Akibat Diteriaki Virus Corona, Mayat Diindramayu Tidak Ada Yang Berani Evakuasi

INIKECE - Akibat dari penyebaran virus corona tersebut banyak sekali menjadi orang ketakutan dan lebih memilih untuk menjaga diri dan jauhi orang-orang terlebih dahulu. Banyak orang sekarang lebih memilih dirumah saja.

Keajaiban Bumi Yang Belum Terpecahkan Hingga Sampai Sekarang, Menjadi Misteri Bumi

INIKECE - Bumi selalu memiliki keajaiban, hingga fenomena alam yang luar biasa, sampai ada suatu tempat dimana tidak dapat diteliti keajaiban bumi tersebut dikarena masih menjadi misteri teka-teki bagi para ilmuan.

Cerita Power Girl! Pesona Sang Gadis Jagoan

INIKECE - Suara gaduh dan teriakan terdengar dari ruangan penuh matras dengan tulisan Ruang Latihan Judo itu. Terlihat seorang gadis dengan rambut kuncir kuda sedang bergulat dengan lelaki yang memiliki ukuran tubuh sedikit lebih besar darinya.

Ramalan April Hari Ini Berdasarkan Zodiak, Simak Yuk!

INIKECE - Diakhir pekan ini, ramalan zodiak hari ini meminta Scorpio dan Aquarius untuk lebih peka terhadap pasangan jika tidak ingin hubungan menjadi buruk. Sementara itu, Virgo diharapkan lebih waspada karena berisiko terkan alergi. .

Romance Remaja! So I Love My Ex - Dia Bukan Lagi Si Cungkring, Part 2

INIKECE - Aluna menarik dan membuang napasnya. Ia memalingkan wajah saat melihat keberadaan Zello. Oke, Aluna memang tahu Zello kuliah di tempat yang sama dengannya, tetapi dia tidak pernah tahu bahwa Zelo ada di Fakultas Ekonomi.

Lagi Musim Virus Corona, Bintang Manchester City Menggadakan Pesta Seks Dirumah

Lagi Musim Virus Corona, Bintang Manchester City Menggadakan Pesta Seks Dirumah

INIKECE - Akhirnya buka suara, Bintang Manchester City, Kyle Walker memberi tanggapan soal ia mengadakan pesta sex di rumah saat pandemi virus corona semakin menyebar.

Kyle Walker sendiri kedapatan melanggar aturan karantina usai dilaporkan mengadakan pesta seks di kediamannya selama isolasi. 

Dilansie dari laman Metro, pemain asli Inggris ini bersama temannya mengundang dua wanita ke kediamannya di Cheshire pada Kamis malam waktu setempat.

Louise McNamara (21 tahun) mengklaim bahwa ia meninggalkan rumah Walker pada jam 2 pagi dan mendapatkan bayaran sebesar 2.200 poundsterling (Rp 44 juta) usai menemani sang pemain.

Dalam pernyataannya, McNamara menyebutkan bahwa ia mendapat pesan dari bosnya bahwa ada klien dengan nama besar tertarik dengannya. Kemudian wanita cantik tersebut pergi ke Manchester untuk bertemu dengan kliennya, yang tak lain adalah seorang bintang sepak bola Liga Inggris, Walker.

"Saya bekerja dengan sebuah Agensi di Machester. Saya mendapat pesan dari bos ada klien yang tertarik," ujar McNamara.

Walker sendiri pun akhirnya mengucapkan permohonan maaf karena telah melanggar protocol lockdown yang diterapkan pemerintah Inggris.

Akibat wabah virus corona ini, pemerintah Inggris memberlakukan lockdown dan sejumlah larangan, di antara adalah larangan bepergian yang tidak penting dan kebijakan ketat tentang social distancing.

"Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk mengeluarkan permintaan maaf publik atas pilihan yang saya buat minggu lalu," ujarnya, dikutip dari situs The Sun.

"Saya mengerti bahwa posisi saya sebagai pesepakbola profesional membawa tanggung jawab. Karena itu, saya ingin meminta maaf kepada keluarga, teman, klub sepak bola, pendukung, dan publik karena mengecewakan mereka," lanjutnya.

Manchester City pun sudah siap melayangkan hukuman internal kepada Walker atas pelanggaran yang dilakukan oleh pemain vital di sector kanan pertahanan Citizens.

Ternyata China Ada Yang Terpapar Terkena Virus Covid-19 Tanpa Gejala Apapun

Ternyata China Ada Yang Terpapar Terkena Virus Covid-19 Tanpa Gejala Apapun

INIKECE - China telah melaporkan 39 kasus virus corona baru pada Minggu (5/4), naik dari 30 pada Sabtu (4/4) dan jumlah kasus tanpa gejala juga meningkat. Saat ini Beijing terus berupaya mengatasi wabah tersebut.

Komisi Kesehatan Nasional (NHC) menyatakan 78 kasus baru tanpa gejala telah diidentifikasi pada Minggu (5/4), dibandingkan dengan 47 pada Sabtu (4/4).

Kasus impor dan pasien tanpa gejala membuat China khawatir dalam beberapa pekan terakhir setelah berbagai langkah sebelumnya berhasil memangkas tingkat infeksi secara keseluruhan.

"Provinsi Hubei dengan ibu kota Wuhan yang menjadi asal wabah, mencakup setengah dari kasus tanpa gejala baru," ungkap otoritas kesehatan Hubei.

Total 705 orang dengan kasus tanpa gejala dalam pengawasan medis di penjuru China. Peningkatan kasus tanpa gejala itu membuat khawatir saat Wuhan bersiap mengizinkan warga meninggalkan kota itu pada 8 April untuk pertama kali sejak lockdown berlaku pada akhir Januari.

Hubei mulai melonggarkan perjalanan akhir bulan lal untuk kembali menggerakkan perekonomian China. Secara bersamaan, pemerintah berupaya mencegah gelombang kedua infeksi corona.

"Pejabat Wuhan mencabut status bebas epidemi pada 45 kompleks perumahan karena meningkatnya kasus tanpa gejala dan alasan lainnya," papar laporan kantor berita Xinhua.

Status bebas epidemi memungkinkan warga yang tinggal di kompleks perumahan di Wuhan untuk meninggalkan rumah mereka selama dua jam untuk sekali jalan.


China daratan melaporkan total 81.708 kasus, dengan 3.331 korban meninggal dunia. China menutup perbatasannya bagi warga asing saat virus itu menyebar secara global, meski sebagian besar kasus impor itu melibatkan warga China yang kembali dari luar negeri.

Dari kasus baru yang menunjukkan gejala, 38 orang masuk China dari luar negeri, dibandingkan 25 orang pada hari sebelumnya.

"Sebanyak 20 orang tiba di provinsi Heilongjiang dari Rusia. Semua adalah warga China yang terbang dari Moskow ke Vladivostok, termasuk 12 orang pada penerbangan yang sama 2 April, dan datang ke China melalui jalur darat," ungkap pernyataan pemerintah provinsi.

Derita Kesakitan! Membuat Banyak Nyawa Melayang Akibat Penyakit Ganas, Disebut Orang Batak Begu Attuk

Derita Kesakitan! Membuat Banyak Nyawa Melayang Akibat Penyakit Ganas, Disebut Orang Batak Begu Attuk

INIKECE - Suatu penyakit yang bilang cukup cepat mewabah dan begitu ganas. Penyakit ini mewabah di Tanah Batak, dan telah membuat banyak ratusan nyawa orang melayang akibat penyakit ini. Penyakit disebut orang batak sebagai Begu Attuk.

Begu artinya hantu sedangkan Attuk berarti memukul. Jika di gabungkan menjadi hantu yang terus-menerus memukul. Gejalanya dari penyakit ini adalah muntah-muntah dan buang air besar yang hebat. Mereka yang mengalami penyakit ini mengalami derita kesakitan seperti dipukul pada bagian perut.

Dalam Masyarakat dan Hukum Adat Batak, J.C. Vergouwen, ahli hukum adat kebangsaan Belanda yang pernah betugas di Tapanuli pada 1927-1930, menyebut bahwa Begu Attuk adalah sebutan orang Batak untuk penyakit kolera.

Setiap tahun menjelang musim kering, tetua adat yang disebut datu kerap kali memimpin upacara kurban penolak bala akibat wabah Begu Attuk. Namun sejak kapan penyakit ini menjadi momok yang menakutkan bagi orang-orang Batak?

Sisa Invasi Kaum Padri

Wabah kolera yang melanda negeri Batak buntut dari penaklukan kaum Padri Minangkabau. Pada 1818, kaum Padri yang dipimpin Tuanku Lelo menyerang ke Tapanuli yang salah satu misinya adalah melakukan islamisasi.

Dalam berbagai pertempuran, pasukan Padri jauh lebih unggul karena telah menggunakan pasukan berkuda yang dapat bergerak cepat. Penyerbuan itu menyebabkan sebanyak 200.000 orang Batak tewas.

Betapa banyak jenazah dan bangkai manusia yang dibuang pasukan Padri ke Sungai Batangtoru. Padahal Sungai Batangtoru merupakan induk dari beberapa anak sungai dan menjadi sumber air bagi penduduk di Pahae dan Silindung. Akibatnya, sungai tersebut menjadi penyebar penyakit.

Menurut Mangaraja Onggang Parlindungan Siregas, balatentara Padri mengurung kampung-kampung yang terkena penyakit munlar itu. Dari 800.000 penduduk Tanah Baoak meliputi Pahae, Silindung, Humbang, dan Toba tersisa hanya 200.000. Pahae menjadi daerah yang populasinya berkurang paling banyak, yakni 90 persen.

"Sesudah tentara Padri 25% membunuh penduduk asli Tanah Batak, menyusul pula kolera dan pes yang meminta korban 50% (dari penduduk Tanah Batak yang tersisa). Tinggal hanya 25%," tulis Parlindungan dalam Tuanku Rao.


Penyebaran wabah kolera ternyata jauh lebih berbahaya daripada serangan pasukan Padri. Bukan hanya menulari orang Batak, penyakit Begu Attuk ini ikut pun menyasar balatentara Padri. Makin lama penularannya kian menggerogoti. Pasukan Padri tidak mampu bertahan lebih lama lagi menghadapi serangan wabah yang mengancam mereka.

Satu-satunya jalan menghindari diri dari epidemi yang terus merajalela itu adalah dengan mengundurkan diri. Penyakit tesebut bahkan membuat laju tentara Padri menguasai Tanah Batak bagian utara terhenti. Pada 1820, mereka mundur kembali ke Minangkabau.

"Ternyata dalam waktu hanya sekitar tiga tahun, pasukan Padri memang terpaksa hengkang dari Tanah Batak Utara, terutama sebagai akibat serbuan kejam 'jenderal alam', yakni wabah menular yang oleh Batak hanya disebut sebagai begu attuk," tulis Pirmian Tua dalam Sihombing dalam Pendeta Mangaradja Hezekiel Manullang, Gelar Tuan Manullang.

Membuka Celah Kristenisasi

Penyakit kolera terus bercokol sejak pembumihangusan tentara Padri atas Tanah Batak. Banyaknya mayat-mayat yang bergelimpangan tidak sempat dikuburkan dan dibuang begitu saja ke sungai. Selain Sungai Batangtoru, Sungai Sigeaon dan Sungai Situmandi di dekat Taruntung jadi ikut tercemar.

Petaka ini menyebabkan berkembangnya penyakit di seluruh Tanah Batak. Para datu pun kelabakan mencari cara menyembuhkan penyakit ini.

"Akibat perjuangan yang sengit ini tidak ada kesempatan mengubur mayat dan dibiarkan saja busuk sendiri. Akibat dari mayat ini timbullah penyakit kolera dimana-mana," tulis T.E. Tarigan dalam Struktur dan Organisasi Masyarakat Toba.

Situasi yang terjadi di Tanah Batak menarik perhatian Sir Thomas Stamford Raffles. Gubernus Jenderal Inggris di Asia. Pada 1823, Raffles mengadakan rapat terbatas. Dalam rapat itu dilakukan pemetaan kawasan. Aceh dan Minangkabau adalah kawasan beragama Islam sedangkan Tanah Batak-Tapanuli menjadi kawasan beragama Kristen.

Raffles begitu semangat mendorong misi penginjilan ke kalangan orang Batak. Menurutnya Tapanuli khususnya bagian utara harus secepatnya di-Kristen-kan. Apalagi wilayah tersebut usdah ditinggalkan pasukan Padri.

"Beberapa sumber menyatakan bahwa Raffles mencoba memisahkan orang Aceh Islam yang kuat di sebelah utara Tanah Batak dari orang Minangkabau Islam yang kuat di sebelah selatan," tulis Paul B. Pedersen dalam Darah Batak dan Jiwa Protestan: Perkembangan Gereja-Gereja Batak di Sumatra Utara.

Seruan Raffles itu disambut dengan pengiriman tiga misionaris dari Baptist Mission Society of England. Mereka berangkat dari Calcutta, India menuju Tapanuli. Salah satunya ialah seorang pendeta bernama Nathaniel Ward.

Nathaniel Ward ahli dalam bidang kesehatan. Dia ditunjuk untuk menyelidiki wabah kolera yang berjangkit di Silindung dan Toba. Penyakit inilah yang menggalkan pengislaman Tanah Batak. Turut bersama Ward, dua orang pendeta lainnya.

Richard Burton seorang linguis dan etnolog yang bertugas menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Batak. Satu lagi adalah Pendeta Evans, seorang guru yang akan mendirikan sekolah-sekolah Kristen di Tapanuli. Dengan demikian, sejak para misionaris itu bergerak dimulailah siar Kristen di Tanah Batak.

Aksi Keji Dilakukan Oleh Pembina Pramuka, Setelah Diperkosa Dan Dibunuh Sumsel

Aksi Keji Dilakukan Oleh Pembina Pramuka, Setelah Diperkosa Dan Dibunuh Sumsel

INIKECE - Seorang siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) berusia 13 tahun di Kecamatan Semidang Aji, Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan ditemukan tewas di hutan belakang sekolahnya. Siswi itu diduga menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan oleh pembina pramukanya.

Kasat Reskrim Polres OKU, AKP Wahyu Setyo Pranoto, mengatakan peristiwa itu terjadi Jumat (3/4) sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, korban datang ke sekolah atas pemintaan pelaku AS (19 tahun), yang merupakan pembina pramuka di sekolah tersebut.

"Pelaku ini mengirim pesan singkat melalui Facebook ke korban pada Kamis (2/4). Isinya meminta korban datang ke sekolah untuk latihan pramuka esok hari. Padahal saat itu sekolah tengah diliburkan," katanya, Sabtu (4/4).

Wahyu mengatakan, saat itu korban yang tanpa curiga menuruti permintaan pelaku, dan diantar oleh orang tuanya pergi sampai ke depan gerbang sekolah. Korban kemudian menemui pelaku di gedung aula sekolah. Lalu, pelaku mengajak korban menuju lapangan olahraga dengan alasan melaksanakan latihan pramuka.

"Ketika berada di lapangan olahraga itu, korban diminta berdiri dan berbalik membelakangi pelaku. Saat itulah pelaku mengambil sebuah balok kayu yang ada di lokasi, kemudian langsung memukul korban hingga pingsan," katanya.


Kemudian, pelaku mengangkat tubuh korban dan membawanya ke hutan yang berada di belakang sekolah. Pelaku menutup mata korban menggunakan dasi yang dikenakannya, dan menyumpal mulut korban dengan kaos kaki. Tak hanya itu, pelaku juga mengikat tangan korban dengan tali.


"Pelaku yang memerkosa korban. Namun, korban sempat sadar dan berupaya berontak sehingga pelaku panik dan kembali memukul serta mencekik korban hingga korban tidak lagi bergerak," katanya.

Wahyu melanjutkan, usai melakukan perbuatan keji yang pertama itu, pelaku ingin memastikan jika korban tewas dengan menusukkan kayu ke tubuh korban. Akan tetapi, pelaku kemudian justru mengulangi memerkosa korban.

"Setelah merasa puas, pelaku kembali menusukkan kayu ke sejumlah bagian tubuh korban. Lalu merapikan pakaian dan menutup jasad korban dengan dedaunan, dan pergi," katanya.

Menurut Wahyu, orang tua korban yang curiga korban tak kunjung pulang ke rumah kemudian mencari korban di sekitar sekolah dibantu dengan warga sekitar. Hingga kemudian korban ditemukan dalam kondisi tewas di hutan belakang sekolah.

"Petugas yang mendapatkan laporan langsung melakukan penyelidikan, dan menetapkan seorang pembina pramuka di sekolah itu sebagai tersangkanya," katanya.

Wahyu menambahkan, pelaku telah mengakui semua perbuatannya, dan saat ini telah diamankan di Polres OKU untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Atas perbuatannya pelaku akan dijerat dengan 340 KUHP tentang pembunuhan berencana subsider pasal 338 KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Penyelidikan Berjalan! Tak Suka Keributan, Pria Ini Tebak Orang Yang Ribut Saat Lockdown Akibat Virus Covid-19

Penyelidikan Berjalan! Tak Suka Keributan, Pria Ini Tebak Orang Yang Ribut Saat Lockdown Akibat Virus Covid-19

INIKECE - Dimana situasi semakin memburuk dengan adanya virus baru yaitu Covid-19 yang dapat menyebar antarmanusia ke manusia lain. Akibat dari ini, banyak negara melakukan lockdown dan berdiam diri di dalam rumah saja.

Pemerintah mengeluarkan perintah untuk lockdown negaranya untuk menghambat penyabaran virus corona tersebut, agar cepat terselesaikan. Akan tetapi banyak sekali masyarakat mengabaikannya dan seolah menjadi-jadi.

Akibat tindakat itulah seorang pria asal Rusia menembak mati lima orang karena terlalu ribut dalam saat situasi Lockdown tersebut.

Penembakkan itu terjadi di daerah Ryazan, Seorang pria berusia 32 tahun dari kota kecil Yelatma menembaki "sekelompok empat pria muda dan seorang perempuan yang berbicara dengan keras di jalan dibawah jendelanya sekitar pukul 22:00 pada Sabtu," kata para penyelidik

Yelatma terletak di dekat Kota Ryazan, yang terletak sekitar 200 kilometer tenggara ibu kota, Moskow.

Pria itu keluar ke balkonnya untuk memprotes kepada mereka yang berisik dan pertikaian meletus sebelum ia mengambil senapan berburu laras tunggal, kata Komite Investigasi.

"Mereka semua meninggal karena luka-luka mereka di tempat," ujar Komite dalam sebuah pernyataan.

Tersangka yang namanya tidak disebutkan telah ditangkap. Apartemennya telah digeledah dan senjata dirampas.

Wakil gubernur wilayah Ryazan, Igor Grekov, melakukan perjalanan ke lokasi penembakan pada Minggu.

Desember, Cerita Menarik! Bianglala

Desember, Cerita Menarik! Bianglala

INIKECEKamu menahan emosi, sebuah surat gugatan dibuka oleh tangan kekar pria berkemja kotak-kotak dan bercelana linen, senyum puas tersungging di bibir hitamnya. Tanganmu gemetar, tatapan mengabut, memandang ke arah anak-anak yang sedang bermain riang. (Desember 2016).

"Apa akta tanah milikku tidak berguna lagi? Apa anda tega menghilangkan tawa dari sekumpulan anak yang sedang semangat belajar?"

"Belajar? Cih! Mereka hanya bermain tanpa arah. Sudah jelas pengadilan memenangkan gugatanku, tanah ini milikku, bukan milik wanita jalang itu. Lagipula pemerintah melarang sistem pengajaran nonkovensional yang kau kembangkan. Camkan! Kebodohanmu jangan kau tularkan pada anak-anak polos itu."

"Apa anda bisa memberiku waktu? Anak-anak pasti kecewa jika tidak mendapat penjelasan."

"Waktu? Aku sudah lama memberimu waktu, sekarang pergilah atau orang-orangku akan menyeretmu."

Dengan penuh tekad, kamu berjalan ke arah kumpulan anak-anak. Belumlah kaki menjejak sempurna di balai rumah panggung tempatmu mengajar, cengkraman tangan-tangan kokoh mencegah, menarik tubuh kecilmu, menyeret tanpa ampun.

Kamu menggigit lidah, berusaha tidak berteriak, dari kejauhan tampak anak-anak tak berdosa itu menjerit ketakutan, diusir tanpa ampun, tempat bermain dan belajar mereka dihancurkan tanpa perasaan. Saat itu kamu hanya bisa tergugu menatap pagar besi yang dijaga orang-orang pria tadi.


Desember 1991

Setelah seharian menangis karena diledek teman-teman di sekolah, ayah mengajak mengunjungi pasar malam di Cibodas. Dari Cidahu ke Cibodas hanya berjarak satu setengah kilometer, berbekal lampu petromaks menyusuri rel kereta yang terbentang.

Pasar malam begitu ramai. Hanya inilah hiburan yang sangat menarik lagi penduduk desa. Televisi masih langka, bahkan radio pun hanya dipunyai orang-orang tertentu.

Sekumpulan orang menjerit-jerit di kincir yang berputar, kamu menatap ingin tapi rasa takut yang menyergap. Walau usiamu sudah enam belas tahun, namun pikiranmu masih setera anak SD.

"Airin mau naik bianglala?" Ayah menujuk kincir yang sedang berputar, lalu mengusap rambutmu perlahan, menatap penuh kasih. Kamu menggelengkan kepala kuat-kuat. Ada rasa takut diledek orang-orang di sana karena tampilan fisikmu berbeda, kamu memiliki sepasang mata indah berbentuk seperti kacang almond mirip orang Mongol, raut wajah agak datar, telinga kecil agak rendah, dan jari tangan lebih pendek dibangdingkan orang lain.

Orang kampung menjulukimu alien, keluarga dari ibu memanggilmu anak sial, karena tepat saat terlahir ke dunia, ibu meninggal. Hanya ayah yang selalu memperlakukan penuh kasih. Seorang dokter didesa menggelarimu bocah ajaib down sysndrome, katanya gelar itu khusus untuk orang tertentu, dan sampai saat ini kamu tidak tahu artinya. Dokter desa itu selalu menguji ketangguhan tubuhmu hingga bisa mencapai usia saat ini.

"Halo, maukah naik bianglala bareng aku?" Seorang anak aneh mengagetkanmu. Sejenak matamu tidak berkedip memandangnya. Dia anak perempuan, namun berpakaian aneh. Selain itu, tinggi badannya dua kali lipat darimu, namun sangat krus, warna kulitnya putih pucat, matanya sipit seperti terpejam.

"Bagaimana? Mau ya?"

Kamu agak tergagap, baru kali ini ada seseorang yang ramah dant tidak menganggapmu aneh. Anak perempuan itu seperti datangan dengan ayahnya.

"A Ling, yang sopan, kenalan dulu baru main bareng."

"Iya, Baba." Pipi anak itu bersemu merah.

Kamu tertegun mendengar cara bicara mereka dengan logat asing. Kamu dan dia berkenalan dengan hati riang, kalian langsung cocok, lantas berlari ke arah kincir berputar. Berpegangan tangan seolah teman lama, tertawa lepas, duduk dengan perasaan tak terlukiskan.

"A Ling, baju apa yang kamu kenakan?" Kamu menatap rok yang dipakai teman barumu.

"Ini namanya cheongsam, kamu mau? Nanti aku bilang baba kalau mau." Kamu langsung menggeleng kuat-kuat.

"Wajahmu berbeda dengan teman-temanku di sekolah. Apa kamu juga alien sepertiku?" tanyamu, polos.

A Ling tertawa, "Kamu benar, aku alien. Kita sama dong." Tangannya menggenggam erat tanganmu.

Saat itulah ada perasaan bahagia menyelusup pelan, menyadari dirimu tidak sendiri. Roda bianglala mulai berputar, kembang api melesat, berdentuman, menyebarkan warna warni indah diangkasa.

"Kamu sekolah dimana?" teriak A Ling.

"Di Sekolah Dasar Nusawangi, dekat pintu rel kereta api Cibodas," jawabmu sekencang mungkin, agar terdengar jelas.

"Kelas berapa?" tanya lagi, tetap dengan teriakan dan logat khasnya.

"Kelas enam." Kamu memiringkan kepala, mendekati kupingnya.

A Ling tertawa geli, matanya berbinar, "Aku dan baba besok juga sekolah di sana. Kita akan sekelas."

Saat itu kamu kurang mengerti ucapan A Ling, hanya menganggukkan kepala, padahal bingung, bagaimana mungkni ayah A Ling juga sekolah? Bukankah dia sudah bukan anak-anak lagi? Atau mungkin ayahnya teman barumu itu juga sama sepertimu, di usia yang harusnya sudah menjejak pendidikan lebih tinggi tapi hanya mampu duduk seperti anak yang usianya jauh di bawahnya.

Rantai bianglala mulai berderak pelan, jeritan penumpang mulai berkurang, putaran kencangnya pun mulai berangsur pelan hingga akhirnya berhenti. Kamu menggenggam tangan A Ling dengan perasaan bahagia, turun dari bianglala, mendatangi ayah kalian.

Kamu tersenyum lebar saat A Ling pertama kalinya masuk ke kelasmu, ternyata malam itu dia berbicara jujur. Sedangkan ayahnya menjadi guru kelas. Kamu dan teman sekelas memanggilnya Baba Liong. Panggilan yang agak aneh, namun beliau sendiri yang memintanya.

Baba Liong berbeda sekali dengan guru sebelumya. Dia jarang menyuruh menghapal, mengerjakan soal-soal sulit matematika ataupun mengadakan tes berkala. Baba Liong gemar sekali menanyai tiap siswa akan kegemarannya, lantas besoknya dia akan membawa benda-benda aneh untuk dibagikan ke tiap siswa.

Dua hari lalu kamu mendapatkan satu set cat air untuk melukis. Tentu saja sangat menggembirakan. Ada lagi siswa yang diberi sempoa, buku-buku tebal yang berisi angka-angka, dan lainnya. Tidak ada pelajaran terurut dan sama setiap minggunya seperti dahulu, kalian seolah dibebaskan.

Tiap hari Jum'at Baba Liong mengajak murid kelas enam melaksanakan bersih-bersih di halaman belakang sekolah.

Dulunya di sana rumputnya tinggi-tinggi, namun berkat kalian, bianglala dan rumput liar berganti pohon cabai, tomat, kemangi, seledri, dan tanaman umbi-umbian. Saat itulah, saat membersihkan rumput dan merawat tanaman yang mulai berbunga, tanpa sadar kamu dan teman-teman sekelas diajari ilmu biologi secara langsung.

Baba Liong menerangkan apa itu keseimbangan ekosistem, perkembangan makhluk hidup, fotosintesis, dan lain-lain. Kalian diajak langsung merasakan berkebun dan kalian sangat bergembira, menikamtinya. Selain itu, sejak ada Baba Liong, teman-teman di kelas tidak ada lagi yang mengejekmu seperti dulu, mereka menghargaimu seperti teman lainnya.

Baba Liong tidak pernah menjulukimu dengan panggilan menyakitkan, dia selalu tersenyum dan menepeuk bahumu dengan kebanggaan, di depan teman-teman sekelas, dia sering mengatakan, "Airin putri hebat, selalu bisa diandalkan dan pantang menyerah."

A Ling sangat baik, walau sering bolos, tapi dia sangat pintar, sering mengajarimu banyak hal.

Saat itu kamu baru lulus SMA dan A Ling sudah lulus kuliah.

Kabar buruk datang menyesak, Baba Liong meninggalkan dunia ini selamanya. Pasar malam seakan membawa kenangan menyedihkan. Kamu dan A Ling duduk di bianglala yang sama seperti belasan tahun silam. Saat itulah sahabatmu mengulurkan map berisi lembaran kertas.

"Airin, aku sudah menikah, tepat saat Baba koma, kami dijodohkan. Suamiku agak temperamental. Dengan keadaan sekarang, rasanya sulit sekali mengabulkan impian Baba, aku ingin kamu menerima ini, semuanya sudah atas namamu. Tinggal tanda tangan saja. Wujudkan mimpi kami, A Ling menggenggam tanganmu erat, wajah sahabatmu itu terlihat sangat pucat. Bahkan seperti mayat hidup. Namun binar matanya sungguh menyiratkan harapan.

Kamu hanya mengangguk dengan setumpuk kebingungan. Dalam putaran bianglala yang semakin cepat, kamu memeluknya erat. Seolah firasat memagut hatimu. Kamu merasa usiamu tidak lama lagi, apalagi jantungmu mengalami kebocoran. Mata kalian basah. Kamu tentu saja tahu apa impian Baba Liong dan harap A Ling, mendiriknan sekolah nonkonvensional, di sebuah kebun miliknya.

Dua minggu setelah pertemuan di pasar malam itu, kesehatanmu makin memburuk, malaikat maut datang menjemput, sayangnya bukan nyawamu yang dicabutnya, tetapi saudaramu sesama alien. Benar, dialah A Ling. Saat itu barulah kamu tahu ternyata A Ling mengidap AIDS.

Selama ini dia hidup dengan setumpuk obat-obatan yang menyokongnya hidup. Siapa sangka, saat sekolah yang diidamkan sudah berdiri hampir satu tahun, pihak suami A Ling mengklaim dirinyalah ahli waris sah, bukan kamu, yang tak lain hanya orang lain, bukan kerabat.

Entah bagaimana caranya mereka mempunyai sertifikat atas tanah tersebut, dan pengadilan menyatakan sertifikat yang kamu pegang adalah palsu. Gara-gara AIDS, suami dan keluarga A Ling mencapnya sebagai wanita jalang, padahal sejatinya sejak kecil, saat dia tak sadarkan diri karena kecelakaan yang merenggut ibunya, pihak rumah sakit melakukan kesalahan, hingga akhirnya virus HIV bersarang di tubuh kecilnya.

Tanganmu terborgol, mata almondmu basah. Ternyata setelah sekolah impian yang kamu dirikan penuh perjuangan dirampas paksa kepemilikkannya, kini kamu pun harus menerima tuduhan pemalsuan sertifikat tanah dan penipuan.

Pikiranmu bahkan belum mengerti benar apa itu penipuan. Kamu hanyalah seorang penyadang disabilitas yang ingin mewujudkan sebuah mimpi. Salahkan? Sepertinya rantai bianglala milikmu lepas, hingga harus bertahan di posisi paling bawah, pepertaruhkan semuanya.

Bukalah Matamu, Sebuah Cerita Pendek

Bukalah Matamu, Sebuah Cerita Pendek

INIKECE - Sudah hampir satu jam bayi iyu diletakkan di dadanya. Bukalah matamu, ia berbisik letih. Suaranya, yang mula-mula bertenaga, kini hampir tak terdengar lagi setelah nyaris seratus kali ia berkata dengan kalimat yang sama.

Dokter muda yang menemaninya selama proses 'penjemputan roh' begitu ia berpikir tentang apa yang sedang mereka lakukan mengulurkan tangannya untuk mengambil bayi itu dan menyudahi semuanya.

Ia mengeratkan tangannya, melindungi bayi itu dalam pelukan. Bukalah matamu, bisiknya parau bercamur rasa takut yang mulai bercambah dalam hatinya. Ia tidak mau kehilangan bayi itu. Ia tak mau melepaskan.

Dokter muda membujuknya seperti merayu anak-anak yang tak ingin menyimpan mainannya, padahal sudah waktunya untuk istirahat. Ia lebih mengeratkan pelukan kepada bayi yang makin tampak putih itu.

Ia mengecupi rambut si bayi yang tebal dan hitam. Bukalah matamu, bisiknya, tanpa suara. Si bayi tidak pernah membuka matanya. Ia tampak begitu pulas dan akan tidur selamanya.

Aku menjadi bidadari, Ibu.

Di sini, orang tak mengenal angka untuk menunjukkan sebuah usia. Jadi, aku tidak tahu umurku. Juga tidak pernah memikirkannya. Tiap hari aku bermain saja. Bila aku menginginkan sebuah padang yang luas, aku tinggla mengatakannya. Padang itu seketika terbentang di hadapanku. Aku menyukai padang rumput tanpa batas.

Angin yang kuat. Langit yang terbentang. Aku berjalan di sana. AKu mematahkan ranting kecil untuk kupukul-pukulkan ke udara atau mengejutkan serangga yang sedang menyesap madu bunga liar.

Begitu juga jika aku menghendaki laut, aku hanya perlu berbisik, serta merta laut mengempaskan ombaknya ke karang-karang. Bunyi gemuruhnya membuat dadaku berdenyar. Aku segera menghambur ke tengah untuk menemui sekawanan ikan. Mereka semua ramah, meski kami tidak pernah berkenalan secara formal.

Andai aku membayangkan sebuah taman tropis penuh bunga, maka seketika aku berada di dalamnya. Campuran aroma bunga-bunga itu pun mengingatkan aku kepada kamar ibu dengan jendela yang terbuka dan bau segar tanaman masuk ke dalamnya. Di sinilah aku akan menantimu, Ibu.

Sekarang bangunlah, aku akan keluar dari mimpimu.

Ia meraba dadanya. Kosong. Bayi iyu sudah tak ada. Ia juga sudah tidak di ruang rumah sakit dengan bau obat dan peralatan medis yang bergelantungan. Ia kini berada di rumahnya sendiri. Di sebuah kamar warna krem. Ia lupa kapan mengganti warna kamarnya. Pasti sudah lama sekali. Ia lupa apakah ini hari Rabu atau Minggu.

"Bukalah matamu," bisik lelaki yang telah menemani hari-hari kelabunya. Maka ia membuka matanya lebih lebar, tapi tetap saja seolah tak menemukan apa-apa. Semua begitu kosong. Begitu sunyi. Begitu tidak terjangkau.

Ia menolehkan pandangannya kepada lelaki yang tidak juga beranjak dari sisi tempat tidur. Beberapa helai rambut lelaki itu putih berkilau. Pasti dia banyak digelayuti masalah, pikirnya. Ia memperhatikan lagi jendela kamarnya, kaca-kacanya sudah berdebu. Ia lupa kapan terakhir membersihkannya.

"Kau sudah tak melakukannya selama bertahun-tahun," kata lelaki yang kini meremas lengan tangan kanannya lembut. Ia sungguh tak memedulikan apa-apa selain bayinya. Pipi putih dan rambut hitam lebat dalam dekapannya. Kapan bayi itu diambil darinya? Ia merasa semua seolah baru saja terjadi tiap ia bangun tidur.

"Sudahlah." Lelaki itu kembali meremas tangannya. Mata lelaki itu berair. Namun, dia buru-buru menghapusnya. "Sekarang berdirilah. Buka jendela lebar-lebar." Lelaki itu terus berbisik. Ia mengangguk.

Dengan hati-hati ia bangkit, berdiri, dan mendekat ke jendela. Gorden jendela itu sudah dibuka. Pasti lelaki itu yang melakukannya. Dunia tampak terang di luar sana. Daun-daun hijau. Bunga-bunga bermunculan di antara daun-daun itu.

Kapan terakhir kali ia berkebun? Ia tidak ingat sama sekali. Hidupnya sudah lama berhenti.

"Ayo, buka jendelanya," kata lelaki itu. Ia agak ragu mulanya. Namun, ia pun mengangguk. Dan, tiap ia berhasil membuka jendela itu, dunianya seketika kembali dapat ia raih, meski sesungguhnya ia tidak tahu mana dunianya yang sesungguhnya mana yang bukan.

"Matahari pagi selalu baik untukmu, Vonil," Ia tersenyum mendengar namanya bergetar di bibir lelaki itu. Vonil, bisiknya sambil memandang jauh ke luar, menarik napas dalam-dalam. Itulah ia. Perempuan yang kembali hidup.

"Aku akan siap-siap pergi ke Jalan Angsa," katanya tiba-tiba, dengan suara riang kepada lelaki yang telah berdiri di sampingnya. Ia mengatakan tentang rencana pergi ke toko buku bersama Lalit. Pasti sudah banyak buku baru di sana. Lalit suka membaca.

"Kau bisa membuatnya kelelahan," kata suaminya.

"Tidak, tidak," katanya, "Lalit senang diajak keluar sarangnya." Lalit jelas bukan burung, tapi begitulah ia telah menyebut rumah mungil Lalit di kompleks pinggrian kota itu. Di rumah itu, Lalit sendirian. Tidak punya keluarga dan teman. Ia kesepian di sarangnya itu.
"Sebentar lagi semua akan selesai," katanya kepada Lalit, "dan kau bisa mengepakkan sayap dengan bebas."

Lalit tidak terlalu antusias menanggapinya dan malah mengeluh tentang perutnya yang makin sesak. Bayi di perut itu tentu makin besar dari hari ke hari.

"Sabarlah," katanya, membujuk Lalit. Pada saatnya semua akan berlalu dan bayi itu akan keluar dari sana. Bayi yang mungkin saja memiliki rambut gelap dan pipi yang putih. Lalit tidak bicara. Lalit memang jarang berbicara dengannya selain soal buku fiksi yang dibacanya.

Dulu, sebelum mereka sama-sama resign dengan alasan yang berbeda, di kantor mereka juga bukan atasan dan karyawan yang akrab. Lalit penyendiri. Sampai Lalit hamil dan ditinggal pacarnya. Vonil tidak tahu bagaimana bisa ide membesarkan janin itu melibatkannya.

Suatu hari Lalit datang ke ruangannya. Mereka membuat kesepakatan. Lalit akan melahirkan bayi itu dan memberikannya kepadanya. "Aku butuh uang yang banyak," kata Lalit waktu itu. Ia menceritakan tentang ibu, bapaknya yang cacat, dan tiga adik di kampungnya. Ia tidak bisa berpacaran dengan lelaki yang memiliki banyak uang bila ia membesarkan bayi dalam perutnya.


"Itu melanggar nilai-nilai," pikirnya menghakimi Lalit. Menjual tubuh demi uang, tidakkah itu menjijikkan? Ibu, bapak yang cacat, adik-adik, butuh makan. Siapa yang peduli bahwa mereka akan mati kelaparan besok pagi?

Tidak. Lalit tidak sepenuhnya salah. Batinnya berseteru. Lalit pun jadi seekor burung di rumah mungil di pinggir kota. Suaranya tenang, kompleks yang tidak terlalu ramai, jadi pilihan agar tidak menimbulkan gonjang-ganjing.

"Apa yang kau lakukan?" kata suaminya waktu itu.

"Kita akan punya bayi lagi," katanya, "Kali ini kita akan benar-benar mendapatkannya." Ia berjalan ke kamar mandi sambil mengingat semua itu. Ia menghidupkan air keran dan berada di sana selama satu jam.

Ia memang sangat senang mandi. Memberishkan daki dengan pelan-pelan. Dari kulit lehernya hingga betis. Kadang-kadang ia menggosok kulitnya terlalu keras. Kulitnya memerah dan terkadang tergores. Ia menikmati rasaya. Panas dan nyeri.

"Bila kau berlama-lama, aku akan sangat terlambat tiba di kantor," tegur suaminya dari balik pintu. Ia tak bisa melihat suaminya itu, tapi ia hafal kekhawatiran yang kerap mewarnai lelaki itu. Suaminya khawatir kalau ia terlalu lama di dalam kamar mandi. Kamar mandi dianggapnya tempat berbahaya, meski sebenarnya segala cairan berbahan kimia sudah dikeluarkan dari sana, selain sebotol sabun dan sampo.

"Keluarlah sekarang, Vonil," kata suaminya lagi. Lelaki itu tak akan pergi dari pintu sampai ia muncul dengan tubuh telanjang dan handuk membungkus rambut di kepala.

Setelah itu mereka sama-sama berpakaian dan siap-siap berangkat ke rumah Lalit. Suaminya mengantarnya terlebih dahulu, baru lalu berbalik ke arah kantornya dipusat kota.

Aku menjadi bidadari, Ibu.

Di sini langit berwarna-warna cerah. Seperti pelangi raksasa. Bisakah Ibu membayangkannya? Namun, sebenarnya aku lebih suka membayangkan lagit itu sebagai taman bunga. Berapa banyak serangga datang ke sana? Mereka berbondong-bondong melintas di atas kepalaku. Aku berteriak, "Hai, apa kalian melihatku?"

Tidak seekor pun yang menyahut. Serangga selalu tak sabar berburu bunga.

Ibu pasti tahu itu. Tidak mengapa. Aku senang dengan hanya memandanginya. Hatiku sudah penuh dan aku lupa cara menjalani kehidupan di sini, selain dengan berbahagia. Karena itu, ibu, jangan lagi mengingatku sebagai kesedihan.

Sekarang bangunlah, aku akan keluar dari mimpimu.

Pagi ini, ia malas sekali bangun. Matanya tetap terpejam, meski sebenarnya ia sudah terjaga. Ia masih ingin berada di mimpi itu lebih lama. Ia tidak suka kekosongan. Ia tak mau berkali-kali menemukan dadanya dimikian sunyi. Tak ada apa-apa, tak ada suara. Di mana suara dadaku itu? pikirnya.

Suaminya berbisik, "Bukalah matamu, Vonil." Ia hanya membuka mata sebentar lalu menutupnya lagi. Seluruh dirinya benar-benar hampa. "Buka matamu, bangkit dari tempat tidur, buka jendela," kata suaminya lagi.

Ia tidak mau melakukan apa-apa. Juga tidak mau membuka jendela.

"Baik, aku akan membukakannya untukmu," suaminya berdiri dengan cepat. Ia mendengar suara gorden digeser. Lalu derit engsel jendela yang berat. "Lihatlah ke luar," kata suaminya.

Dari tempat tidur, ia membuka mata dan melihat langit yang putih kelabu. Itulah dunianya sekarang. kemudian dengan cepat hatinya menjadi perih. Lalit sudah terbang dari sarangnya. Tidak sendirian, melainkan dengan bayi burungnya.

Ia tidak marah kepada Lalit. Sudah sepantasnya begitu. Ia hanya membenci dirinya sendiri.

"Kita tidak akan pernah punya bayi lagi," itu yang ia katakan kepada suaminya dan lelaki itu tersenyum kepadanya. Seharusnya lelaki itu tidak perlu tersenyum. Menangis saja apa adanya. Itu lebih membuatnya tenang. 

Bayi yang ia lahirkan sepuluh tahun lalu tak pernah membuka matanya. Setelah itu ia tak pernah hamil lagi. Lalu beberapa kali ia hampir memiliki bayi dari rahim orang lain, tapi mereka semua menjelma burung.

Mereka terbang jauh membawa bayi dengan paruhnya.

"Aku tak bisa," kata Lalit saat bayi itu lahir. Bayi berambut gelap dan pipi yang putih. Jika ia menjadi Lalut, ia juga pasti tidak bisa. Ia tahu bagaimana rasanya dipisahkan dari darah sendiri. Ia tidak akan memaksa. Seperti juga yang sudah-sudah, ia tak pernah bisa memaksa. Ponselnya berbunyi.

Nama Lalit muncul di layar.

"Lalit," katanya kepada suaminya

"Angka saja," kata suaminya

"Halom" sayanya. Ia mendengar suara Lalit yang sudah sangat dikenalnya. Ini pertama kali Lalit menghubungi setelah tiga bulan ia pergi dengan bayinya. Lalit bilang bahwa ia akan datang berkunjung akhir pekan nanti. Ia tidak tahu apa arti kunjungan itu. Namun, ia bilang, "Baik."

"Apa yang dikatakannya?" tanya suaminya.

"Ia akan datang akhir pekan."

Suaminya tersenyum. Di luar ia memandang dua ekor burung terbang mendekat. Burung itu tampak cantik sekali dan ia berseru, "Kau tidak ingin melihat dua ekor burung itu?"

Apakah Salah Satu Dari Kita, Indonesia Pernah Menerima Penghargaan Nobel?

Apakah Salah Satu Dari Kita, Indonesia Pernah Menerima Penghargaan Nobel?

INIKECE - Belum ada yang menerima penghargaan Nobel yang berasal dari Indonesia? Quora Indonesia memberi jawabannya. Cerita ini tentang Dr. Abdus Salam, peraih Nobel Fisik asal Pakistan.

Pada umur 14 tahun, ia mencatat rekor karena mendapat nilai ujian masuk tertinggi sepanjang sejarah Punjab Universitu. Pada umur 16 tahun, sebagai mahasiswa, Abdus Salam sudah mempublikasi paper di jurnal matematika. Ia menjadi lulusan terbaik (lagi-lagi dengan nilai tertinggi sepanjang sejarah) dengan gelar sarjana Matematika.

Karena kecerdasannya, Abdus Salam diberi beasiswa oleh pemerintah untuk belajar di University of Cambridge. Di sini, ia kembali berprestasi. Ia meraih gelar BA dengan predikat first-class honours untuk dua major sekaligus (Matematika dan Fisika) disusul gelar PhD bidang Fisika Teori.

Tahun 1951, Abdus Salam memutuskan pulang kampung untuk jadi dosen di Lahore (padahal dia punya kesempatan jadi peneliti Princeton bersama Albert Einstein).

Nah, sampai di Lahore, ia terkejut. Ternyata fasilitas sebagai dosen tidak memadai. Ia bahkan sampai harus menumpang hidup (bersama sang istri) di rumah temannya. Gaji pun sangat minim.

Dr. Abdus Salam kemudian menghadap Menteri Pendidikan. Tapi apa lacur, sang Menteri hanya berkata.

"If it suits you, you may continue with your job; if not, you may go."

Untuk menambah penghasilan, ia akhirnya bekerja sebagai pelatih tim sepakbola di kampus (lihat gambar di atas).

Dr.Abdus Salam sangat frustasi. Ia merasa waktunya terbuang sia-sia. Di Cambridge ia bisa produktif sebagai peneliti. Tapi kini membaca literatur saja tak sempat. Laboratorium di Pakistan kondisinya sangat meprihatinkan.

Untungnya hal ini tidak berlangsung lama. Tahun 1953, Abdus Salam mendapat kesempatan menjadi dosen di almamaternya, Cambridge. Disusul promosi menjadi full professor di Imperial College.

Di sini ia gembira bisa bebas mengembangkan ilmu fisika, khusunya nuklir. Ide-idenya yang brilian mengalir deras, didukung oleh tim yang kompeten. Etos kerjanya terkenal luar biasa. Tidak ada liburan atau bersantai-santai dalam kamus Abdus Salam.

Ia menerima penghargaan Atoms for Peace dan puncaknya adalah memenangkan Nobel Fisika 1979. Sesuatu yang mungkin tidak akan terjadi kalau Abdus Salam tetap di Pakistan dan menjadi pelatih sepakbola!


Saya sering dengar kisah seperti Dr. Abdus Salam di Indonesia. Dosen-dosen muda yang sebenarnya potensial meneliti akhirnya mandek ketika kembali ke Tanah Air.

Mereka disibukkan oleh birokrasi (mengajar, jadi pejabat di kampus) atau mencari penghasilan tambahan (konsultan proyek, melayani wawancara media, bahkan masuk dunia politik). Kalaupun ada kesempatan meneliti, fasilitas tidak mendukung.

Seorang teman India yang jadi dosen di Inggris bercerita kalau waktu kerjanya terbagi menjadi, meneliti (80%), mengajar (10%), administrasi (10%). Jadi dia bisa fokus meneruskan risetnya hingga level tertinggi atau sampai dia pensiun.

Dalam bahasa ekonomi, kisah Dr. Abdus Salam menjadi pelatih sepakbola disebut sebagai "resource misallocation". Penggunaan sumber daya yang tidak tepat.

Keahlian Abdus Salam adalah meneliti, khususnya fisika. Maka biarkan dia meneliti ilmu fisika. Beri ruang dan waktu agar dia menelurkan hasil terbaiknya. Kalau soal sepakbola, biar dilakukan oleh Mourinho atau Ferguson!


Jawaban Lainnya :

Oleh Arini Soesatyo Putri.

Iya, kenapa ya? Padahal sastrawan ternama seperti Pramoedya Ananta Toer sudah layak untuk mendapatkan hadiah Nobel di bidang sastra. Namun nyatanya penghargaan terbaik yang ia raih 'hanya' Ramon Magsaysay Award for Journalism, Literature and Creative Communication Arts (1995).

Well, mari terlebih dahulu kita simak perjalanan yang sudah kita tempuh untuk bisa meraih Novel prize yang bergengsi ini.

Nobel prize atau hadiah Nobel merupakan penghargaan warisan dari Alfred Nobel yang telah diberikan sejak tahun 1901. Penghargaan ini diberikan untuk siapa saja yang telah melakukan penelitian, menemukan teknologi baru, atau telah berkontribusi banyak untuk masyarakat.

Hadiah Nobel diberikan untuk mereka yang bergelut di bidang Kimia, Fisika, Kedokteran, Sastra, dan Perdamaian (sayangnya di bidang matematika tidak ada).

Kita boleh berbangga hati karena ketika Republik Indonesia masih berada di bawah kekuasaan Imperium Belanda, ada seorang pemuda yang lahir di daerah Semarang bernama Willem Einthoven (1860-1920), ang telah berhasil mendapat hadiah Nobel di bidang kedokteran atas penemuan elektrokardiogram (EKG). Pada saat itu, ia tercatat memiliki kewarganegaraan Hindia Belnda (Republik Indonesia saat ini).


Namun sayang, kisah Einthoven tak banyak dikenal oleh bangsa kita, karena dia lebih banyak menghabiskan masa muda hingga kahir hayatnya di Leiden, Belanda. Hingga wafatnya pun, Einthoven tercatat sebagai warga negara Belanda.

Di samping itu, ilmuwan kerbangsaan Belanda lainnya bernama Christiaan Eijkman (1858-1930) mndapatkan hadiah Novel di bidang kedokteran atas penemuan antineuritic vitamin. Pada tahun 1883, dia berangkat ke Hindia Belanda untuk menjadi petufas kesehatan di Semarang, Cilacap, dan Padangsidempuan di Sumatra Utara.

Meskipun sempat kembali ke Belanda, namun ia dipanggil kembali untuk menjalankan laboratorium di Batavia (sekarang Jakarta) untuk menyelidiki kasus beriberi yang mewabah di Hindia Belanda. Sejarah mencatat bahwa Indonesia memang tidak bisa lepas dari para peraih hadiah Nobel.


Lalu bagaimana dengan Pramoedya Ananta Toer, apakah dia berhasil meraih hadiah Nobel di bidang sastra? Melalui novel-novelnya yang prominen, yakni Tetralogi Buru, Pram berkali-kali masuk ke dalam nominasi peraih Nobel di bidang sastra.

Namun sayang, hingga ajalnya menjemput, penghargaan Novel tersebut tidak pernah mampir di tangannya. Ada banyak spekulasi yang hadir, diantaranya adalah karena kualitas penerjemahan ke bahasa Inggris yang cukup buruk sehingga melemahkan kesusastraannya, dan pemerintah saat itu kebingungan antara mendukung keterpilihan Pram atau mengungkit kembali isu pemberontakannya di masa lalu.

Jadi secara konkret, belum ada satu pun warga negara Indonesia yang mampu membawa pulang hadiah Nobel. Tapi, kembali lagi ke pertanyaan awal, mengapa demikian?

Kita harus mengakui bahwa Indonesia masih tertinggal jauh dalam mempromosikan calon kandidat peraih Nobel, tidak seperti negara Amerika, Cina maupun Jepang. Sebagian besar masyarakat kita masih belum akrab dengan Nobel, dan pemerintah terkesan belum serius untuk menyiapkan masyarakat yang mampu diakui oleh dunia.

Bagaimana tidak, anggaran penelitian dan pengembangan atau Research and Develoment (R&D) Indonesia pada tahun 2018 hanya berkisar 0,31 persen dari PDB, yakni setara USD 10,58 miliar, berada di bawah negara-negara tetangga seperti Thailand, Malaysia dan Singapura.

Dengan anggaran dana yang terbatas tersebut, kita tidak akan mampu melahirkan inovasi-inovasi di bidang keilmuwan dan teknologi. Meski anggaran dimaksimalkan menjadi 1 persen dari PDB pun masih jauh dari perjalanan meraih hadiah Nobel. Bila kita ingin selangkah lebih maju, maka alokasi dana untuk riset mesti diperbesar kembali dan para pelaku industri harus didorong untuk lebih berkontribusi dalam pendanaan riset di Indonesi. Sulit? Tentu. Karena mekanismernya masih rumit.

Namun, jangan berkecil hati!

Salah satu fisikawan kita, ykani Prof. Yohanes Surya, pernah menuliskan bahwa statistik peraih hadiah Novel rata-rata merupakan murid dari mantan penerima Nobel sebelumnya. Para peraih Nobel dijadikan guru untuk menuntut ilmu.

Oleh karena itu, agar peluang mendapatkan Nobel semakin besar, kita harus banyak berguru pada peraih Nobel sebelumnya. Siswa-siswa Indonesia kini banyak terbesar di kampur-kampus ternama untuk belajar dengan para peraih Nobel tersebut, diantaranya adalah Widagdo Setiawan di MIT menjadi murid Wolfgang Ketterle (peraih Nobel Fisika tahun 2011), Evelyn Mintarno di Stanford University sempat menjadi asisten Douglas Osherroff (peraih Novel Fisik tahun 1996), Oki Gunawan di Princeton University pernah menjadi murid Daniel Tsui (peraih Novel Fisika tahun 1998), Rizal fajar di Caltech banyak berinteraksi dengan peraih Nobel, bahkan ia sempat mengajar suatu kelas di mana di kelas itu ada seorang peraih Novel Fisika tahun 2004 (ya, peraih Novel fisika sungguhan!) sebagai muridnya.


Dari sekian banyak calon ilmuwan terdidik ini, bukan hal yang mustahil bila ada seseorang yang akan meraih Nobel prize di kemudian hari. Dan tentu, pemerintah harus mendukung dan mempromosikan mereka di mata dunia.

Meski hingga saat ini kita belum mampu meraih Nobel, namun benih-benih tersebut sudah ada. Mereka sedang bermunculan, tumbuh dan mengakar. Semoga di tahun 2020 nanti ada nama putra/putri Indonesia yang meraih Nobel prize seperti yang telah dicita-citakan.