akibat dari penyebaran virus corona tersebut banyak sekali menjadi orang ketakutan dan lebih memilih untuk menjaga diri dan jauhi orang-orang terlebih dahulu. Banyak orang sekarang lebih memilih dirumah saja.

Keajaiban Bumi Yang Belum Terpecahkan Hingga Sampai Sekarang, Menjadi Misteri Bumi

INIKECE - Bumi selalu memiliki keajaiban, hingga fenomena alam yang luar biasa, sampai ada suatu tempat dimana tidak dapat diteliti keajaiban bumi tersebut dikarena masih menjadi misteri teka-teki bagi para ilmuan.

Cerita Power Girl! Pesona Sang Gadis Jagoan

INIKECE - Suara gaduh dan teriakan terdengar dari ruangan penuh matras dengan tulisan Ruang Latihan Judo itu. Terlihat seorang gadis dengan rambut kuncir kuda sedang bergulat dengan lelaki yang memiliki ukuran tubuh sedikit lebih besar darinya.

Ramalan April Hari Ini Berdasarkan Zodiak, Simak Yuk!

INIKECE - Diakhir pekan ini, ramalan zodiak hari ini meminta Scorpio dan Aquarius untuk lebih peka terhadap pasangan jika tidak ingin hubungan menjadi buruk. Sementara itu, Virgo diharapkan lebih waspada karena berisiko terkan alergi. .

Romance Remaja! So I Love My Ex - Dia Bukan Lagi Si Cungkring, Part 2

INIKECE - Aluna menarik dan membuang napasnya. Ia memalingkan wajah saat melihat keberadaan Zello. Oke, Aluna memang tahu Zello kuliah di tempat yang sama dengannya, tetapi dia tidak pernah tahu bahwa Zelo ada di Fakultas Ekonomi.

Habisin Waktu Liburan Akhir Tahun Di Negara London, Destinasinya Kece Badai

Habisin Waktu Liburan Akhir Tahun Di Negara London, Destinasinya Kece Badai

INIKECE - London merupakan salah satu kota paling maju di Eropa dengan berbagai destinasi wisatanya yang menarik ratusan ribu wisatawan. Selama lebih dari 2000 tahun lamanya, London telah menyimpan berbagai macam hal yang menakjubkan dan menghibur bagi para wisatawan asing yang datang berkunjung.

~ MADAME TUSSAUDS LONDON ~


Madame Tussauds merupakan museum lilin yang didirikan oleh Marie Tussaud (1781-1850), seorang seniman asal Perancis. Madame Tussauds di London merupakan museum lilin Madame Tussauds yang asli dan pertama didirikan.

Berdiri sejak tahun 1884 di Marylebone Road, London, Inggris. Madame Tussauds terkenal sebagai museum yang memamerkan koleksi oatung liling tokoh terkenal.

~ BIG BEN ~


Salah satu Icaon kota London yang terkenal. Menara jam ini terletak di sebelah utara Istana Westminster, London Britania Raya.
Big Ben telah selesai dibangun pada tahun 1858, dan telah berdiri selama 150 tahun.

~ BUCKINGHAM PALACE ~


Tempat yang menjadi kediaman keluarga kerajaan Inggris ini sudah menjadi destinasi wisata populer dan favorit para wisatawan.
Atraksi paling mengagumkan dan laris untuk ditonton para wisatawan mancanegara adalah pergantian penjaga istana.

~ KENSINSTON PALACE ~


Kensinston Palace adalah istana tempat tinggal keluarga kerajaan yang terletak di Kensington. London, Inggris.
Salah satu daya tarik utama tempat ini adalah Kensinston Garden yang sangat cantik, dan merupakan satu dari delapan royal park di London, Inggris.

~ LONDON EYE ~


Berlokasi di seberang Houses of Parliament. London Eye merupakan salah satu destinasi wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. 
Dengan tinggi mencapai 135 meter, London Eye pernah dinobatkan sebagai kincir angin tertinggi di dunia.

~ WINDSOR CASTLE ~


Windsor adalah kastil abad pertengahan dan kediaman resmi Kerajaan Britania Raya tepatnya di daerah Windsor, Berkshire, Inggris.
Kastil ini terkenal karena sudah lama dihuni oleh keluarga kerajaan Inggris dan juga karena arsitekturnya yang megah. Sama seperti Buckingham Palace, kastil ini juga terbuka bagi siapa saja wisatawan yang ingin berkunjung.

~ TOWER BRIDGE ~


Tower Bridge di kota London adalah sebuah jembatan populer di dunia dan merupakan salah satu tempat wisata terkenal di London.
Tower Bridge membentang melintasi Sungai Thames, menghubungkan antara City of London dan Soutwark.

~ WESTMINSTER PALACE ~


Bangunan bersejarah sekaligus pusat pemerintahan United Kingdom (UK), tempat bertemunya 2 majelis pemerintahan kerajaan Inggris yakni Dewan Bangsawan Majelis Tinggi (Hous of Lords) dan Dewan Rakyat Majelis Rendah (Hous of Comon).

~ NATURAL HISTORY MUSEUM LONDON ~


Museum yang memiliki lebih dari 70 juta koleksi spesimen ini merupakan museum yang menjadi pusat penelitian terkenal dan museum sejarah alam terbesar di dunia.
Bangunan gedung yang digunakan menjadi Natural History Museum sangat unik, yakni bergaya arsitektur Romanesque.

~ BRITISH MUSEUM ~


British Museum di London adalah salah satu museum terbesar dan terpenting dalam sejarah dan budaya manusia di dunia.
Jumlah koleksi yang dimiliki oleh museum ini diperkirakan mencapai 8 juta lebih, termasuk 1,8 juta tahun peradaban.

~ TRAFALGAR SQUARE ~


Trafalgar Square adalah salah satu tempat berkumpulnya orang atau bisa disebut sebagai tempat nongkrong di kota London yang terkenal dan populer sehingga banyak para wisatawan lokal maupun mancanegara berkumpul disini, karena selain bersih, lokasi Trafalgar Square sangat mudah untuk dikunjungi oleh para wisatawan.

~ PORTOBELLO ROAD MARKET ~


Disebelah barat London, ada sebuah pasar yang dikenal dengan nama Portobello Road Market yang merupakan pusatnya para penjual barang-barang kuno atau barang antik yang ada di Kota London dan merupakan pasar antik terbesar di dunia dengan lebih dari 1,000 gerai yang buka di tempat ini.

Kalah 0-3, Timnas U23 Indonesia Vs Vietnam Harus Puas Raih Perak

Kalah 0-3, Timnas U23 Indonesia Vs Vietnam Harus Puas Raih Perak

INIKECE - Timnas U23 Indonesia kalah 0-3 dari Timnas U23 Vietnam pada laga final SEA Games 2019. Dengan demikian, Garuda Muda harus puas meraih medali perak cabang olahraga sepak bola.

Laga Timnas U23 Indonesia vs Vietnam digelar di Stadion Rizal Memorial, Selasa (10/12/2019) malam WIB.

Tiga gol Vietnam pada laga tersebut dicetak oleh sundulan Doan Van Hau (39', 59'), dan Do Hung Dung (73').

Dengan hasil ini, timnas U23 Indonesia harus puas meraih medali perak di SEA Games 2019. Sementara iu, Vietnam dipastikan mengalungi medali emas cabang olahraga sepak bola SEA Games 2019.

Jalannya Pertandingan

Pada awal babak pertama, timnas U23 Indonesia mencoba menyerang lewat sisi sayap. Saddil Ramdani dan Asnawi Mangkualam yang melakukan overlap mencoba membuka peluang pertama bagi timnas U23 Indonesia.

Namun, pergerakan keduanya masih mampu dihentikan barisan belakang Vietnam. Ancaman pertama timnas U23 Indonesia hadir pada menit ke-6 lewat situasi tendangan bebas.

Eksekusi yang dilakukan oleh Zulafiandi mengarah ke gawang, namun masih bisa ditepis kiper Vietnam, Nguyen Van Toan, dan hanya menghasilkan sepak pojok.

Semenit berselang, Saddil Ramdani menusuk lewat sisi kanan pertahanan Vietnam. Saddil kemudian mengirimkan umpan tarik, tetapi Osvaldo Haay yang menjadi sasaran gagal menyambut bola kiriman Saddil.

Sepuluh menit pertama, timnas U23 Indonesia terlihat terus mengurung pertahanan Vietnam. Sementara itu, peluang yang diambil pemain Vietnam mengarah langsung ke gawang.

Tendangan penjuru yang diambil pemain Vietnam mengarah langsung ke gawang. Nadeo Arga Winata, yang ditugaskan menjadi palang pintu terakhir, dengan cekatan mementahkan peluang tersebut.

Pada menit berselang, terjadi insiden antara Evan Dimas dan Doan Van Hau. Bek Vietnam itu tertangkap kamera menginjak kaki Evan Dimas.

Insiden tersebut membuat Evan Dimas harus dipapah keluar lapangan dan dinyatakan tidak bisa melanjutkan pertandingan.

Peran Evan Dimas digantikan oleh Syahrian Abimanyu. Memasuki menit ke-30, timnas U23 Indonesia masih menguasai jalannya laga. Namun, Andy Setyo dkk masih kesulitan menembus barisan pertahanan yang tampil disiplin.

Selain itu, pemain timnas U23 Indonesia masih sering melakukan kesalahan passing di sepertiga akhir lapangan.

Keluarnya Evan Dimas sedikit berpengaruh terhadap aliran bola ke depan. Syahrian Abimanyu yang menggantikan peran Evan justru lebih sering men-delay bola, sehingga serangan timnas U23 Indonesia sedikit terhambat.

Terus menyerang, gawang timnas U23 Indonesia justru kebobolan pada menit ke-39. Umpan tendangan bebas Do Hung Dung disambut tandukan Doan Van Hau yang tidak mampu dihalau Nadeo.

Skor sementara berubah menjadi 1-0 untuk keungulan Vietnam. Timnas U23 Indonesia mencoba membalas pada menit-menit akhir babak pertama. Namun, hingga wasit meniupkan peluit akhir tanda babak pertama usai, timnas U23 Indonesia belum mampu mencetak gol penyama kedudukan.

Pada awal babak kedua, timnas U23 Indonesia yang tertinggal datu gol mencoba mengambil inisiatif serangan.

Namun, pertahanan rapat Vietnam membuat upaya timnas U23 Indonesia selalu kandas. Gawang timnas U23 Indonesia justru kembali kebobolan pada menit ke-59.

Berawal dari kesalahn antisipasi barisan belakang timnas U23 Indonesia, bola liar disambar oleh Do Hung Dung.

Pemain bernomor punggung 16 itu lalu melepaskan sepakan mendatar yang tidak mampu dijangkau Nadeo.

Skor kembali berubah menjadi 2-0 untuk keunggulan Vietnam. Pelatih timnas U23 Indonesia, Indra Sjafri, melakukan perubahan untuk menjawab gol kedua Vietnam.

Pada menit ke-64, Muhammad Rafli dimasukkan untuk menggantikan Sani Rizki Fauzi. Masuknya Rafli, membuat posisi Osavaldo Haay menjadi sedikit mundur, sejajar dengan Egy Maulana Vikri, dan Saddil Ramdani.

Sementara, Rafli diplot sebagai ujung tombok timnas U23 Indonesia. Pada menit ke-72, kerja sama Rafli dengan Osvaldo nyaris membuahkan hasil. Namun, penyelesaian akhir yang kemudian dilakukan Osvaldo masih bisa diblok pemain belakang Vietnam.

Semenit berselang, Nadeo memungut bola dari gawangnya untuk kali ketiga. Lagi-lagi pelakunya adalah Doan Van Hau. Gol tersebut berawal dari sepakan bebas Vietnam dari sisi kanan kiri pertahanan timnas U23 Indonesia.

Bola berhasil ditepis Nadeo, namun hasil rebound-nya, langsung disambar Doan Van Hau. Skor kembali berubah menjadi 3-0, masih untuk keunggulan Vietnam.

Pada menit ke-77, pelatih Vietnam, Park Hang-seo, diusir ke luar lapangan karena melakukan protes berlebihan. Sementara itu, timnas U23 mendapatkan peluang terbaik pada menit ke-81.

Tidak hanya satu, dua kesempatan emas diperoleh oleh Egy Maulanan Vikri dan Muhammad Rafli. Namun, kedua kesempatan itu mampu dimentahkan Nguyen Van Toan. Timnas U23 Indonesia terus berusaha mencetak gol pada menit-menit akhir laga.

Namun, usaha tersebut tidak membuahkan hasil hingga akhir pertandingan. Alhasil timnas U23 Indonesia harus menyerah 0-3 dari Vietnam.

Susunan Pemain Timnas U23 Indonesia vs Vietnam :

Timnas U23 Indonesia : (12)Nadeo Arga Winata, (14)Asnawi Mangkualam Bahar, (2)Andy Setyo Nugroho, (5)Bagas Adi Nugroho, (11)Firza Andhika, (7)Zulfiandi, (6)Evan Dimas Darmono, (17)Syahrian Abimanyu-25', (16)Sani Rizki (9)Muhammad Rafli-64', (15)Saddil Ramdani, (8)Witan Sulaeman (10)Egy Maulana Vikri-46', (20)Osvaldo Haay Ramdani

Cadangan : (1)Muhammad Riyandi, (3)Alekvan Djin, (4)Nurhidayat Haji Haris, (9)Muhammad Rafli, (10)Egy Maulana Vikri, (13)Rachmat Irianto, (17)Syahrian Abimanyu, (18)Ikhram Zahrul Mila, (19)feby Eka Putra.

Pelatih : Indra Sjafri

***

Vietnam : (30)Nguyen Van Toan, (21)Nguyen Duc Chien (20Nguyen Trong Hung-82'), (4)Ho Tan Tai, (5)Doan Van Hau, (3)Huynh Tan Sinh, (18)Nguyen Thanh Chung, (8)Nguyen Trong Hoang, (16)Do Hung Dung, (14)Nguyen Hoang Duc, (9)Ha Duc Chinh (12Truong Van Thai Quy-70'), (22)Nguyen Tien Linh

Cadangan : (1)Bui Tien Dung, (2)Do Thanh Thinh, (6)Le Ngoc Bao, (7) Trieu Viet Hun, (11)Tran Thanh Son, (12)Truong Van Thai Quy, (19)Nguyen Quang Hai, (20)Nguyen Trong Hung, (23)Bui Tien Dung.

Pelatih : Park Hang-seo

Jadwal Hari Ini! Berlangsungnya BWF World Tour Finals 2019 Oleh 7 Wakil Indonesia

Jadwal Hari Ini! Berlangsungnya BWF World Tour Finals 2019 Oleh 7 Wakil Indonesia

INIKECE - BWF World tour Finals 2019, akan berlangsung di Tianhe Gymnasium, Tiongkok, hari ini, Rabu, 11 Desember 2019. Dalam turnamen bergengsi akhir tahun ini, Indonesia memiliki tujuh wakil pemain bulu tangkis.

Di nomor ganda putra, dua pasangan Indonesia menjadi unggulan di masing-masing grup. Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon menghuni urutan pertama di Grup A. Sementara Hedra Setiawan/Mohammad Ahsan menempati posisi teratas di Grup B.

Meski Kevin/Marcus dan Hendra/Ahsan diunggulkan, Kepala Pelatih Ganda Putra PBSI, Herry Iman Pierngadi mengingatkan kepada atlet asuuhannya itu untuk waspada saat menghadapi lawan-lawan di ajang hari.

"Saya rasa persaingan di grup A lebih keras dibanding grup B. Walaupun begitu, saya tetap mengingatkan kepada mereka untuk tetap waspada siapa pun lawannya," kata Herry kepada badmintonindonesi.org.


Di nomor tunggal putra, Indonesia mempunyai dua wakil yaitu Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting. Kedua pemain ini terbagi ke dua grup. Sementara, di nomor ganda putri, Greysia Polii/Apriyani Rahayu menjadi satu-satunya wakil Indonesia. Pasangan yang baru saja meraih medali emas SEA Games 2019 ini bertekad membawa semangat juara di SEA Games itu saat tampil di BWF World Tour Finals 2019.

Berikut jadwal lengkap pertandingan hari ini :
- Anthony Sinisuka Ginting vs Chou Tien Chen (Taiwan)
- Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo vs Li Jun Hui/Liu Yu Chen (Cina)
- Jonatan Christie vs Anders Antonsen (Denmark)
- Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan vs Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia)
- Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti vs Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja
- Greysia Polii/Apriyani Rahayu vs Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang).

Rayakan Natal Dan Pergantian Tahun, 8 Negara Bebas Visa Yang Dapat Dikunjungi!

Rayakan Natal Dan Pergantian Tahun, 8 Negara Bebas Visa Yang Dapat Dikunjungi!

INIKECE - Sudah menyusun rencana liburan bersama keluarga, sahabat, atau pasangan di akhir tahun ini? Bulan Desember adalah bulan yang ditunggu banyak orang, selain penantian penggantian akhir tahun, bulan Desember juga dekat dengan hari Natal.

Bagi kalian yang ingin jalan-jalan keluar negeri, ada nih negara bebas visa, yang bisa kalian kunjungi dengan membawa rombongan keluarga, dan menikmati akhir tahun di negara yang indah ini.

1. Singapura - Bebas Visa


Banyak hal menarik yang ada di Singapura. Kamu bisa mengunjungi Universal Studios, menikmati pemandangan tepi sungai memukai di Clarke Quay, dan masih banyak lagi tempat wisata gratis yang pastinya bisa menarik perhatian kamu, seperti Gardens by the Bay, Chinatown, dan lain-lain.

2. Malaysia - Bebas Visa


Selain Menara Petronas, Malaysia menyuguhkan tempat-tempat wisata lainnya yang nggak kalah seru, seperti Legoland, Sunway Lagoon, dan Pulau Langkawi.
Jarak yang nggak terlalu jauh dari Indonesia dan harga tiket pesawat yang masih terjangkau bisa banget kamu jadikan sweet escape bersama teman-temanmu.

3. Thailand - Bebas Visa


Thailand terkenal dengan kuil-kuil kunonya yang selalu padat pengunjung, seperti The Grand Palace dan Wat Pho. Selain itu, ada juga pantai-pantai eksotis yang sudah populer di kalangan wisatawan.

4. Filipina - Bebas Visa


Ke Filipina, kamu akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang sangat asri. Negara ini sangat cocok dikunjungi bagi kamu yang menyukai aktivitas outdoor.


5. Vietnam - Bebas Visa


Negara yang identik dengan bunga ini memiliki ciri khas di setiap kotanya. Misalnya Hanoi yang merupakan kawasan pusat perekonomian, terdapat banyak bangunan pencakar langit. Selain itu, ada juga Nha Trang yang menawarkan banyak pantai cantik.

6. Myanmar - Bebas Visa


Myanmar memiliki budaya yang beragam karena terdiri dari beragama suku bangsa dan ras. Di negara ini, kamu akan melihat kehidupan tradisional sehari-hari yang dijalani oleh penduduk setempat.

7. Hongkong - Bebas Visa


Hongkong sudah terkenal dengan arsitektur modern yang mengagumkan dan pusat perbelanjaan yang menjual barang-barang branded. Siap-siap budget kalau ingin berkunjung ke Hongkong ya.

8. Jepang - Bebas Visa


Bagi kamu yang ingin berkunjung ke Jepang tanpa visa, kamu harus mengubah paspor bukumu menjadi e-paspor yang nantinya akan di tempel stiker khusus sebagai tanda kamu bebas mengunjungi Jepang berkali-kali selama tiga tahun, tapi nggak lebih dari 15 hari ya.

Suara-Suara Yang Lenyap

Suara-Suara Yang Lenyap

INIKECE - Seorang lelaki berkepala plontos baru saja masuk ke ruang interogasi untuk pertama kalinya dengan wajah yang murung. Pandangan matanya selalu turun. Langkahnya malas, kakinya selalu menyeret. Mulutnya mengatup rapat.

Disebalahnya seorang perempuan berkerudung senantiasa mengiringi langkahnya sambil terus menggamit tangannya. Wajah perempuan itu memang tak semurung lelaki di sebelahnya, tetapi keresahan beserta dendam dan amarah tampak melebur di matanya.

"Jadi, sudah berapa lama suami anda mulai kehilangan suaranya?' tanya seorang polisi yang sudah duduk di depan sebuah komputer begitu pasangan itu duduk.

"Dari seminggu yang lalu," jawab si perempuan.

"Apa sudah diperiksakan ke dokter?"

"Sudah, pak."

"Lalu?"

"Kata dokter semuanya baik-baik saja. Gak ada masalah dengan pita suara suami saya."

"Apa otaknya juga sudah diperiksa?"

"Maksud sampeyang suami saya sedeng, begitu?" suara perempuan itu serta-merta meninggi.

Si polisi mesem-mesem. "Bukan begitu, Bu. Maksud saya, mungkin suami ibu terjatuh dan terbentur di kepala sehingga menyebabkan trauma yang membuatnya tak bisa bicara."

"Suami saya bukannya gak bisa bicara, Pak. Tapi gak bisa bersuara!"

Suaminya mengangguk.

"Lho, ya sama saja, kan Bu?"

"Terdengar sama tapi sebenarnya berbeda, Pak!"

Polisi itu mengernyit. Ia diam sebentar demi menelaah ucapan perempuan berhidung bangir itu. Tapi polisi itu tak dapat meresap apa-apa di kepalanya.

Memanya sejak kapan orang bisa bicara tanpa bersuara?

---

"Suara suami saya ada yang mencurinya, Pak. ada yang mencurinya!"

Kasus lenyapnya suara lelaki berkepala plontas itu menjadi kasus langka nan rumit yang dihadapi polisi di republik ini selama berpuluh-puluh tahun mengusut berbagai tindak kejahatan pencurian. Sebab selama ini yang umum hilang dan dilaporkan tak lebih dari keberadaan benda hidup maupun benda mati yang nyata bentuknya. Sementara suara bukan tergolong benda nyata yang bisa disentuh apalagi dicuri.

Saat kali pertama mengadu perempuan itu mengatakan bila suara suaminya telah dicuri oleh sekelompok orang bertopeng di suatu malam yang larut. Ia mengetahui hal itu setelah tergopoh-gopoh berlari ke luar rumah tatkala mendengar jeritan suaminya yang baru saja tiba membuka pagar rumah. Tapi perempuan itu terlambat sebab setibanya di muka pintu ia hanya mendapati suaminya telah tersungkur dengan mulut menganga, sedang sekelompok orang berpakaian serba putih dengan mobil hitam tanpa pelat nomor.

"Salah satu dari mereka membawa sebuah kantung berwarna putih. Seperti kantung bekas tepung kanji. Saya yakin kantung itu berisikan suara suami saya yang mereka curi, Pak," terang perempuan itu kepada polisi esok paginya.

"Memangnya untuk apa mereka mencuri suara suami ibu?"

"Lah, ya mana saya tahu. Bisa saja suara suami saya digunakan sebagai suara tambahan untuk pemilu tahun depan, 'kan?"

"Ah, ujung-ujungnya disambung ke urusan politik," gumam polisi itu sambil menarik napas panjang. Tapi, polisi itu lantas berpikir, andaikan apa yang diucap itu benar berarti urusan ini akan menjadi urusan yang runyam lagi berat. Sebab selama ini tiada lagi urusan yang paling berat diusut polisi selain yang bersangkutan dengan para elit politik.

---

"Suamiku bukan hanya tak bisa bicara, tapi juga sudah tak bisa bersuara." Perempuan itu benar-benar menyadari bila suaminya tak dapat lagi bicara sebab di malam pencurian itu suaminya benar-benar tak bisa memberikan kesaksian sekalipun lewat tulisan.

"Jadi mereka bukan hanya mencuri suaramu, tapi otakmu juga, Mas?" sergah perempuan itu jengkel begitu mendapati tulisan-tulisan suaminya serupa huruf sansekerta di atas kertas.

"Au-a ... Aa-auu ... Uu-aa-u ..."

Lelaki itu berusaha bicara tapi tetap saja percuma. Tak ada makna apa pun yang keluar dari mulutnya.

"Sudahlah, Mas. aku gak ngerti kamu bicara apa. Tapi ini pasti ulah para politikus-politikus itu, kan, Mas?"

"Aa-u! Auu-au!" Lelaki itu manggut-manggut sambil mengacungkan jempolnya.

Saat itulah istrinya menyadari bahwa suaminya telah benar-benar kehilangan suaranya. Itu berarti suaminya bukan hanya tak bisa bicara, tapi juga tak bisa mengutarakan pendapat bahkan kebenaran sekalipun dalam bentuk tulisan. Suaranya benar-benar telah dibuat lenyap. Suaminya benar-benar telah dibungkam.

---

Jauh sebelum suaraya dicuri, lelaki bernama Nanam ini adalah mantan wartawan yang beralih profesi menjadi aktivis. Ia adalah satu dari sekian orang yang paling lantang berusara dan kritis terhadap pemerintahan dan para pemimpin yang kerap berdusta atas nama rakyat sampai-sampai mulut mereka berbusa.

Tak terkecuali orang-orang yang mengaku-aku sebagai penyambung lidah rakyat tapi kenyataanya betapa sulit disentuh oleh rayat.

Lelaki itu tak hanya aktif bersuara sebagaimana mulut berbicara, tapi juga bersuara melalui tulisan-tulisannya. Ia memiliki pengamatan yang tajam. Ia bisa menebak elit politik mana yang berkaitan dengan sebuah perkara korupsi yang sedang diusut lembaga antirasuah negara ini.

Ia bisa tahu pencaturan politik seperti apa yang sedang dibentuk oleh koalisi ini dan koalisi itu. Ia bisa memetakan siapa dalang konspirasi yang menghambinghitamkan segelintir orang maupun kelompok tertentu.

Kadang kala suara-suaranya itu disampaikan lewat cuitan sederhana di media sosial. Kadang kala dirangkai lebih serius di sebuah kolom koran harian. Kadang kala di sebuah blog. Kadang kala melalui sebuah cerita pendek. Bahkan pernah dalam bentuk sebuah buku sekalipun kemudian dilarang beredar.

Tapi semenjak pencurian yang menimpanya pada tengah malam yang larut itu, ia tak bisa lagi bersuara. Segala hal yang ditulisnya benar-benar tak dapat lagi dipahami bahkan oleh ahli tafsir.

Kasus hilangnya suara Nanam pun menggemparkan negara ini. Predisen sampai sesama aktivis sibuk menyampaikan rasa duka atas hilangnya suara lelaki itu. Berbagai media massa pun memberitakan dengan judul yang dramatis. Para elit politik dan wakil rakyat pun mengaku merasa kehilangan suara-suara kritis lelaki malam itu, meski sebetulnya tak ada yang tahu seperti apa perasaan mereka sebenarnya.

"Tak ada kehilangan yang lebih pedih kecuali kehilangan suara-suara kita," ujar Farhi Jamah, Wakil Ketua Dewan Pembinaan Rakyat yang dulu sering dikritik Nanam.

Lantas, lambat laun apa yang menimpa Nanam mulai menjadi agenda diskusi di mana-mana. Lelaki itu tak karang diundang meski sama sekali sudah tak bisa bersuara. Tapi memang bukan Nanam yang kini lantang bersuara, melainkan perempuan berkerudung yang selalu setia mendampinginya.

"Kejahatan saat ini bukan dengan cara menghilangkan nyawa, tapi dengan menghilangkan suara. Ini sangat-sangat mengerikan," kata istrinya saat membuka sebuah forum diskusi yang disiarkan langsung oleh sebuah stasiun televisi.

"Kasus pembunuhan aktivis saja sulit diusut tuntas di negara ini sampai sekarang. Apalagi dengan kasus hilangnya suara ini," kata seorang aktivis lain dengan memberikan tekanan pada kata 'hilangnya suara'.

Nanam hanya bisa manggut-manggut di tempat duduknya.

Sementara itu, di tempat yang berbeda dan berjarak hampir 25 kilometer jauhnya. Ketua Umum Partai Gergaji baru saja memulai berolahraga malam saat seorang ajudan mengetuk pintu kamar apartemennya terburu-buru.

"Sialan! Mengganggu saja! Kenapa ketuk-ketuk?" sergah lelaki bertubuh tambun itu sambil berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Padahal, baru saja ia mulai terbiasa mengatur tempo push up di atas tempat tidurnya. Manusia memang selalu senang mengganggu kesenangan manusia lainnya, batinnya sebal.

"Maaf bos, ada berita penting," seru ajudannya dari balik pintu.

"Berita apa?!"

"Perempuan itu sepertinya sudah tahu kasus yang sedang diusut oleh suaminya, Bos."

"Ah, setan!" rutuk lelaki tambun itu yang tanpa sadar menghentekkan bokongnya keras sekali sampai-sampai terdengar suara 'plol' yang segera disambut rintihan seorang perempuan.

"Aduh. Sakit, Bapak!" keluh seorang perempuan yang sedari tadi rebahan di bawah tubuh si ketua partai bertubuh bulat itu.

"Ah... maaf, Sayang. Ada kabar yang membuatku kesal. Kita pause dulu olahraganya, ya"

"Tapi jangan lama-lama, ya, Pak. Hari ini aku ada kelas."

"Halah! Ngapain kamu masih kuliah? Gak dapet duit aja kamu. Sudah tunggu dulu. Nanti aku beri duit lebih supaya kamu bisa beli tas Gucci yang kamu mau itu."

"Ah, yang benar, Pak?"

"Iya!"

BACA JUGA :

Cerpen! Real Friend?


Lelaki tambun itu lantas berdiri, memakai lagi sempak, celana dan baju piyamanya, lalu beranjak menghampiri ajudannya yang menunggu di muka pintu dan mereka melangkah menuju ruang tengah.

Di ruang tengah apartemennya itu sudah ada televisi yang menyala. Pada televisi layar datar itu terlihat jelas seorang perempuan berkerudung tengah berbicara lantang membahas soal pencurian suara suaminya. Perempuan itu lagi-lagi menekankan keyakinannya bila suara suaminya hilang dicuri oleh elit politik bertopeng yang tak ingin kebusukannya terbongkar.

Perempuan itu bersaksi bahwa beberapa waktu lalu suaminya menulis dugaan adanya konspirasi besar yang melibatkan para elit politik untuk mengambil alih pemerintahan dan melanggengkan kekuasaan kelompok mereka dengan banyak cara. Tapi, sayangnya, catatan itu belum sampai separuh jalan sebab suara suaminya keburu dicuri.

"Setan alas! Perempuan itu harus dibungkam!" sergah si Ketua Umum Partai Gergaji itu sampai-sampai mukanya memerah. Bagaimanapun, ia tak mau kalau sampai konspirasi itu ketahuan. Elektabilitas dirinya dan partai tak boleh turun sampai pemilihan presiden tahun depan tiba.

"Siap, Bos!" seru ajudannya sambil memberi hormat.

---

"Suara-suara itu jauh lebih berbahaya daripada keberadaan tubuh seseorang. Suara-suara, entah keluar lewat mulut maupun yang ditulis pada permukaan batu sama berbahayanya dengan mata pedang bagi para penjahat. Itulah alasan suara-suara itu berusaha dihilangkan," ujar seorang aktivis terkemuka di sebuah acara diskusi yang kembali disiarkan langsung oleh sebuah stasiun televisi.

"Kasus menghilangkan suara ini sebetulnya lebih menguntungkan dibandingkan dengan menghilangkan nyawa. Karena suara-suara yang hilang ini dapat diganti dengan suara-suara yang baru. Suara-suara yang sudah bisa diatur untuk melanggengkan kekuasaan." sambungnya lagi.

Sementara itu, sepasang suami istri yang sam-sama kehilangan suara hanya bisa mengangguk-angguk setuju di tempat duduknya. Sesekali keduanya menyeka pipi yang ditumpahi air mata kebencian. Sesekali keduanya ikut berseru meski hanya lenguhan panjang yang terdengar penuh semangat.

Mereka selalu diundang di berbagai acara diskusi mengenai kebebasan bersuara dan demokrasi selama enam bulan terakhir ini. Tapi diskusi-diskusi itu tak lebih dari hujan rintik yang sekadar turun dalam lima menit di tengah-tengah panasnya gurun pasir. Sebab kasus pencurian suara tak penah benar-benar bisa diungkap, bahkan oleh tim khusus bentukan presiden sekalipun.

Sementara setiap kali acara diskusi itu berlangsung, beberapa penonton di studio maupun di rumah hanya dapat mengangguk dan menggeleng. Sesekali mereka bertepuk tangan penuh semangat sebagai tanda amat setuju pada sebuah pernyataan kritis oleh aktivis muda. Terkadang pernyataan-pertanyaan kritis itu membuat mereka juga rindu untuk bersuara. Namun sayang, kebanyakan dari mereka juga telah kehilangan suara setelah sekelompok orang mencurinya.

Bekasi, 14 Juli 2018

Cerpen! Real Friend?

Cerpen! Real Friend?

INIKECE - "Bu, aku berangkat, ya" teriakku sambil menggigit roti dan berlari menuju teras.
Waktu menunjukkan pukul 06.15, Artinya lima belas menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Aku berlari meninggalkan rumah dan segera menaiki motor ojek langgananku.

Namaku Niken Calya Gayatri. Aku seorang pelajar tingkat dua SMA. Kehidupanku sama seperti siswa SMA pada umumnya. Keseharianku hanya belajar dan bergaul dengan teman-teman seusaiku.

"Tumben banget telat," tanya Wulan.

"Iya, semalam nonton bola sama ayah," jawabku terengah.

Wulan menggeleng. Setiap akhir pekan, aku memang biasa menonton tayangan ulang pertandingan bola bersama ayah. Sebenarnya, aku tak begitu suka bola, tetapi inilah quality time-ku bersama ayah yang sehari-hari bekerja di luar kota.

"Sudah belajar untuk ulangan hari ini?" Tanya Wulan.

"Beres," jawabku.

Jam pelajaran pun berakhir. Lelah rasanya setelah menempuh ulangan harian dua mata pelajaran sekaligus di empat jam pertama. Kurogoh ranselku untuk mengambil bekal makanan yang selalu ibu siapkan. Sayangnya, aku tak menemukan kotak makan dalam ranselku. Tampaknya bekalku tertinggal karena pagi tadi aku terburu-buru sarapan.

"Ken, ini ada titipan," ucap Wulan sambil menghampiriku.

"Dari?" tanyaku.

"Siapa lagi?" jawabnya.

"Senang nggak sih, Ken, dapet kiriman terus?" tanya Wulan.

"Pas banget sih, bekal makan aku ketinggalan. Kita makan bareng, ya" jawabku sambil membuka kemasan makanan yang diberikan Wulan.

Kejadian tadi bukanlah hal langka bagiku. Teman-teman kelasku sangat terbiasa dengan kejadian ini. Ini kali keskian aku mendapat titipan dari Adrian. Kakak kelasku. Mulai dari camilan, minuman, sampai barang-barang yang sebenarnya tak aku butuhkan. Aku sendiri tak pernah memintanya, tetapi ia terus memberikan perhatian seperti ini padaku.

Bukan rahasia lagi perihal aku dan Adrian. Seisi kelas bahkan seantero sekolah munkin tahu akan hal ini. Kami tak ada hubungan spesial. Hanya berteman, mereka bilang Adrian suka padaku, aku? Tak tahu.

"Hai."

Suara tersebut mengagetkan sekaligus menghentikan langkahku. Aku menoleh ke asal suara.

"Kak Adrian?" ucapku kaget.

"Mau pulang bareng nggak?" tanyanya.

Aku melirik pada teman-temanku. Mereka tersenyum sambil sesekali saling berbisik.

"Kita duluan, ya Ken. Ketemu besok," ucap teman-temanku sambil melambaikan tangan.

"Jadi?' tanya Adrian.

Aku mengangguk. Aku tak punya pilihan karena teman-temanku telah pergi lebih dulu.

Sesampaonya di rumah, aku berterima kasih pada Adrian yang telah mengantarku. Aku sengaja tak mengajaknya untuk masuk ke rumah. Ibuku punya rasa ingin tahu berlebih bila ada teman pria yang berkunjung.

***

Hari ini, guru IT mengumumkan bahwa sekolahku akan menyelenggarakan sebuah perlombaan permbuatan film pendek remaja. Hal ini membuatku begitu antusias. Aku adalah orang yang senang berkompetisi. Buatku sebuah kompetisi adalah ajang untuk melatih diri dan bersaing dengan banyak orang.

Aku bekerja keras untuk membuat konsep dalam perlombaan pembuatan film pendek. Banyak ide bermunculan dalam kepalaku, tetapi aku harus bisa membuat konsep yang sangat berbeda dari peserta lain.

Aku bersama sahabatku, Vian dan Tiara mulai bekerja dalam tim. Wulan sendiri tidak tertarik dengan perlombaan seperti ini. Ia lebih memilih menjadi supporter untuk kami. Sesekali kami pun dibantu oleh beberapa teman di kelas.

Aku pun mendapat banyak bala bantuan dari Adrian. Ia sering menemaniku saat aku bekerja untuk menyelesaikan film pendek ini. Ia pun beberapa kali membawakan banyak makanan untuk kami. Tak jarang ia menungguku hingga malam kemudian mengantarku pulang.

Waktuku begitu tersita untuk penyelesaian film pendek, Shooting telah rampung dilakukan. Namun, masih banyak pekerjaan menanti, terutama editing. Film pendek ini harus selesai sebab deadline sudah di depan mata. Kerja kerasku dan tim tak boleh sia-sia.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Seluruh peserta lomba berkumpul di aula untuk presentasi. Terlihat para juri tengah bersiap. Pemandu acara mulai memanggil peserta lomba satu per satu untuk presentasi.

"Konsep kami dalam film pendek ini mengusung teman sosial. Kami mengangkat kesenjangan sosial yang terjadi di kalangan pelajar, khususnya sekolah kita. Di sini kami ingin menunjukkan bahwa kesenjangan sosial yang terjadi dikalangan pelajar dapat berdampak butuk. Film ini menyuguhkan gambaran nyata yang biasa terjadi dan memberikan banyak pelajaran yang bisa diambil oleh remaja khususnya pelajar. Di sini masyarakat yang bisa mengakibatkan kesenjangan sosial. Marilah kita bersatu untuk membentuk masyarakat yang peduli sesama dan hapuskan kesenjangan. Inilah persembahan kami. Selamat menyaksikan."

Aku tercengang mendengar presentasi yang baru saja disampaikan seorang kakak kelas. Konsep kami sama persis. Tak hanya konsep, adegannya pun nyaris sama. Aku melirik pada anggota timku. Mereka gelisah, kami akan presentasi setelah ini. Apa yang akan kami lakukan sekarang?

Aku bersama tim begitu kecewa karena film yang kami buat harus didiskualifikasi karena kemiripan konsep. Bukan hanya mirip, melainkan juga sama persis. Rasanya lelahku dan tim belakangan ini menjadi sia-sia.

"Sabar, ya. Ken, lain waktu kita bisa coba lagi," ucap Wulan menenangkanku.

Aku hanya diam. Kulihat Tiara dan Vian masih sangat kecewa bahkan marah,

"Kok bisa konsep kita sama persis dengan mereka? Ini pasti ada yang membocorkan," ucap Vian sembari mengepalkan tangan dan mengetukkannya ke meja.

"Ya sudahlah Vian, mungkin memang kita kurang beruntung," ucap Tiara.

"Kita pulang saja. Kita butuh istirahatm," ucapku lalu bangkit dari duduk.

***

Aku tengah menikmati waktu istirahatku dengan teman-teman di kelas. Saat istirahat, kami jarang ke kantin. Kami biasa membawa bekal makanan dari rumah. Saling cicip menjadi kebiasaan kami. Momen seperti ini membuat kebersamaan kami lebih terasa.

"Wulan pelakunya," ucap Tiara tiba-tiba menghampiri kami dengan raut marahnya.

"Ada apa sih?" tanyaku.

"Nah, itu dia datang," jawab Tiara sambil melihat ke arah pintu kelas.

Tiara langsung menghampiri Wulan yang baru saja datang. Tiara menjegal Wulan yang akan duduk di bangkunya.

"Kamu kan yang membocorkan konsep film pendek kita ke kakak kelas?" ucap Tiara meninggi.

Kami menghentikan kegiatan makan bersama dan langsung menghampiri mereka yang tengah berseteru. Aku berusaha melerai keduanya.

"Ini ada apa sih?" tanyaku.

"Wulan yang sudah membocorkan konsep film kita, Ken. Dia itu musuh dalam selimut," ucap Tiara.

"Apa maksudmu?" Tanya Wulan.

"Aku lihat tadi kamu bertemu dengan kakak kelas yang memenangkan perlombaan kemarin. Kamu mengucapkan selamat dan dia berterima kasih atas kerjasamamu. Jelas kan?" jawab Tiara.

Semua pandangan kini mengarah pada Wulan. Wajahnya memerah dan matanya seperti menahan tangis. Wulan langsung menerebos kerumunan orang yang mengitarinya dan berlari meninggalkan kelas.

Seisi kelas maish ramai membicarakan Wulan. Aku tak percaya dengan semua yang kudengar, Wulan adalah sabahatku. Mungkinkah ia tega melakukan semua ini?

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Namun, Wulan tak kunjung kembali, Tasnya masih tersimpan di bangku yang kini kosong tak berpenghuni. Di manakah Wulan saat ini? Berkali-kali kucoba menghubungi Wulan, tetapi ponselnya tidak aktif, aku dan Vian mulai mencari berbagai sudut di sekolah. Hasilnya nihil.

Sebelum pulang, aku mampir ke rumah Wulan untuk mengantarkan tasnya. Rumahnya sepi. Setahuku keluarga Wulan semuanya pekerja dan baru malam hari ada di rumah. Tampaknya Wulan tak ada di rumah. Aku harus mencari Wulan ke mana? Aku mulai mengkhawatirkannya.

Keesokan harinya, Wulan hanya diam dan selalu menghindar ketika kami dekati. Saat jam istirahat pun, ia memilih keluar kelas daripada berkumpul dengan kami. Sebenarnya, kami hanya ingin ia menjelaskan kejadian sebenarnya. Sikapnya yang seperti ini justru membuat kami menjadi yakin bahwa ia memang dalam semua ini.

Sepulang sekolah, aku sengaja menghampiri Wulan untuk mengajaknya pulang bersama. Namun, sikapnya masih sama. Ia langsung membereskan barang-barangnya dan melangkah pregi tanpa melirikku. Aku mengejarnya, tetapi ia terus berjalan dengan sangat cepat.


"Sudahlah, Ken. nggak usah dikejar, biarkan saja di sendiri dulu," ucap Tiara sambil menarik tanganku.

Aku mengikuti saran Tiara. Mungkin Wulan memang butuh waktu untuk sendiri. Kuharap semua ini cepat selesai. Tak enak rasanya perang dingin dengan sahabat sendiri.

"Eh, kamu pulang duluan saja. Aku  ada perlu," ucapku pada Tiara.

"Mau ke mana?" Tanya Tiara.

Aku melambaikan tangan dan bergegas meninggalkan Tiara. Aku berlai untuk mencari seseorang yang biasa memberiku informasi tentang Wulan.

"Boleh ganggu sebentar?" ucapku dari ujung pintu kelasnya.

"Aku ambil tas dulu ya," jawab Adrian.

Aku menunggu Adrian di depan kelasnya. Ia tampak mengambil tas dan berpamitan pada teman-temannya.

"Kita ngobrol di tempat yang enak, ya" Ajak Adrian.

Aku mengangguk tanda mengiyakan ajakannya. Kami berjalan bersama menuju tempat parkir sekolah.

Adrian membawaku ke sebuah tempat makan yang baru kali ini aku datangi. Tempatnya cukup ramai. Kulihat banyak anak sekolah yang sengaja datang kesini untuk makan, nongkrong, bahkan belajar bersama.

Pandanganku tertuju ke berbagai arah. Banyak hal yang menarik perhatianku dari tempat ini. Aku suka dengan konsep dekorasinya yang begitu sederhana namun sangat nyaman. Adrian tengah sibuk memesan beberapa camilan dan minuman sementara aku terus memerhatikan sekeliling.

"Suka sama tempatnya?" tanya Adrian

"Ah, iya..." jawabku.

"Jadi, apa yang bisa aku bantu?" lanjut Adrian.

"Wulan ada cerita-cerita apa gitu sama kakak?" tanyaku.

"Wulan? Memang ada apa dengan dia?"

"Mungkin dia cerita sesuatu sama kakak?"

"Hmm... Nggak cerita apa-apa sih, malah dia jutek sama aku."

"Jutek?"

"Iya, udah beberapa hari ini dia jutek banget. Memang ada apa sih?"

"Ada sedikit masalah sih, kak. Aku kira dia ada cerita sama kakak, makanya aku tanya."

"Masalah apa?"

"Soal lomba film kemarin. Aku juga nggak tau sih persisnya gimana, Wulannya juga ngehindar terus. Nggak enak juga, kak perang dingin kayak gini."

"Oh, gitu. Eh sebentar," ucapnya sambil merogoh tas ransel.

Andrian menyodorkan sebuah kotak padaku. Aku mengambil dan perlahan membuka isi kotak tersebut.

"Tadi pagi aku mau titip ke Wulan, tapi dia malah pergi begitu saja."

"Ini buat aku?" tanyaku sambil memperlihatkan isi kotak tersebut.

"Suka nggak?"

"Aku nggak bisa terima, kak," jawabku sambil menyodorkan kotak tersebut.

"Suka nggak?"

"Aku nggak bisa terima, kak," jawabku sambil menyodorkan kotak tersebut.

"Kenapa?"

"Sebenarnya selama ini aku merasa nggak enak dengan semua kebaikan kakak."

"Aku senang melakukannya dan aku tulus, kok."

"Tapi..."

"Ken, aku memang suka padamu, tapi aku nggak berharap apa-apa. Dengan kamu tahu dan bisa dekat denganmu itu cukup buatku. Jadi, please terima ini ya."

Aku terdiam sambil terus menatapi kotak yang ada di tanganku. Selama ini Adrian memang sangat baik padaku. Ia perhatikan dan terlalu 'dermawan'. Beberapa kali Adrian kerap mengungkapkan perasaanya padaku. Namun, aku selalu menolaknya. Kupikir ia akan berhenti mendekatiku. Nyatanya, ia patang menyerah.

"Sudah jangan dipikirkan. Simpan dan sekarang makan."

Perkataan Adrian membuyarkan lamunanku. Sontak kumasukan kotak pemberiannya ke dalam ransel. Kami menyantap makanan yang kini terhidang di meja kami.

***

Aku berpamitan pada Adrian untuk masuk ke dalam rumah. Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya. Kubalikkan tubuh membelakanginya. Tiba-tiba langkahku terhenti karena Adrian menahan tanganku.

"Ken, jangan banyak pikiran, ya. Urusan Wulan, nanti aku coba cari tahu."

Aku tersenyum dan mengangguk. Adrian melepaskan tanganku dan kembali melambaikan tangannya. Aku melanjutkan langkah lalu masuk ke dalam rumah.

Sudah beberapa hari belakangan Wulan tak masuk sekolah. Ia seperti menghilang ditelan bumi. Wali kelas pun tak pernah mendapat kabar apa pun dari keluarganya perihal ia tak pernah masuk sekolah. Aku dan teman-teman sudah berusaha menghubunginya. Entah berapa kali dalam sehari aku menghubungi ponselnya tapi selalu tidak aktif. Kami pun beberapa kali mendatangi rumahnya, tetapi selalu saja dalam keadaan kosong.

Begitu sampai di rumah, aku kaget melihat Wulan tengah menungguku. Wajahnya sembab. Ia berlari dan langsung memelukku. Aku menenangkan Wulan sambil menepuk lembut pundaknya. Wulan masih menangis. Perlahan kulepaskan pelukan Wulan dan mengajaknya ke kamar.

"Minum dulu," ucapku sambil menyodorkan segelas teh hangat.

Wulan menyesap teh yang kusuguhkan. Sesekali ia menyeka air matanya.

"Maafkan aku, Ken," ucap Wulan sambil terisak.

"Kamu tenang dulu, ya. Ceritakan semuanya padaku."

"Aku cemburu, Ken." Wulan membenamkan wajahnya.

"Maksudmu?" tanyaku heran.

"Aku iri padamu. Kamu pintar, populer, dan semua orang menyukaimu."

Aku terhenyak dengan pengakuan Wulan. Selama ini kami berteman sangat baik. Namun, aku tak pernah menyangka ternyata Wulan semarah ini padaku.

"Aku selalu iri melihatmu mendapat pujian dari guru karena prestasi akademikmu di kelas. Belum lagi setiap perlombaan yang kamu ikuti selalu membawa pulang piala. Dan pria yang aku sukai pun tergila-gila padamu."

"Kak Adrian?" tanyaku.

"Iya. Selama ini aku cemburu lihat Kak Adrian begitu perhatian padamu. Awalnya kupikir akan biasa saja ketika bercerita semua kekagumannya padamu. Ternyata hati aku sakit, Ken. Kenapa meski kami sih, Ken? Padahal aku jauh mengenalnya sejak lama."

Aku terdiam mendengar semua ucapan Wulan. Hatiku sakit. Orang yang selama ini aku anggap sebagai sahabat ternyata menaruh kebencian padaku. Aku merasa sudah menjadi teman yang paling jahat baginya.

"Rasa iri telah membuatku hilang arah. Sekarang, semua orang benci padaku. Seperti yang Tiara bilang. Aku musuh dalam selimut. Aku nggak berani menampakkan wajahku lagi di depan teman-teman. Mereka selalu memandang sinis padaku."

"Maafkan aku sudah jahat sama kamu, Lan. Teman-teman nggak marah padamu. Mereka hanya butuh penjelasanmu," ucapku sambil memeluk Wulan.

"Mereka pasti benci sama aku, Ken. aku malu bertemu mereka," jawabnya terus terisak.

"Kita nggak pernah membencimu sama sekali. Justru kami khawatir karena kamu sudah lama nggak masuk sekolah."

Aku mulai melepaskan pelukan. Kutatap Wulan sambil memegang pundaknya. Wulan masih terus menangis.

"Aku bukan sahabat yang baik, Ken. Sahabat macam apa yang iri dengan sahabatnya sendiri. Aku harusnya mendukungmu bukan menjatuhkanmu," ucapnya sambil menatapku.

"Stt... Kamu nggak boleh ngomong seperti itu. Kita lupakan semuanya, kita mulai lagi dari awal."

"Tapi teman-teman yang lain?"

"Kita bicarakan baik-baik."

Wulan memelukku erat. Kami hanyut dalam emosi yang begitu dalam.

***

Aku datang ke sekolah bersama Wulan. Wulan sengaja datang ke rumahku karena ia tak berani untuk datang ke kelas seorang diri. Teman-teman begitu kaget melihat kedatangan Wulan. Pandangan mereka masih sama kepada Wulan. Mereka masih memandang sinis dan tak mau mengajaknya mengobrol. Wulan terlihat tak nyaman dengan suasana kelas saat ini.

Tiara menghampiri aku dan Wulan. Aku tersenyum dan mengajaknya untuk duduk bersama. Tiara menarik tanganku dan membawa keluar kelas.

"Wulan itu sudah buat masalah, Ken.'

"Wulan itu sahabat kita, Ra."

"Sahabat itu nggak akan nusuk kita dari belakang."

"Setiap orang pernah membuat kesalahan."

Tiara terdiam mendengar ucapan terakhirku. Sebenarnya aku pun sangat marah dengan tindakan Wulan pada kami. Namun, aku menyadari bahwa ini bukan sepenuhnya kesalahn Wulan. Apalagi saat ini Wulan ingin memperbaiki diri, Apakah ia harus terus disalahkan?

Aku menarik Tiara untuk kembali ke kelas. Sesampai di kelas, aku mengajak Wulan untuk bicara di depan kelas. Awalnya Wulan menolak, tetapi aku memaksanya agar semua ini segera berakhir.

Suasana kelas berubah hening. Semua pandangan tertuju pada kami bertiga yang kini ada di muka kelas.

"Ayo bicara," ucap Tiara dengan nada tinggi pada Wulan.

"Maafkan aku teman-teman. Aku mengaku salah." jawab Wulan perlahan.

"Apa alasanmu melakukan itu semua?" Tanya Vian.

"Ini semua karena aku," ucapku.

Sontak saja seisi kelas menjadi makin bingung. Mereka saling bertanya dengan hal yang baru saja kuucapkan. Wulan menggeleng dan memintaku untuk tidak menceritakan hal yang sebenarnya.

"Aku nggak bisa menjadi sahabat yang baik..."

Aku menghentikan ucapanku saat Wulan menarik tanganku. Wulan menatapku dan memintaku agar membiarkannya bicara.

Wulan mulai menceritakan apa yang melatarbelakangi ia berbuat hal tersebut. Kulihat Wulan mulai terisak saat berbicara di depan teman-teman. Reaksi teman-teman sama seperti reaksiku kemarin. Kami hanya tak habis pikir bahwa Wulan bisa bertindak seperti itu.

"Aku menyesal. Aku janji tidak akan pernah mengulangnya lagi. Aku benar-benar minta maaf. Aku tahu kalian pasti benci banget sama aku. Kalau memang perbuatanku ini nggak bisa kalian maafkan, aku terima."

Aku langsung memeluk Wulan. Entah mengapa aku malah merasa sangat bersalah padanya. Akulah alasan ia melakukan semua ini.

Tiara menarik tubuhku yang masih memeluk Wulan. Tiara menyeka air mata Wulan.

"Lan, kita itu memang bersaing satu sama lain, tapi kita bersaing secara sehat. Jangan sampai karena satu dan lainnya membuat kamu melakukan segala hal untuk menjatuhkan orang lain." ucap Tiara.

"Betul kata Tiara, wajar ketika kita marah pada seseorang tapi bukan berarti kita menutup hati. Kalau kamu mengira kita membencimu. itu salah," ucap Vian.

Aku lega mendengan ucapan Tiara dan Vian. Kulihat teman-teman lain pun cukup memahami kondisi ini. Wulan mulai menyunggingkan senyumnya.

"Lega ya, Lan," ucapku.

"Iya, terima kasih ya, Ken."

"Maafin aku juga ya, Lan"

"Kamu nggak salah, aku yang harusnya minta maaf. Kamu maafin aku kan?"

Aku mengangguk dan tersenyum pada Wulan. Senang rasanya kesalahpahaman ini berakhir. Kuharap semua akan kembali normal.

"Oh iya Ken. Bukan bearti aku akan mengalah urusan Adrian, ya," bisik Wulan.

"Sainganmu terlalu berat." jawabku sambil tertawa.

Seorang pemenang adalah ia yang rela dengan lapang, memaafkan segala kecurangan walau datang dari orang tersayang.

Profil Penulis

Gie Anggraini lahir dan besar di Bandung. Perempuan yang lahir di tanggal 22 September ini telah menelurkan beberapa karya seperti puisi, cerpen, musikalisasi puisi, dan short movie. Novelet pertamanya “Merindukan Hujan” diapresiasi cukup baik oleh para pembaca. Perempuan yang biasa disapa Gie ini sedang gencar mempromosikan novel terbarunya “Yang Pernah Singgah”.

Cerpen! Neon Ghost Cafe

Cerpen! Neon Ghost Cafe

INIKECE - Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu bersiweran di pandang. Warna-warna cantik itu terpantul bersamaan dengan gemericik air hujan yang terjatuh ke kubangan. Ketujuh warna itu berasal dari lampu papan nama sebuah coffee shop yang berada di tingkat dua sebuah ruko.

Di sebelah kanan ruko empat tingkat itu, ada jalan setapak yang tak kalah semarak dengan lampu beraneka warna yang mencolok. Neon memang selalu menghidupkan Kota Seoul di sore hingga malam hari dengan caranya sendiri.

"Hihihihi!" sepatu converse seorang remaja berseragam sekolah menghancurkan bias cahaya beraneka warna di kubangan yang sejak tadi menarik pandangku. Aku sendiri tak mengerti mengapa mata, hati, dan pikiranku tertuju ke sana. 

Ibukota Korea Selatan ini begitu besar. Area Gangnamnya merupakan destinasi favorit bagi banyak wisatawan. Anehnya, sudah hampir setengah jam aku duduk di sebuah kursi kayu panjang suatu ruko kosong, aku hanya senang memperhatikan kubangan air.

Duduk di kursi kayu panjang yang mengingatkanku pada bangku kelas SD dulu sebenarnya bukan keinginanku saat ini. Aku yang tengah berwisata keliling Seoul seorang diri tiba-tiba saja kehujanan dan memilih untuk berteduh di sebuah ruko kosong.

Ada kursi kayu panjang tak terpakai yang ditaruh di samping pintu masuk. Karena kelihatannya hujan semakin deras, aku memilih untuk duduk di kursi ini. Di saat itulah, kubangan air di hadapanku begitu menarik perhatian.

"Hadi gadis cantik, kau tidak membawa payung?" Seorang Ibu paruh baya keluar dari pintu ruko kosong. Dilihat dari gesturku yang memanggul backpack, mungkin logikanya menerka bahwa seharusnya aku membawa berbagai barang penting, termasuk payung.

Aku menggelengkan kepala dan merespons ibu paruh baya itu dengan bahasa yang juga dipakai olehnya, yaitu bahasa Korea, "Tidak"

"Atau, mampir saja ke coffee shop seberang," tunjuk si ibu paruh baya, "di sini, dingin."

"Terima kasih," aku sedikit membungkukkan badan.

"Kenapa kau bisa tak membawa payung? Padahal tas punggungmu besar sekali? Ah! Kau sedang duduk begini, mengapa tas di punggungmu tak kau lepas dahulu?" untuk ukurang orang yang baru kenal, ibu paruh baya ini terbilang penuh percaya diri.

Pertama, dia spontan saja memberiku nasihat perihal tas dan payung. Kedua, dari perawakanku, seharusnya dia tahu bahwa aku bukan orang Korea, tetapi di yakin sekali aku bisa merespons setiap perkataannya.

"Mengapa kau berbicara kepadaku menggunakan Bahasa Korea?" kutanyakan saja hal mengganjal pada ibu paruh baya ini.

"Rupanya kau wisatawan?" Ibu paruh baya ini terus berbicara denganku. Rupanya, dia masih begitu percaya diri jika aku bisa berbicara Bahasa Korea. Negara gingseng ini memang bagaikan negara kedua bagiku. Hampir setiap tahun aku datang ke sini. Alasannya bisa karena pekerjaan, belanja, atau travelling.

Aku menganggukkan kepala, "Benar apa kata anakku. Kau ini sedang liburan di sini."

"Siapa anakmu?" aku mulai menggeser cara dudukku, agak berjarak dari ibu paruh baya ini. Apakah salah jika aku takut? Apalagi, selama aku berbincang dengan ibu paruh baya ini, belum lagi ada orang yang wara-wiri di sekitar sini. Suasana sepi di sekitarku seolah memagariku dengan kenyataan bahwa aku hanya berdua dengannya.

"Itu, yang sedang melihat kita dari jendela lantai dua. Dia adalah anakku," ibu paruh baya menunjuk jendela kaca yang terletak di bawah papan nama Neon Cage. Kuikuti kemana arah telunjuk si ibu paruh baya dan kutemukan sesosok pria tinggi sedang memandang ke arahku. "Kau ke coffe shop sana saja! Minum kopi, santai, dan tak usah membayar, tapi kau share di social media, ya? Hitung-hitung promosi usaha anakku yang masih sepi."

Aku mengeryitkan dahi, memperhatikan sosok pria pemilik coffee shop itu dengan lebih seksama. Kalau aku tak salah lihat, dia tengah menggendong sesuatu. Mungkin hewan peliharaannya. Kalau tidak kucing, mungkin anjing.

"Terima kasih," sudah tak tahu ingin berkata apa kepada si ibu paruh baya, kata 'terimakasih' kembali kulontarkan. "Eh?" akan tetapi, begitu aku menoleh, dia sudah tak ada di tempat. Aku jadi penasaran ke mana perginya. Untuk masuk ke ruko kosong rasanya tidak mungkin. Pintu di samping bangku panjang yang kududuki ini ternyata dalam keadaan tergembok.

Refleks, aku mendongakkan kepala. Mencarai sosok pria tinggi yang tadi berdiri di jendela kaca coffee shop. Rupanya, pria itu juga sudah tak ada di sana. Aku jadi tergerak untuk beranjak dari bangku. Biar saja menerobos hujan seperti remaja berseragam sekolah yang tadi lewat. Firasatku mengatakan bahwa lebih cepat aku meninggalkan tempat ini, tampaknya lebih baik.

Baru saja aku mengayunkan langkah, aku kembali dikejutkan dengan tak adanya titik-titik air hujan yang membasahiku. Aku merasa cahaya biru keunguan menyelimuti raga. Aku mendongakkan kepala dan mendapati diriku sudah dipayungi. Efek glowing in the dark dari payung ini yang membuat diriku bermandikan cahaya neon biru keunguan, sama dengan warna lampu yang tadi kulihat di kubangan.

"Do you want a cup of coffee? A Cup of black sesame latte?" Seorang pria Korea yang sebenarnya tak kukenal, tak kuketahui, tetapi serasa tak asing bagiku seketika muncul di hadapanku. Baret hitam yang dikenakannya mengingatkanku dengan seorang seniman atau pelukis. 

Wajah tampan dengan pandangan sayu dan ekspresi tersenyum tanggungnya bermandikan cahaya merah keunguan. Ada warna seperti itu di raganya mungkin berkat payung yang dia genggam dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sudah memayungiku dengan payung lainnya, yang bercahaya biru keunguan.

"Kau yang tadi berdiri di jendela lantai dua?" Responsku dengan menggunakan Bahasa Korea.

Mendengar aku melontarkan Bahasa Korea, pria itu termenung sesaat.

"Apakah cara pengucapanku salah?" aku jadi ketakutan sendiri.

"Maaf," pria itu malah sedikit menundukkan kepala, "jika selama berkenalan nanti, aku terlihat aneh," ucapnya, "aku tak bisa membedakan mana kawan kasat mata atau tidak. Makanya, hanya Niyo temanku."

"Niyo?" aku memandang sekeliling. Kalau pendengaranku tak salah, tadi pria ini mengatakan bahwa dirinya mempunyai kawan yang terlihat maupun yang tidak. Kalau memang begitu, apakah Niyo yang dia maksud adalah makhluk tak kasat mata?

"Aku Kim Jeong Sin, pemilik Neon Caffee yang masih sepi pengunjung ini. Mari masuk!" Pria yang baru kuketahui namanya ini menunjuk ruko coffee shop miliknya dengan dagu. Aku bisa saja menolak, tetapi entah mengapa kedua kakiku bagai ditarik magnet untuk memasuki tempat penuh lampur neon itu.

"Ibumu? Dimana? Selama mengayunkan langkah bersama Jeongsin, aku iseng saja melemparkan pertanyaan kepadanya.

"Ibuku?" Jeongsin malah mengernyitkan dahi. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"

"Ah! Tidak! Tidak! Tidak!" seruku seraya mengangkat kedua tangan.

"Kalau tidak pernah bertemu, kau kenal ibuku dimana?" selidik Jeongsin, "Semua orang yang dikenal ibuku, pasti aku mengenalinya. Ibuku pendiam dan tak banyak teman. Jadi, aku tahu semua temannya."

"Ibumu bukannya banyak bicara?" aku sebenarnya bisa saja tak banyak bertanya. "Tadi saja, dia berbicara banyak kepadaku."

"Rupanya, dia muncul lagi!" Sepatu Pantofel Jeongsin menginjak kubangan air yang berada di tepat depan ruko. Aku sempat melihat sepatu pantofel cokelat itu jadi sedikit basah. Sayang menurutku jadi kotor begitu. Pasti harganya sangat mahal.

"Maksudmu?" aku jadi tak mengerti mengapa wajah Jeongsin tampak kebingungan. Dia buru-buru menoleh ke belakang, ke arah tempat bangku'ku tadi. "Huh! Dia bukan ibuku!" serunya seraya melanjutkan langkah dan sampai di depan pintu ruko.

Meski masih bingung dengan kata-katanya, aku ikuti saja Jeongsin ke dalam ruko. Toh kelihatannya, caffeenya seru.

Pintu ruko dibuka. Kami berdua pun menaiki tangga dan menuju caffee. Ketika sampai di lantai dua, kedua mataku mendapati papan nama caffee yang sama dengan yang berada di luar. "Neon Caffe", tulisan dari nama caffee ini pun menggunakan Neon.

Pintu kaca caffee dibuka. Aku langsung membuka mulut lebar-lebar. Luar biasa cantik interior neon yang terpasang di sepanjang dinding caffee. Ada yang membentuk huruf hangeul, siluet manusia, binatang, benda astronomi, kata-kata mutiara atau quote, dan beberapa bentuk makanan. Cahaya lampu remang-remang pada ruangan membuat interior neon itu jadi mencolok, seolah-olah "glowing in the dark."




Ketika Jeongsin membuka pintu caffe, seorang pria Korea lain yang berada di meja kasir mengangkat tangan, gestur menyapa.

"Guk!" tak lama kemudian, seekor anjing kecil berjenis Pomeranian menghampiri. Kedua mata bulatnya begitu polos dan membuatnya semkain menggemaskan. Apalagi, wajah lucunya dikelilingi bulu panjang kecokelatan yang bagus dan halus. Di leher mungilnya, tergantung bandulan metal bertulisakan 'Niyo' dalam alfabet.

Oh...jadi makhluk imut ini yang bernama Niyo. Tentunya tak mungkin menakutkan.

"Yangsin-hyung, ada tamu yang ingin black sesame coffe! Bisakah kau membuatkannya?" sambil menggendong Niyo, Jeongsin berseru pada pria bernama Yangsin itu di meja kasir. Dibandingkan Jeongsin, gaya berpakaian Yangsin lebih casual dengan T-shirt, celana jins, sport watch, dan celemek. Kelihatannya dia adalah seorang barista.

"Silahkan duduk! Perkenalkan, aku Kim Jeong Hoon." Rupanya ada pria ketiga dalam ruangan ini. "Jika kau bosan, kau bisa membaca buku yang tersimpan di rak buku sebagai kawan minum kopimu," ketika bicara, dia tak menatap wajahku. Tatapannya tertuju ke bawah, pada buku yang tengah dibacanya. Gaya berpakaian sungguh formal dengan kemeja putih, dasi hitam, dan kaca mata.

Di tengah diding, aku melihat sebuah foto yang satu-satunya tak berunsur neon. Justru, cahaya kuning dari lampu pijar menyorot eksklusif ke sana. Foto itu bergambar Jeongsin, Yangsin, dan Jeonghoon saling merangkul bersama ibu paruh baya yang tadi berbincang denganku. Dilihat dari cara mereka berempat berpelukan di foto, kurasa mereka berempat memiliki hubungan keluarga. Kemungkinan besar tentu saja hubungan ibu dan anak.

Lalu, kalau memang benar ibu paruh baya yang tadi adalah wanita yang sama di foto itu, mengapa Jeongsin mengatakan bahwa ibu paruh baya itu bukan ibunya?

"Orang ini katanya tadi melihat ibu." ucap Jeongsin seraya menunjukku.

"Di mana dia melihat ibu?" tanya Yangsin seraya menyiapkan sesuatu mungkin secangkirneon black sesame coffe untuku.

Dengan meragu, kutunjuk foto gi dinding, "Tadi ada wanita di dalam foto bersama kalian ini yang mengajakku bicara di bawah sana," lalu, aku menunjuk salah satu jendela kaca.

"Jadi, dia sampai mengajakmu bicara di depan ruko kosong yang ada diseberang itu?" Jesongsin memadangku lekat-lekat. Sambil membelai kepala Niyo dengan lembut, dia berkata kepadaku, "Mereka hanya menyerupai ibu kami."

"Ibu kami sudah meninggal dua bulan lalu," lanjut Yangsin, "Kami bertiga adalah saudara yang mempunyai caffe ini."

"Hah? Sudah meninggal?" aku hanya menutup mulut dengan kedua tangan, bingung harus berekspresi apa. Bulu kudukku pun mungkin masih berpikir kira-kira perlu bergidik atau tidak. Aku sungguh tak mengerti dengan situasi saat ini.

"Dalam keadaan sakit, ibu tetap membantu kami mengurus caffee. Sampai akhirnya, dia meninggal kelelahan dan terkena serangan jantung diisii"

"Dalam keadaan sakit, ibu tetap membantu kami mengurus caffee, sampai" tanda dia tinggal  menelan ludah.

"Meninggal di sini?" aku menalan ludah.

Jeongsin mengangguk, "Banyak hal yang masih ingin ibu lakukan untuk membantu kami di caffe ini. Energi yang tak selesai itulah yang dimanfaatkan arwah jahat untuk menjelma menjadi ibu."

Aku memantau keadaan langit dari kaca jendela caffee. Hari sudah mulai gelap. Aku jadi tak tahu apakah hujan sudah berhenti turun atau tidak, aku merasa labih baik untuk cepat pulang. Keberandaanku di sini sangat absurd. Bukan hanya keberadaanku di sini saja, pertemuanku dengan ibu paruh baya tadi juga absurd.

"Maaf, hujan sepertinya sudah berhenti. Aku harus pulang," baru saja aku mencoba membuka pintu caffee, beberapa orang tampak berdiri di depan pintu. Jeongsin langsung menghadangku dengan seolah membukakan pintu untuk para tamu yang baru datang.

"Anyyonghaseyo," sambut Jeongsin kepada para tamu.

"Anyyong." beberapa orang tamu menempati meja paling pojok, dekat dengan rak buku.

"Secangkir neon black sesame latte untukmu." Yangsin menaruh sebuah cangkir di meja kosong samping meja kasir.

Seharusnya, aku mengambil menumanku itu, tetapi aku merasa lebih baik segera pulang. "Sudah tidak hujan, aku harus pulang," aku kembali mengayunkan langkah menuju pintu caffee. Entah kebetulan atau bagaimana, ada beberapa tamu lagi yang mendatangi caffee. Jeongsin pun kembali menghalangiku dengan gestur seolah membukakan pintu untuk tamu yang baru datang. Perlahan caffee ini jadi ramai.

"Sudah malam, saatnya lampu dimatikan," ucap Jeongsin. Dia melepaskan Niyo dan memencet saklar ruangan.

Sekejap, ruangan begitu gelap gulita. Namun, sedetik kemudian, munculah arsiran dan siraman Neon baru di dinding maupun langit-langit ruangan. Ditambah lagi, rupanya, banyak barang di ruangan ini yang memiliki efek glow in the dark atau neon berwarna mencolok. Salah satunya adalah cangkir balck sesame ku. Wadah minuman itu tampak melayang. Padahal, dibawhanya ada meja sebagai benda diletakannya minuman itu.

Tak hanya itu, pakaian para pemilik caffe pun berbalik berganti warna dan mencolok. Begitu juga dengan rak buku, pantofel milik Jeongsin, sport watch Yangsin, kaca mata Jeonghoon, bahkan make up salah satu tamu yang berkonsep neon turut memberikan efek di ruang gelap ini.

"Welcome to our Neon Party," Jeongsin bertepuk tangan. Aku dengar tepukannya dalam gelap.

Aku merasa kian asing dengan suasana pesta ini. Tak pikir panjang, aku memutuskan untuk keluar caffee. Jika ada tamu lagi yang datang, aku bertekat untuk tetap pergi.

"AAAA!" di saat itulah, aku berteriak kencang. Di depan cafee, wanita paruh baya yang tadi berbincang denganku sudah berdiri di depan pintu caffe. Dari sorotan cahaya yang kudapat dari neon papan nama caffee di luar, kulihat rambutnya basah. Begitu juga dengan bajunya.

***

Sambil terus memberanikan diri, aku senggol saja ibu paruh baya itu dan berlari menuruni tangga. Bulu kudukku kali ini bergidik lantaran menerima kenyataan bahwa aku tak bisa menyenggol ibu paruh baya itu, melainkan menembus raga.

Ketika aku hendak turun kebawah melalui tangga, rupanya aku berpapasan dengan seorang remaja berseragam sekolah yang tadi sempat kulihat berlarian dan menginjak kubangan air di depan ruko kosong.

"Kamu mau kemana? Neon Caffee?" tanyaku kepada remaja berseragam sekolah itu.
"Lebih baik pulang saja! Caffee itu aneh! Ada hantu!" ujarku apa adanya. Aku mulai merasakan peluh meleleh dari pelipisku.

"Hihihihi!" Remaja itu tertawa cekikikan. "Sesungguhnya, aku memang sedang mencarimu. Justru aku yang tak mau kau terjebak di Neon Caffee. Jeongsin selalu membujuk kawan baru dari dua dunia untuk meramaikan caffenya."

Meski tak mengerti maksud dari kata-kata yang dicuapkan remaja ini, aku ikuti saja langkah kakinya untuk turun keluar ruko. Sepertinya pilihan terbaik memang meninggalkan Neon Caffee.

"Tapi, ngomong-ngomong, siapa yang menyuruhmu menghampiriku?" sambil berlari, aku melemparkan pertanyaan kepada si remaja yang baru kuperhatikan seragamnya sudah sangat kusam dan lecek.

Si remaja itu tak menjawab pertanyaanku. Dia membuka pintu ruko.

Kini, udara luar sudah menyambutku. Aku merasa sebagian bebanku terlepas dari raga. Akan tetapi, bukannya menambah kecepatan berlari, aku malah terdiam kaku. Apalagi ketika kedua mata ini tertuju pada satu titik pandang

"Aaaa....aaaa....," bibirku gemetaran tiba-tiba. Aku tak percaya dengan terlepas dengan apa yang kulihat. Seorang wanita yang begitu familiar bagiku duduk kaku di bangku panjang depan ruko kosong. Wanita itu adalah aku, tepatnya ragaku.

"Cepat kembali ke tempatmu! Seru si remaja. "Kau ini ruh! Kami ini arwah! Kau belam waktunya! Kami sudah kemarin-kemarin! Kau belum bisa bersama Waktu.

"Se,jak, kapan?" aku memandang kedua tangan tangan dan lenganku.

Tak lama setelah itu, aku merasakan semuanya gelap. Kucoba untuk membuka mata ujung-ujungnya, hal yang aku temui adalah hitam.

Sampai akhirnya, aku merasakan seseorang menggucangkan tubuhku. Aku segera membuka mata. Dihadapanku, seorang suster tersenyum simpul ke arahku.

"Rupanya sudah sadar," ucap suster tersebut. Tentu saja dengan Bahasa Korea. "Jangan karean traveling, kau memaksakan diri harus pergi ke banyak tempat. Akibatnya, kondisi fisikmu drop."

"Siapa yang membawaku ke sini? seolah tak peduli dengan kondisi badan, aku malah penasaran dengan sosok orang baik yang membawaku ke rumah sakit. Apakah remaja berseragam sekolah tadi? Namun, sepertinya pertemuanku dengannya juga dipertanyakan eksistensinya.

"Seorang bernama Kim Jeongsin," respons suster.

Mendadak, semua gelap.

Mendadak, aku lebih memilih memejamkan mata.
Baru kali ini, aku lebih suka gelap.

Tolong! Jangan ada Neon lagi!

***

Silvarani adalah seorang penulis buku fiksi dan non-fiksi. Jumlah buku yang dituliskan adalah 18 buku. Hobby berceritanya disalurkan salah satunya melalui tulisan. Semoga para pembaca terhibur atau terinspirasi.

Segera Menemani Di Awal Tahun 2020! Temtem Game MMO Yang Ditunggu Segera Hadir

Segera Menemani Di Awal Tahun 2020! Temtem Game MMO Yang Ditunggu Segera Hadir

INIKECE - Kehadiran game Pokemon Sword and Shield memang cukup berhasil mengumpulkan para fans Pokemon di seluruh dunia untuk memainkannya. Pasalnya game tersebut menghadirkan cerita yang bisa dibilang baru.

Kesuksesan game Pokemon tersebut tentu mendorong para developer game lain untuk membuat game yang serupa. Salah satunya adalah Crema yang baru-baru ini mengumumkan game barunya yang bernama Temtem.

Temtem diketahui merupakan game MMO (Massively Multiplayer Online) yang memiliki gameplay mirip dengan Pokemon Sword and Shield. Nantinya para pemain dapat menangkap monster dan berduel dengan pemain lain secara online.

Selain itu visual grafis low-poly yang dihadirkan oleh game tersebut membuat game ini terasa ringan untuk dimainkan di platform mana pun. Hal tersebut juga memberi ciri khas tersendiri untuk game tersebut.




Diketahui bahwa pemain juga dapat melakukan barter (trade) dengan fitur yang telah disediakan nantinya. Jadi bisa dikatakan game ini merupakan pergabungan antara game Pokemon dan Growtopia.

Pihak Crema sendiri mengumumkan bahwa game Temtem akan segera diluncurkan pada tanggal 21 Januari 2020 mendatang dalam tahap early access di Steam. Mereka juga memiliki rencana untuk menghadirkan game tersebut di platform lainnya.