Akibat Diteriaki Virus Corona, Mayat Diindramayu Tidak Ada Yang Berani Evakuasi

INIKECE - Akibat dari penyebaran virus corona tersebut banyak sekali menjadi orang ketakutan dan lebih memilih untuk menjaga diri dan jauhi orang-orang terlebih dahulu. Banyak orang sekarang lebih memilih dirumah saja.

Keajaiban Bumi Yang Belum Terpecahkan Hingga Sampai Sekarang, Menjadi Misteri Bumi

INIKECE - Bumi selalu memiliki keajaiban, hingga fenomena alam yang luar biasa, sampai ada suatu tempat dimana tidak dapat diteliti keajaiban bumi tersebut dikarena masih menjadi misteri teka-teki bagi para ilmuan.

Cerita Power Girl! Pesona Sang Gadis Jagoan

INIKECE - Suara gaduh dan teriakan terdengar dari ruangan penuh matras dengan tulisan Ruang Latihan Judo itu. Terlihat seorang gadis dengan rambut kuncir kuda sedang bergulat dengan lelaki yang memiliki ukuran tubuh sedikit lebih besar darinya.

Ramalan April Hari Ini Berdasarkan Zodiak, Simak Yuk!

INIKECE - Diakhir pekan ini, ramalan zodiak hari ini meminta Scorpio dan Aquarius untuk lebih peka terhadap pasangan jika tidak ingin hubungan menjadi buruk. Sementara itu, Virgo diharapkan lebih waspada karena berisiko terkan alergi. .

Romance Remaja! So I Love My Ex - Dia Bukan Lagi Si Cungkring, Part 2

INIKECE - Aluna menarik dan membuang napasnya. Ia memalingkan wajah saat melihat keberadaan Zello. Oke, Aluna memang tahu Zello kuliah di tempat yang sama dengannya, tetapi dia tidak pernah tahu bahwa Zelo ada di Fakultas Ekonomi.

Part 11, Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Kita Tamu Tak Diundang

Part 11, Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Kita Tamu Tak Diundang

INIKECE - Malam merangkak naik dan hujan turun dengan sangat deras, Bri dan Ge menghilang. Wisnu mencoba untuk tetap tenang, sekarang hanya tinggal dia satu-satunya lelaki di dalam tim.

Ia sadar kalau ada seseorang yang mengintai keberadaanya. Wisny memutuskan untuk mengubur jenazah Heru karena dia tidak yakin sanggup membawanya pulang.

Di belakang rumah, di bawah hujan deras, Wisnu susah payah menggali tanah dengan cangkul yang ia temukan di bawah pohon. Kim membantu Wisnu menggotong jenazah Heru. Setelah selesai penguburan, mereka berdoa menurut kepercayaan masing-masing.

"Terus sekarang bagaimana?" tanya Kim.

"Sini," pinta Wisnu.

Ia membisikkan sesuatu di telingan Kim. Sesekali Kim mengangguk.

"Lu percaya kan sama gua?"

"Iya," jawab Kim,


Sampai larut malam, Kim tidak tidur. Lagi-lagi ia nonton dram Korea kesayangannya sambil tertawa cekikikan. Di dalam rumah itu, ia mendirikan tenda karena takut ada hewan melata yang merayap saat tidur. Sebuah senter dinyalakan di dalam tenda, membuat banyangnnya terlihat jelas dari luar tenda. Dan, dari kegelapan munculah Jumadi membawa sebuah golok mendekati tenda Kim. Ia berjalan perlahan seperti hendak menangkap seekor kelinci. Sesaat sebelum golok itu diayunkan, sebuah cangkul menghantam kepalanya dari belakang.

"Mampus lu kampret!" bentak Wisnu. Ia senang rencananya berhasil.

Sesaat kemudian Kim ke luar dari tenda, "Apakah dia mati?" tanya Kim.

Wisny menyentuh leher lelaki yang terkapar di depannya, ia masih merasakan denyut.

"Belum."

"Lalu bagaimana?"

"Bunuh?" tanya Wisnu.

"Siapa yang bunuhnya?"

"Ya, elu," pinta Wisny.

"Engga ah, gua nggak bisa bunuh orang."

"Apalagi gua, Kim." Timpal Wisny.

"Terus gimana?" tanya Kim.

"Kita ikat saja di pohon belakang rumah," saran Wisnu.

Kim mengangguk, lalu mengambil tali rafia dari dalam tasnya. Ia mengikat lengan Jumadi sementara Wisny mengikat bagian kaki. Susah payah mereka menyeret tubuh Jumadi ke belakang rumah menuju sebuah pohon pinus. Diikatkannya tubuh Jumadi pada batang pohon itu dengan ikatan sangat kuat.

"Dia nggak akan bisa lepas. Biar mati kelaparan," kata Wisnu setelah selesai mengikat Jumadi.

"Wisnu, seharusnya kita nggak masuk ke hutan ini. Kita tamu tak diundang," ujar Kim.

Part 10, Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Teror Jumadi

Part 10, Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Teror Jumadi

INIKECE - Bri terkapar tak bernyawa dengan keadaan mata melotot. Jumati menggusur kakinya menuju belakang rak buku. Diambilnya sepiring daging kelinci yang sudah dipanggang yang tergeletak di lantai. Kemudian menyodorkan daging itu pada Safirah yang sedang menangis tanpa mengeluarkan air mata.

Selama ini, Jumadi membiarkan Safirah tetap hidup lantaran wajahnya mirip dengan istrinya dulu. Ia memberi makan Safirah dengan hewan hasil buruan di hutan kemudian memanggangnya. Walau terkadang tidak matang dan masih terdapat darah di serat-serat daging, Safirah harus tetap memakannya untuk bertahan hidup.

"Tolong lepaskan aku," desis Safirah sambil menangis.

Jumadi menatapnya. Mulutnya mengeluarkan bau tidak sedap, air liur menetes-netes ke lantai.

"Karmila...," gumam Jumadi mengingat istrinya.

"Aku bukan Karmila! Lepaskan aku!" teriak Safirah dengan sisa suara yang ia punya.

Setiap hari Jumadi mengucapkan nama Karmila di hadapan Safirah. Itu adalah nama istrinya tercinta. Yang sudah membuatnya gila. Yang sudah membuatnya menjadi predator. Oh, bahkan lebih dari itu. Kini ia adalah seorang kanibal yang menyerang siapa pun dan memakan siapa pun tanpa ampun.

Tiga tahun lalu, setelah memakan korban pertama. Ia kian menjadi-jadi, membunuh warga kampung Ciliman yang masuk ke dalam hutan. Potongan tubuh mereka ditemukan tercecer di sepanjang jalan setapak. Dagingnya dimakan mentah-mentah oleh Jumadi.

Akibat rentetan pembunuhan itu, warga tidak lagi mau masuk ke dalam hutan. Mereka tahu kalau Jumadi masih hidup dan bersembunyi di sana.

Dan sekarang, ia menyekap seorang wanita yang tidak berdosa. Wanita yang dia anggap mirip dengan istrinya. Ia mendekatkan lengannya ke pipi Safirah, hendak menyentuhnya. Tapi, Jumadi hendak menyentuhnya, ia mengambuk dan mancacinya lantas Jumadi mengurungkan niatnya itu. Setelah itu biasanya Jumadi langsung menangis. Mungkin ia teringat kejadian saat cekcok dengan istrinya dulu.

Dan benar saja, kini ia duduk di atas kursi sambil menangis tersedu-sedu di depan lampu canting. Ingatannya melesat-lesat ke masa lalu, tentang rumah tangganya, tentang istrinya, tentang tetangganya yang selalu ramah padanya. Saat itu ia sedang menangis, tiba-tiba terdengar suara samar-samar dari atas. Itu suara seorang perempuan yang memanggil-manggil nama Bri. Segera Jumadi meraih goloknya yang sudah ia asah. Lalu, baik ke permukaan dengan perlahan


Kim, Ge, dan Wisnu panik mencari Bri. ge menyuruh anggotanya untuk berpencar ke semua ruangan juga halaman rumah. Mereka tidak menemukan lubang bawah tanah karena Jumadi sudah menutupnya rapat-rapat. Ge berteriak memanggil nama Bri di halaman belakang rumah sambil berjalan tertatih-tatih karena kakinya masih terasa sakit.

Ia berjalan melewati beberapa pohon dan menerjang semak-semak. Disana, tepatnya di bawah pohon kecapi, ia melihat Bri sedang duduk sambil tertunduk. Kakinya menjulur lurus ke depan, tangannya lunglai. Ge segera menghampirinya.

"Bri, dari mana aja lu. Kita cari-cari!" Ge memaksakan kakinya untuk berlari.

Saat itu juga sebuah anak panah melesat dari atas pohon kecapi, menusuk tepat di paha kanan Ge sampai tembus. Ia berteriak meringis kesakitan. Jumadi meraih lagi anak panah dari belakang punggungnya. Membidik Ge dengan penuh konsentrasi. Settt! anak panah itu melesat lagi dan kali ini mengenai punggung atas. Dilesatkan lagi anak panas berikutnya, lalu mengenai bola mata kanan. Ge tergolek mati!

Part 9! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Kematian

Part 9! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Kematian

INIKECE - Heru terengah-engah, napasnya satu-satu. Kemudian, ia meninggal. Balok kayu yang menghantam tubuhnya sangat keras. Badannya memar, kepalanya juga berdarah karena saat berayun, balok itu menghantam kepalanya juga.

Ge menangis terisak-isak melihat pimpinannya mati. Sedangkan Bri masih tidak percaya apa yang dilihatnya. Langit semakin mendung, sebentar lagi hujan akan turun.

Kim mengecek denyut nadi Heru, "Pak Heru sudah meninggal," kata Kim sambil memasang wajah ketakutan.

Wisnu terlihat panik, ia tidak menyangka kalau pekerjaan ini sangat berbahaya.

"Pak Bri, sebentar lagi mau turun hujan. Sebaiknya kita bawa jenazah Pak Heru ke rumah itu," usul Wisnu.

"Ya, kau benar."

Wisnu membantu atasannya menggotong jenazah Heru. Sementara Kim berjalan dengan susah payah karena menyeret dua koper sekaligus. Mereka masuk ke dalam rumah. Terlihat pintu rumah tua itu sudah lapuk dimakan rayap. Lantainya pecah di sana-sini. Tidak ada perabotan apa pun di dalamnya, kosong melompong. Debu pekat menempel pada dinding ruangan. Mereka membaringkan jenazah Heru di atas lantai.

Ge masih menangis terisak-isak. Ia punya banyak kenangan dengan pemimpinnya. Mereka sudah berkerja bersama-sama lebih dari lima tahun, memecahkan puluhan kasus kriminal. Dan, sekarang ia tidak menyangka kalau Heru gugur saat bertugas.


"Sekarang bagaimana?" tanya Bri.

"Besok kita pulang saja. Hutan ini sangat berbahaya," jawab Ge sambil mengusap air matanya. Ia masih meratapi jenazah pimpinannya itu.

Bri mengangguk setuju. Ia merogoh smartphone-nya bermaksud untuk meminta bantuan pada perusahaan agar menjemputnya ke hutan. Tapi, sayangnya tidak ada sinyal sedikit pun. Hal tersebut dikarenakan mereka terlalu dalam masuk ke dalam hutan. Bri berdecak kesal. Ia memeriksa seluruh ruangan rumah, memastikan keamanannya.

Untungnya, sumur di rumah itu masih berair, tapi tidak ada alat untuk menimbanya. Hanya ada ember kecil yang tergeletak di samping bangunan sumurnya. Bri membuka tasnya, merobek-robek pakaiannya kemudian diuntai menjadi tali. Ia ikatkan tali itu pada pegangan ember. Dan mulai melemparkannya ke dalam sumur.

Setelah berhasil mengangkat air ke permukaan, Bri membasuh wajahnya beberapa kali dengan air. Kemudian memandangi wajahnya sendiri dari pantulan air dalam ember, seketika ia mengerutkan kening menampakkan wajah kecewa akan kematian Heru.

Bri kemudian mendongakkan kepala sambil menutup matanya, mencoba untuk tenang. Ia celupkan sebuah kain ke dalam ember, lalu memerasnya. Kain itu akan ia gunakan untuk membersihkan lantai yang kotor. Tapi, sesaat sebelum hendak kembali ke ruangan utama, ia melihat sebuah lubang di pojokkan sumur. Itu sebuah lubang bawah tanah berbentuk lingkaran, ada tangga yang terbuat dari bambu menjulur ke dalam lubang. Bri penasaran lantas masuk ke dalam lubang itu dengan hati-hati.

Semakin masuk ke dalam semakin gelap. Kedua kakinya meraba-raba anak tangga karena kalau salah langkah ia bisa terjatuh. Selang beberapa saat, akhirnya ia tiba di dasar. Ia menemukan sebuah ruangan yang cukup luas, ada banyak buku yang tertata rapi di raknya.

Foto lima orang lelaki berseragam biru terpajang di dinding. Meja kerja yang terlihat masih kuat walau penuh dengan debu, sebuah lampu canting yang diletakkan di atas meja menyala dengan tenang, menerangi seluruh ruangan walau tidak terlalu terang karena lampunya kecil, bisa dibilang hanya remang-remang saja.

Ada kursi ayun di samping rak buku. Juga ada dua ekor tikur bermain-main di atas kursi itu. Bri melangkah untuk memeriksa sekeliling ruangan, tapi tiba-tiba kakinya menyenggol sesuatu, itu perangkap besi yang menggigit kakinya Ge kemarin. Masih ada bercak darah kering di sela-sela besi perangkapnya. Bri mulai curiga! Dan benar saja, ia mendengar suara lirih seorang perempuan di sudut rak buku dekat dengan meja kerja.

"Tolong..."

Buru-buru Bri mendekat ke sumber suara, ia melihat sesosok wanita sedang meringkuk sambil memeluk kedua kaki di pojok rak buku. Ya, tidak salah lagi, wanita itu adalah Safirah. Dan, ia masih hidup! Kaki kirinya dirantai, tubuhnya kurus kerempeng seperti korabn holocaust. Rambutnya kering seperti tidak pernah tersentuh air. Bibirnya juga kering pecah-pecah seperti tidak pernah minum air.

Cekung matanya sangat kentara memperjelas bahwa Safirah telah mengalami penderitaan yang sangat parah. Sesaat sebelum Bri hendak menghampiri Safirah, tiba-tiba saja seseorang menusukkan sebilah obeng berkarat dari belakang lehernya sampai tembus ke tenggorokan. Obeng yang ditusukkan menonjol sampai ke leher depannya.

Darah menetes perlahan, Bri bersuara seperti sedang tersendak makanan ber-aa-uu tidak karuan. Ia merasakan sakit yang tidak terkira. Lalu, tubuhnya roboh ke lantai dengan keadaan masih bernyawa dan sadar. Ia melihat Jumadi mendekatinya perlahan, air liur Jumadi menetes-netes ke lantai seperti binatang buas yang sedang memojokkan mangsanya. Maka dengan sekali tinjuan saja, Bri terkapar mati. Safirah berusaha menjerit tapi suaranya sudah habis.

"Tolong..." teriak Safirah parau dan pelan.

Part 8! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Sebuah Rumah Tua

Part 8! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Sebuah Rumah Tua

INIKECE - Kim buru-buru menutup jendela tendanya. Bayangan lelaki itu mendekat, cahaya senter yang ia bawa mengarah ke tendanya Kim. Jantung Kim mulai berdetak kencang, tangannya merogoh sebuah semprotan air mata dari dalam tas untuk jaga-jaga kalau lelaki itu menyerangnya.

Ia berdiri di depan tenda Kim, siluet badannya terlihat jelas karena malam itu cahaya bulan menyinari hutan. Kim melihat bayangan golok dari dalam tendanya, ia segera mengambil hytera radio untuk membangunkan teman-temannya. Lelaki itu mengacungkan golok seperti hendak menghantamkannya ke tenda, tapi sesaat sebelum golok itu diayunkan, seekor anjing menggonggong dari kejauhan. Membuat lelaki itu langsung bergegas lari.

Kim mengembuskan napas lega. Ia hampir saja berteriak dan meminta tolong, syukurlah lelaki misterius itu sudah pergi. Ia bangun dan meringsut ke jendela tenda, membuka ritsleting jendela, melirik kiri kanan. Lelaki itu benar-benar sudah pergi. Malam semkain lerut, ia pun memaksakan diri untuk tidur.

Keesokan paginya, Ge sudah bisa berjalan lagi walau tertatih-tatih. Luka di kakinya mengering. Mereka berkemas dan melanjutkan perjalanan kembali, masuk ke dalam hutan. Kali ini Heru menyarankan agar lebih hati-hati karena bisa jadi masih ada ranjau lainnya di hutan.


"Wisnu. Lu tahu nggak semalam ada cowok bawa golok nyamperin tenda gua," ujar Kim yang berjalan gontai di belakang Wisnu.

Sesekali Kim membetulkan posisi kacamatanya. Rambunya yang sebahu dan dicat pirang menyerupai artis Korea ia ikat ke belakang.

"Serius, lu?" Wisnu berhenti dan menoleh pada Kim.

"Iya, dia hampir aja ngebacok tenda gua."

"Yaudah kita laporin ke Pak Heru," ujar Wisnu.

Saat itu juga, Kim menceritakan kejadian semalam. Wisnu sibuk mencatat kejadian itu, sementara Heru sibuk memeriksa jalan setapak.

"Guys, jangan bergerak. Ada jejak kaki seseorang," Heru mengeluarkan kaca pembesar dari saku celanannya.

Setelah itu, ia juga mengeluarkan alat pengukur untuk memeriksa panjang dan lebar jejak kaki itu.

"Ini mungkin saja jejak kaki lelaki semalam. Umurnya kisaran tiga puluh sampai empat puluh tahun. Jejak kakinya masih basah, kita bisa ikuti perlahan dan tetap siaga," Heru mengatur barisan.

Langkah kaki yang mereka ikuti keluar dari jalan setapak dan masuk ke semak-semak. Di atas rumput yang basah masih ada bercak lumpur bekas injakan kaki seseorang, mereka masuk ke dalam semak-semak itu. Melewati pepohonan yang akarnya besar, daun-daun kering berserak dimana-mana. Suara monyet menyalak panik melihat kedatangan orang asing. Semakin mereka masuk ke dalam hutan, cahaya matahari semakin meredup karena tidak bisa menembus daun-daun pohon besar yang lebat.

"Lihat ada kelinci," Kim menunjuk ke arah pohon jati.

Di sana ada seekor kelinci yang tengah mengunyah dedaunan.

"Hus, jangan berisik Kim," desis Bri dari depan.

"Guys ada rumah tuh," Heru menunjuk sebuah rumah yang terlihat sangat tua.

"Wah, kita bisa istirahat di sana, Pak Heru" timpal Kim.

Kemudian mereka berjalan dengan penuh hati-hati menuju rumah tua, dan secara tidak sengaja kaki Heru menabrak sebuah tali yang membentang di hadapannya. Ia terkejut lalu menoleh ke arah rekan timnya.

Sebuah balok kayu besar meluncur dari arah kanannya, menghantam tubuh Heru hingga terpental beberapa meter dari tempatnya berdiri. Tubuhnya kemudian terbanting ke batang pohon jati. Darah mengucur dari mulutnya, bola matanya memerah sambil melotot ke atas, tubuhnya bergetar. Saat berayun, balok kayu itu bukan hanya mengenai tubuhnya, tapi juga kepalanya. Ia sekarat.

Part 7! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Berkemah

Part 7! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Berkemah

INIKECE - Mereka mendatangi rumah warga untuk mencari orang yang mau memandu mereka masuk ke hutan. Tapi, tidak ada satu pun warga yang bersedia. Warga bergidik ngeri saat Heru menyebut nama Hutan Ciliman lantaran itu adalah hutan terlarang.

Akhirnya mereka hanya meminta petunjuk jalan untuk masuk ke dalam hutan itu. Salah seorang warga menunjukkan jalan setapak yang berada di ujung barat kampung Ciliman, jalan itulah satu-satunya akses untuk bisa masuk ke hutan Ciliman. Tanahnya becek, rerumputan menutupi jalan itu mungkin karena sudah lama tidak ada yang melintas.

Kim dan Wisnu kesulitan menarik kopernya, sesekali mereka harus mengangkat rodanya karena tersangkut akar pohon. Sementara Heru, Ge, dan Bri memimpin di barisan depan. Mereka tidak berhenti mengawasi sekeliling mencoba menemukan petunjuk.

Menurut laporan yang mereka terima. Safirah dan Daus hilang sebulan yang lalu di hutan ini saat berkemah. Polisi sebenarnya sudah menyisir wilayah ini tapi mereka hanya menemukan sepeda dan tanda saja. Sementara Safirah dan Daus belum diketahui keberadaannya, apakah masih hidup atau sudah mati.

Mereka berlima terus masuk ke dalam hutan. Hari semakin gelap, cuaca terlihat mendung. Sekeliling mereka terlihat pohon-pohon besar dan beberapa monyet menjuntai di dahan-dahannya, menyalak-nyalak seperti sedang menyambut kedatangan tamu tak diundang.


"Lu kenapa mau jadi detektif, Kim?" tanya Wisnu yang berjalan dibelakang Kim.

"Seru aja. Bisa mengungkap kasus-kasus misterius itu hebat," jawab Kim sambil terus berjalan, ia mengemut permen yang ada gagangnya.

"Lu yakin kuat bertahan di hutan kayak gini?" tanya Wisny.

"Kuatlah, gua kan cewek strong."

"Arghhhh!" tiba-tiba Ge menjerit.

Kaki kirnya terkena sebuah perangkap besi. Ia tidak sengaja menginjak perangkap itu, darah mengucur dari pergelangan kakinya. Ia meringis kesakitan sambil terus berteriak. Besinya berkata sehingga dapat membuat kaki Ge terkena infeksi.

Heru dan Bri berusaha membuka gigitan perangkap di kaki Ge, sementara Wisnu merogoh sesuatu dari tas ranselnya. Ia mengeluarkan sebuah lotion dan menungkannya pada perangkap itu agar mudah terbuka. Dengan sekuat tenaga, akhirnya Bri dan Heru dapat melepaskan gigitan perangkap.

Kaki Ge berdarah sampai kulitnya terkelupas menampakkan dagingnya. Buru-buru Kim menggelangkan perban di pergelangan kaki Ge.

"Gua nggak sanggup jalan," kata Ge saat ia mencoba untuk bangkit.

Wisnu melirik ke arah kanan. DI sana ia melihat sebuah lahan yang cukup datar.

"Apa sebaiknya kita berkemah di sana, lagi pula hari sudah semakin gelap Pak Heru," ujar Wisnu.

"Lu bener. Yasudah kita berkemah dulu malam ini."

Mereka mendirikan tiga tenda dome. Ge tidur bersama Heru, Bri dengan Wisny, sementara Kim tidur sendiri. Tapi tendanya Kim diimpit dua tenda sehingga tetap bisa terjaga oleh anggota lainnya. Di dalam tenda, Ge tidak berhenti meringis kesakitan. Luka di kakinya terus mengeluarkan darah, betisnya juga mulai bengkak.

"Lu nggak usah khawatir. Ini obat gua kasih obat," Heru menyunyikkan cairan di pergelangan tangan Ge, itu obat tidur.

Malam semakin larut. Mereka tertidur dengan pulas kecuali Kim. Wanita itu malah nonton drama Korea di smartphone-nya sambil hahahihi tertawa. Sehari sebelum berangkat ke hutan, ia mengunduh dua puluh serial drama Korea yang belum sempat ia tonton.

Ia sekali menangis terharu melihat adegan dramatis. Saat sedang asik menonton drama Korea, tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan lelaki di jalan setapak. Buru-buru ia mematikan layar smartphone-nya. Lalu meringsut perlahan, mengintip dari dalam tenda.

Ia melihat seorang lelaki sedang memegang perangkap yang melukai Ge, lelaki itu membawa sebuah golok di tangan kanannya sementara tangan krinya menggenggam senter. Kim terheran-heran, siapa lelaki itu? Tiba-tiba lekai itu menoleh ke arah Kim dengan tatapan mengerikan.

Part 6! Tahu Baru Di Hutan Terlarang, Keberangkatan

Part 6! Tahu Baru Di Hutan Terlarang, Keberangkatan

INIKECE - Wisnu mengemas kopernya. Hari ini adalah jadwal keberangkatannya ke kampung Ciliman. Dia mengecek tanggal, sudah mendekati tahun baru. Ia yakin akan merayakan tahun baru di tengah hutan.

Ia sangat bersemangat lantaran ini adalah tugas pertamanya sebagai detektif. Ia menuruni tangga kamarnya sambil menyeret sebuah koper. Di ruang tamu, Iak sudah duduk manis menunggunya. Ika tersenyum, hubungan mereka semakin dekat saja.

"Kamu bisa ngasih aku alamat tempat kamu tugas?" tanya Ika sambil berdiri. Ia ingin memastikan kalau terjadi apa-apa bisa mengirim bantuan ke sana.

"Ini," WIsny mengeluarkan secarik kertas.

Ika memotretnya dengan kamera smartphone.

"Udah siap, Nak?" dari ruang keluarga muncul Ibu dan bapaknya yang akan mengantarkan Wisnu ke meeting point.

"Sudah, pah."

Ika ikut mengantar Wisnu. Ia duduk di kursi baris kedua bersebelahan dengan Wisnu. Mobil yang mereka kendarai melaju dengan kecepatan stabil. Jalan lengang tidak ada kemacetan.

"Kalian cocok deh,' celetuk ibunya Wisny sambil melirik spion depan.

Mereka berdua malah tersenyum malu.

"Menikah saja ya," tambah bapaknya Wisny. Membuat anaknya terkejut bukan main. 

"Gajian juga belum, Pah. Udah nikah aja."


Pernyataan Wisnu membuat kedua orang tuanya tertawa, sedangkan Ika hanya tersenyum malu.

Selang beberapa menit, akhirnya mobil mereka sampai di meeting point. Wisnu kembali melanjutkan perjalanan dengan mobil travel menuju kampung Ciliman. Sebelum berpisah Ika memberikan sebuah gelang rajut kepada Wisnu. Katanya itu adalah gelang keberuntungan yang selalu ia gunakan. Sekarang, keberuntungan itu ia serahkan kepada Wisny, lelaki yang membuatnya merasa nyaman.

"Kalian sudah paham tugas kalian masing-masing."

"Siap, Pak. Paham!" jawab Wisnu tegas.

"Kim?" ge menoleh ke kursi belakang.

Kim malah tertidur pulas sambil bersandar ke bahu Wisny. Segera Wisnu menggoyangkan bahunya, menyuruh Kim untuk bangun.

"Kim!"

"Iya, pak!" jawab Kim sambil memicingkan matanya, masih terlihat mengantuk.

"Jangan tidur, kita harus siap siaga!" ucap Ge tegas membuat Kim langsung siap siaga walau terkesan dipaksakan.

"Kayaknya kita udah sampe nih," Bri membuka kaca jendela mobil dan menunjuk sebuah gapura bertulisan 'selamat datang di kampung Ciliman'

"Kami turun di sini saja ya Pak," pinta Heru kepada sopir.

Mereka bergegas turun dari mobil. Mengeluarkan koper dari bagasi dan perlahan melangkah masuk ke perkampungan Ciliman. Warga mulai memperhatikan gerak-gerik mereka. Heru pemimpin regu sesekali menganggukkan kepala pada warga yang tidak sengaja berpapasan. Hal pertama yang akan mereka lakukan adalah mencari seseorang yang mau memandu mereka masuk ke dalam hutan.

Part 5! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Latihan Fisik

Part 5! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Latihan Fisik

INIKECE - Tiga orang lelaki berseragam hitam masuk ke dalam ruangan. Mereka mengenakan topi cokelat, celana taktikal, dan sepatu gunung. Dari penampilannya, mereka terlihat sangat profesional. Badannya berotot seperti atlet gulat. Mereka sudah terlihat untuk menghajar para penjahat.

"Kenalkan. Yang tengah namanya Heru. Sebelah kanan namanya Ge. Sebelah kiri namanya Bri. Kalian berdua nantinya akan ikut bersama mereka menangani kasus orang hilang. Tapi, kalian harus latihan fisik terlebih dahulu sebelum terjun ke lapangan," kata bapak HRD.

"Oh ya, kamu sering olahraga?"

"Sering banget, Pak. Aku suka Strong By Zumba, Jogging sambil dengerin lagu k-pop, renang bareng adik saya, senam pagi sambil dengering K-pop juga, terus..."

"Cukup, cukup!" kuping bapak HRD panas mendengar penjelasan Kim yang tidak ada ujungnya.

"Kau Wisnu?"

"Suka, Pak."

"Oke bawa, mereka  ke lantai tiga."

Wisnu dan Kim dibawa ke lantai tiga untuk menjalani latihan fisik. Mereka diberikan baju olah raga yang masih baru dan perlengkapan lainnya seperti sepatu dan sarung tangan. Setibanya di lantai tiga, mereka diperintahkan untuk pemanasan terlebih dahulu. Melakukan gerakan-gerakan ringan yang dipandu oleh Bri.

Ruangan lantihan cukup luas seperti sebuah lapangan futsal. Ada beberapa alat gym tergeletak di pinggiran. Wisnu dan Kim disuruh berlari lima kali balikan, lalu sit up, squat, dan beberapa gerakan fisik lainnya.

Kim terlihat kelelahan. Ia terkapar di tengah lapngan dengan napasnya yang terengah-engah. Mereka diberi waktu istirahat selama sepuluh menit, kemudian mereka disuruh untuk mengangkat barbel seberat lima kilo sambil berjalan mengitari ruangan. Baru sampai setengah ruangan, Kim sudah ambruk. Dia tidak sanggup lagi, badannya sangat lemas.


"Saya istirahat dulu ya, Pak," katanya sambil terkapar.

"Ayo bangun! Katanya mau jadi detektif! Seorang detektif harus punya fisik yang kuat!"

Kim mencoba untuk bangkit kembali. Ia melanjutkan latihannya dengan semua tenaga yang tersisa. Setelah latihan fisik, kini giliran Ge yang mengajari mereka seni beladiri silat. Ia mengajarkan gerakan dasar silat dan cara menahan serangan musuh. Wisny agak sedikit kesulitan meniru gerakan yang diajarkan Ge begitu pun dengan Kim, ia bahkan beberapa kali terguling karena salah langkah. 

Ge ini memang seorang lelaki yang pandai berkelahi. Ia menguasai seni bela diri silat. Setiap kasus yang membutuhkan investigasi lapangan, Ge selalu diikutsertakan. Ia pernah berkelahi dengan empat orang sekaligus saat menangani kasus pembunuhan, dan dia memenangkan perkelahian itu. Ya, bisa dibilang Ge mampu menjaga semua anggota, tetap saja seorang anggota baru harus menguasai dasar-dasar beladiri.

Setelah dirasa cukup, kini giliran Heru. Nah, dia adalah ketua anggota. Semua tindakan di lapangan harus atas perintah Heru. Dia sosok yang cerdas, penuh dan kehati-hatian, tatapannya tajam, punya daya analisa tinggi. Ia membawa secarik kertas dan sebuah pulpen. Wisnu dan Kim berbaris rapi di hadapannya.

"Baik, sekarang saya akan membagi tugas untuk kalian."

Heru batuk kecil," Wisnu kau bertugas membantu Ge sebagai pencari petunjuk kasus. Dan Kim akan membantu Bri di bidang analisa petunjuk kasus. Selama beberapa hari ini kalian akan dibimbing. Jadi, belajar yang benar."

Part 4! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Kim

Part 4! Tahun Baru Di Hutan Terlarang, Kim

INIKECE - Setelah mendapat telepon panggilan inverview, Wisnu sangat bersemangat untuk menghadirinya. Ia mengajak Ika yang akhir-akhir ini hubungan mereka semakin dekat. Mungkin karena Wisnu merasa satu hobi dengan Ika. Lagi pula, Ika adalah wanita yang baik dan perhatian. Wisnu merasa nyaman di dekatnya.

Ia dipanggil ke dalam sebuah ruangan interview, sementara Ika menunggu di loby. Dalam ruangan itu ada dua orang kandidat lainnya; dua-duanya perempuan. Yang satu terlihat tomboi, mengenakan jaket jeans hitam dan celana levis serta sepatu converse.

Sedangkan perempuan yang satunya mengenakan rok biru dan baju kaos ping terlihat lebih feminim, wajahnya juga orientak. Bolehlah dikatakan mirip anggota girlband asal Korea Selatan; putih, mulus, tinggi semampai, dan murah senyum. 

Wisnu bahkan melihatnya tersenyum terus dari semenjak ketemu di loby. Berbeda dengan perempuan yang tomboi, dia terlihat serius dan siap menjadi detektif handal.

Wisnu tahu kalau posisi ini hanya butuh dua orang saja. Jadi, akan ada satu orang yang gugur. Ia sangat percaya diri kalau akan diterima di perusahaan itu karena dialah satu-satunya lelaki yang mengikuti interview. Bapak HRD di hadapannya bertubuh kurus, mengenakan kemeja putih sederhana.

Kemeja itu terlihat transparan sehingga menampakkan kaos singletnya. Ia tidak mengenakan dasi, sebuah pulpen terselit di saku kemejanya. Wajah bapak HRD terlihat ramah, matanya sendu seperti mengantuk, tapi memang bawaannya seperti itu. Di hadapannya sudah ada tumpukan map; CV para kandidat yang ia print tadi pagi.


"OKE!" bentaknya sambil menggebrak meja memecah keheningan, tapi mengangetkan semua kandidat di hadapannya. Perempuan yang feminim hampir saja terjengkang dari tempat duduk.

"Iya, Pak," timpal Wisnu.

"Ua apanya?" balas bapak HRD.

Wisny celingkukan, tidak bisa menjawab. Perempuan feminim di sampingnya menutup mulut, menahan tawa.

"Jadi, kalian mau jadi detektif?"

"Iya, pak," jawab Wisny.

"Iya apanya," balas bapak HRD.

"Ma... mau jadi detektif."

"Ya nggak usah dijawab kali, itu kan basa-basi," bapak HRD malah bercanda.

"Saya mulai dari mana, ya?" bapak HRD membuka lembaran CV hadapannya.

"Fika Viola Anatasya."

"Saya, Pak," jawab perempuan tomboi dengan tegas dan tatapan tajam.

"Hobi kamu apa?"

"Berburu babi, Pak. Saya tangguh, bisa berkelahi. Dan dapat memecahkan berbagai kasus. Saya juga pernah ikut komunitas detektif di kampus saya," jawabnya dengan jelas dan tegas.

"Hebat!" bapak HRD mengacungkan jempol.

"Afriana Meiskara Sudarjono. Ribet nama kamu. Panggilanya apa?"

Perempuan feminim itu malah tersenyum, "Panggil saja saya Kim."

"Kim?" bapak HRD mengerutkan dahi, "Jauh banget."

"Iya itu nama Korea saya hehehe."

"Hobi kamu apa?"

"Nonton anime Pak. Saya suka nonton Saitama, Naruto, Boruto, Anohana the Flowe, Angel Beats, Chobits, Ai Yori Aoshi, Nyankoi, dan..."

"Cukup! Cukup!" bapak HRD pengap mendengar ocehan Kim.

"Selain nonton anime ada lagi?"

"Oh, tentu. Saya suka boyband dan girlband Korea."

"Oke cukup!" wajah Bapak HRD tampak kelelahan.

"Wisnu... Wisnu. Sekarang kamu, hobi kamu apa?"

"Siap, Pak! Saya suka baca novel detektif seperti sherlock holmes dan menonton film-film detektif yang membuat saya terinspirasi untuk menjadi bagian dari perusaahn ini. Saya yakin kalau saya layak mendapatkan pekerjaan ini."

"Oke, udah tahu kan kalau hanya dua kandidat yang diterima di perusahaan ini. Kamu butuh orang-orang yang profesional untuk menangani kasus yang sangat sukar dipecahkan. Nanti yang keterima akan mendampingi tiga orang detektif senior di perusaahan ini untuk memecahkan sebuah kasus hilangnya perempuan bernama Safirah dan kekasihnya Daus di hutan dekat kampung Ciliman."

Ketika kandidat itu mengangguk paham.

"Baik setelah saya pertimbangkan. Yang diterima diperusahaan ini adalah WIsnu dan Kim."

Wisnu dan Fika terheran-heran kenapa Kim diterima. Tapi, mereka tidak mau banyak protes. Fika akhirnya pamit dari ruangan itu dengan wajah kesal dan tidak terima.

"Kenapa saya pilih Kim? Jadi detektif itu pekerjaan yang jenuh. Sedikit banyak Kim bisa menjadi teman penghibur di sana," kata Bapak HRD sambil tertawa.

Ia meraih gagang telepon, "Ya tolong suruh tiga detektif senior menghadap ke ruangan saya ya."

"Boleh tanya sesuatu, Pak?" Wisny mengacungkan lengannya.

"Iya,"

"Nama bapak siapa."

"Saya tidak mau memberi tahu nama saya. Cari tahu sendiri. Itu latihan awal kamu buat jadi detektif."