Akibat Diteriaki Virus Corona, Mayat Diindramayu Tidak Ada Yang Berani Evakuasi

INIKECE - Akibat dari penyebaran virus corona tersebut banyak sekali menjadi orang ketakutan dan lebih memilih untuk menjaga diri dan jauhi orang-orang terlebih dahulu. Banyak orang sekarang lebih memilih dirumah saja.

Keajaiban Bumi Yang Belum Terpecahkan Hingga Sampai Sekarang, Menjadi Misteri Bumi

INIKECE - Bumi selalu memiliki keajaiban, hingga fenomena alam yang luar biasa, sampai ada suatu tempat dimana tidak dapat diteliti keajaiban bumi tersebut dikarena masih menjadi misteri teka-teki bagi para ilmuan.

Cerita Power Girl! Pesona Sang Gadis Jagoan

INIKECE - Suara gaduh dan teriakan terdengar dari ruangan penuh matras dengan tulisan Ruang Latihan Judo itu. Terlihat seorang gadis dengan rambut kuncir kuda sedang bergulat dengan lelaki yang memiliki ukuran tubuh sedikit lebih besar darinya.

Ramalan April Hari Ini Berdasarkan Zodiak, Simak Yuk!

INIKECE - Diakhir pekan ini, ramalan zodiak hari ini meminta Scorpio dan Aquarius untuk lebih peka terhadap pasangan jika tidak ingin hubungan menjadi buruk. Sementara itu, Virgo diharapkan lebih waspada karena berisiko terkan alergi. .

Romance Remaja! So I Love My Ex - Dia Bukan Lagi Si Cungkring, Part 2

INIKECE - Aluna menarik dan membuang napasnya. Ia memalingkan wajah saat melihat keberadaan Zello. Oke, Aluna memang tahu Zello kuliah di tempat yang sama dengannya, tetapi dia tidak pernah tahu bahwa Zelo ada di Fakultas Ekonomi.

Vembazak, Gengster Yang Menganiaya 9 Siswa Secara Fisik Maupun Psikis

Vembazak, Gengster Yang Menganiaya 9 Siswa Secara Fisik Maupun Psikis

INIKECE - Maraknya kekerasan dan pembullyan di area lingkungan sekolah kembali terjadi kembali. Kali ini menimpa 9 siswa SMP, Madrasah Pembangunan (MP) UIN Jakarta. Kota Tanggerang Selatan (Tangsel).

Kesembilan korban berinisial MD, AD, KSN, RJH, JS, MSY, NA, FN, dan MFM. Mereka seluruhnya merupakan siswa kelas 2 SMP MP UIN. Sedangkan para pelaku adalah seniornya dari lulusan sekolah yang sama.

Para seniornya itu tergabung dalam sebutan gengster 'Vembazak', yang kini telah melanjutkan studi di berbagai sekolah, seperti SMA 1 Tangsel, SMA 9 Tangsel, SMA 87 Jakarta dan Madrasah Aliyah (MA) Pembangunan UIN.

Pengakuan salah satu orang tua korban bernama Iqbal, putranya dianiaya secara fisik dan psikis oleh para senior yang tergabung dalam geng tersebut. Peristiwa itu berlangsung tanggal 14 Oktober 2019 di salah satu rumah pelaku.

"Anak saya sama 4 temannya dipalak (dimintai uang), digebuki, dicekoki rokok, dicekoki miras sama alumninya. Kejadian pertama di rumah pelaku, terus besoknya di kantin sekolah," kata Ikbal.

Kekerasan itu kembali berulang keesokan harinya tanggal 15 Oktober 2019, di kantin sekolah MP UIN yang terletak di Komplek UIN, Jalan Ibnu Taimia IV, Pisangan, Ciputata. Disana yang menjadi korban berjumlah 4 siswa, kebrutalan yang sama dipraktikkan para pelaku.


"Waktu di rumahnya pelaku, korbannya ada 5 siswa, terus berlanjut besoknya di kantin sekolah ada 4 siswa. Jadi yang enggak datang ke rumah pelaku, dianianyanya di kantin sekolah itu. Mereka juga sempat disuruh ikut tawuran dengan kode 'partai', artinya ribut sama sekolah lain," terang Iqbal.


Menurut Iqbal, kekerasan itu dilakukan seniornya dengan modus sebagai penataran kepada calon anggota anggota geng yang akan direkrut. Karena kesembilan korban menolak bergabung, lalu mereka dianiaya dan diteror.

"Kalau anak saya bilang, bahasa pelaku itu istilahnya penataran kepada junior yang enggak mau nongkrong bareng lagi. Bahkan sampai ada satu korban siswa lainnya, dipaksa matiin rokok pakai lidah," ujarnya.

Mulanya kekerasan ini tidak terendus oleh orang tua korban. Saat ditanyakan soal memar dan bekas hantaman yang nampak di sekujur tubuh, para korban kompak menjawab terjatuh saat main futsal dan lainnya.

"Baru terungkap karena saya curiga, terus setelah didesak baru anak saya cerita. Terus orang tua siswa yang lain juga pada cerita yang sama. Kita semua orang tua kumpul dan bahas ini, dan kita laporkan ke polisi," terang Iqbal.

Kapolsek Ciputat, Kompol Endy Mahandika membenarkan adanya laporan mengenai kekerasan terhadap siswa MP Pembangunan UIN. Namun kini penanganannya diambil oleh unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA).

"Terlapor ada 5, mereka adalah alumni yang sekarang sekolah di jenjang SMA. Kita kerjasama dengan Polres, hari ini dilimpahkan ke unit PPA," ucap Endy.

Dilanjutkan Endy, hingga saat ini sudah 2 orang tua korban dan 1 orang tua dari pelaku yang dipanggil guna dimintai keterangan. Dari sana diperoleh pengakuan, bahwa korban dipanggil dan diajak ke rumah terlapor hingga terjadi peristiwa itu.

"Sudah 3 orang tua yang kita mintai keterangan, kalau hasil visum saya belum melihat," ucap Endy.

Horror Balerina, Kisah Cerita Halloween

Horror Balerina, Kisah Cerita Halloween

INIKECE - Yes, Sukses, Dea! You go and smash it, girl! Jangan lupa sama teman-teman, kalau nanti lo tur ke Eropa atau tampil di TV Amerika. Dea gue doakan yang terbaik. Pasti lo sanggup!

Masih banyak pesan lain bernada positif di akun medsos Dea, tapi dia terlalu gelisah untuk membawa semuanya. Bahkan AC ruang tunggu gagal menyejukkan kulitnya yang berkeringat. Demi menenangkan diri, dia menyisir ulang rambutnya yang lurus sebahu.

Di sekitarnya, para peserta audisi lain berlatih menyanyi, mengobrol, atau menulis status. Juru kamera berjalan berkeliling bersama dua orang kru, mewawancarai para peserta secara singkat dan bergantian. Saat Dea selesai bersisir, peserta di sebelahnya menyapa.

"Hai, Kak. Sudah sering ikut audisi ajang cari bakat?"

"Baru kali ini," jawab Dea. "Kamu?'

"Sama, baru sekarang. Kakak hobi nyanyi dari kapan?"

"Dari TK." Sejak dulu, menyanyi adalah hiburan sekaligus umber kekuatan bagi Dea. Melalui seni tarik suara, dia memupuk kepercayaan diri. Bahkan, saat Papa meninggalkan dia dan Mama demi istri barunya, Dea mampu meredam kesedihan dengan makin giat berlatih menyanyi.

"Aku kursus mulai kelas tiga SD," sahut peserta di sampingnya. "Disuruh ortu, sih. Lama-lama ketagihan. Ikut audisi The Songster ini inisiatif aku sendiri. Cari pengalaman, gitu, deh.."

Terlalu gugup untuk meladeni ocehan orang lain, Dea mengucapkan permisi dan pergi ke kamar mandi. Di sana, dia mencuci muka sampai dua kali. Akan tetapi, kegugupannya justruk makin berkecamuk.

Bagaimana kalau, saat menyanyi di depan juri, dia cegukan? Atau mendadak demam panggung dan lupa lirik? Padahal audisi ini momen terpenting dalam hidup Dea.

The Songster adalah kompetisi menyanyi dan franchise sebuah perusahaan media di Amerika. Bagi para juara, pintu peluang terbuka seluas-luasnya. Menyanyi di banyak negara, mengisi soundtrack film, sampai didaulat jadi duta produk, hanyalah segelintir dari tawaran yang mereka peroleh. Singkatnya, The Songster membuktikan bahwa ajang cari bakat bukan ketenaran lima menit, melainkan anugerah seumur hidup.

Dea mengikuti audisi ini untuk menang. Minimal menjadi runner-up atau tiga besar. Karenanya, dia rela membolos kuliah dan berisiko dihukum dosen. Mama pasti sangat bangga bila anak tunggalnya lolos audisi dan Deas pasti lolos!

Namun, peserta audisi hari ini saja ratusan jumlahnya. Sedangkan audisi berlangsung di tujuh kota. Saingan Dea ribuan orang, mungkin puluhan ribu, termasuk penyanyi profesional. Bagaimana jika dia terjegal di babak penyisihan?

Sambil membuka tas, dia meraba-raba isinya untuk mencari botol body spray. Dia butuh merasa nyaman, dan badan wangi adalah salah satu solusinya. Sepintas dia heran, mengapa dari tadi kamar mandi ini kosong. Apa semua peserta audisi wanita memakai kamar mandi lain? Lalu jemari Dea menyenggol sebuah benda keras.

Sadar benda apa itu, dia menariknya keluar, sebuah kotak musik putih polos tanpa ukiran. Mama meberikannya pada Dea setelah dia mengirim formulir audisi. Kata Mama, benda ini dulu milik bibinya.

Bibi Mama juara festival nyanyi sewaktu muda, sama dengan impiam kamu. Bawa saja kotak musik ini ke audisi, supaya kamu ingat Mama dan tetap semangat.

Ketika Dea membuka kotak musik, sesosok balerina kecil dari porselen berdiri dari dasar kotak. Baju dan sepatunya berwarna merah kesumba. Kedua kaki baleria berjinjit dan lengannya terentang. Biasanya Dea senang melihat si balerina, tapi kali ini ada yang berbeda.

Senyum balerina yang manis berubah menjadi seringai. Bibirnya segelap darah, bukan merah jambu seperti biasanya. Di telinga Dea, terdengar suara rendah dan parau.

Aku bukan balerina yang asli, Dea. Aku monster. Balerina asli sudah kumakan. Mainkan musiknya, dan kau akan kumakan juga.

"Ngaco, ah," bisik Dea. Namun, bukannya sebal karena berkhayal bukan-bukan, dia justru gentar. Sambil berharap perasaannya membaik setelah mendengarkan lagu, dia memutar kunci di samping kotak.

"Fur Elise" mengalur pelan dalam denting piano. Si balerina berputar perlahan. Bibirnya kembali merah jambu dan tersenyum manis. Sambil menonton gerakan sosok porselen itu, lambat laun Dea kembali tenang. Dia bahkan tak lagi heran mengapa kamar mandi tetap kosong.

Lalu dia melihat tulisan di dasar kotak. Seraya memicingkan mata, Dea membaca 'Play a song and make a wish'. Baru kali ini dia melihat tulisan itu, huruf kecil putih seperti dasar kotak, hingga nyaris tak tampak.

Yah, dia sudah memainkan lagu. Apa salahnya sekalian mengajukan permintaan?

"Aku minta, suaraku tiga kali lipat lebih bagus," katanya. "Juri, penonton, dan semua pemirsa TV suka. Sampai aku jadi juara The Songster. Tolong kabulkan"

Jrang! Dea terlonjak kaget. Alunan "Fur Elise" terhenti, terpotong bunyi kasar mirip tuts piano dipukul. Merasa seperti habis dibentak, Dea menutup kotak musik.

Buang-buang waktu saja, memainkan barang tua ini! Padahal lebih baik dia berlatih menyanyi. Dengan malu bercampur kesal, Dea kembali ke ruang tunggu.

Satu jam kemudian, akhirnya Dea dan sembilan peserta lain dipanggil. Seorang kru mengantar mereka ke ruang tunggu kedua, yakni perhentian terakhir sebelum ruangan audisi. Saat tiba giliran Dea maju ke depan para juri, jantungnya berdebar keras sampai dia pening.

Sikap para juri tidak menggembirakan. Ekspresi mereka tak acuh, disertai basa-basi bernada tawar. ("Hobi kamu nyanyi? Oh. Ikut audisi tujuannya apa? Ya, Ya.") Jelas sekali mereka sudah jemu, dan ingin lekas pulang ke hotel.

Pokoknya kerahkan upaya maksimal, pikir Dea, dan mulai melantunkan lagu.

Dia nyaris tidak mengenali suara yang keluar dari mulutnya. Lembut tapi kuat, lebih merdu daripada nyanyiannya yang biasa. Suara itu memenuhi tiap sudut ruangan audisi, sampai Dea sendiri menrinding, merasa tersihir.

Ketiga juri, bahkan para kru, menonton dengan terpukau. Usai Dea menyanyi, para juri berdiri dan bertepuk tangan. Bahkan sebagian kru turut berseru memuji. Seraya tersipu, Dea mengucapkan terima kasih berkali-kali.

"Sinting," cetus juri paling senior. "Luar biasa! Brovo! Entah kamu kerasukan, atau ini suara paling fenomenal yang pernah kami dengar."

Lima bulan selanjutnya melampaui mimpi-mimpi terindah Dea. Video audisinya yang berjudul lagu "Malaikat Juga Tahu" Dibawakan Suara Malaikat ditonton belasan juta kali. Di tiap babak, para juri menyanjung penampilannya dan memberikan kritik membangun. Mama, semua teman Dea, bahkan guru-guru di SMA swasta tempat Mama mengajar, gencar mengirim vote. Hingga akhirnya Dea mendarat mulus di babak tiga besar.

Selama kompetisi berlangsung, kotak musik itu menghuni laci lemari baju. Satu kali Dea memutarnya, dan semua berjalan normal. Lagu mengalun lancar, si balerina tersenyum dengan bibir merah jambu.

Betulkah kotak musik ini mengabulkan permintaannya? Pasti hanya sugesti saja. Mengucapkan permintaan keras-keras konon bisa menguatkan niat, yang berakibat keluarnya segenap kemampuan. Ya, pasti itu yang terjadi.

Pada malam final, Dea merebut gelar juara The Songster Indonesia season ini. Tak ada yang terkejut, termasuk Dea sendiri. Tangis bahagia Mama selagi Dea turun dari panggung, banjir ucapan selamat, semua menebus segala kelelahannya.

Hidup Dea yang baru ini fantastis, dan dia tak akan menukarnya dengan apa pun.

***

Pagi Minggu itu dia baru bangun pukul delapan. Tadi malam dia mengikuti syuting acara TV, dan baru pulang pukul dua pagi. Seisi rumah sepi, hari ini jadwal Mama berolahraga senam bersama ibu-ibu kompleks.

Begitu mama pulang, Dea akan mengajak beliau jalan-jalan. Makan siang di luar, berbelanja, pokoknya melakukan apa pun yang Mama inginkan. Itulah mengapa seorang anak harus sukses agar orangtuanya bahagia.

Sambil menguap, dia turun dari tempat tidur dan membuka laci lemari baju. Dea mengeluarkan kotak musik, lalu duduk bersila dan menaruh kotak di lantai. Seremeh apa pun peran benda ini dalam kemenangannya, peran itu patut dihargai.

"Makasih, ya," ujar Dea. "Waktu kompetisi kemarin, sudah bantu aku..."

Klak! Tutup kotak terbuka sendiri dan balerina porselen itu bangkit tegak. Terjadinya begitu cepat hingga, sebelum Dea sadar, baleria itu sudah berputar.

Kepala balerina mendongak. Kedua lengannya turun, dan tatapannya bertemu mata Dea. Seringai merah darah mengembang di wajah balerina. Spontan Dea melompat berdiri dan secercah ingatan dari hari audisi menggema dalam benaknya.

Aku monster. Balerina yang asli sudah kumakan, dan kau akan kumakan juga. Mulut Dea membuka, ingin berteriak, tapi tak ada suara keluar. Dia mengerahkan segenap tenaga sampai otot-otot lehernya sakit, tetap saja hasilnya nihil. Sementara itu, baleria terus menatapnya dengan seringai yang makin lebar.

"Suara bagus sampai jadi juara The Songster," kata balerina. Suaranya sendiri merdu, memesona, suara seorang juara kompetisi menyanyi. "Itu yang kamu minta. Itu yang kamu dapatkan. Bagaimana? Kamu senang selama lima bulan ini?"

Balerina itu tertawa. Suaranya menusuk gendang telinga Dea. Ingatan akan suaranya yang kini hilang, nyanyiannya di atas panggung, berdengung di dalam kepala.

"Bibinya mama kamu sama dengamu," lanjut balerina. "Ingin menang festival menyanyi, lalu akhirnya jadi juara. Besok tiba-tiba dia lari ke jalan seperti orang kerasukan, dan tewas tertabrak mobil. Mamamu lupa bilang, bukan?"

Tawa balerina berkumandang lagi, tapi Dea tidak mendengarnya. Dia berlari ke luar rumah, mulutnya menganga, setengah mati berusaha meminta tolong. Seorang tetangga memanggilnya, dan Dea berpaling tepat di tengah jalan saat sebuah mobil melaju kencang ke arahnya.

Tentang Penulis :

Eve Shi senang menulis sejak kecil. Dia telah menerbitkan delapan novel cetak dan sedang merambah online fiction.

Terlibat Asmara Percintaan Kepada Karyawan, Bos McDonald's Dipecat

Terlibat Asmara Percintaan Kepada Karyawan, Bos McDonald's Dipecat

INIKECE - Jika seseorang terlibat asmara percintaan terdapat seseorang adalah hal yang biasa. Baik dia kerja dimana, jabatannya apa, dan menurutnya dia adalah orang yang sangat baik untuk dicintainya.

Tetapi berbeda dalam kasus sebuah perusahaan ini. Atasan atau Presiden sekaligus Direktur Eksekutif McDonald's, Steve Easterbrook. Diketahui melakukan jalinan asmara dengan salah seorang pegawai di perusahaan asal Amerika Serikat itu.

Pada Minggu (3/11) kemarin setelah dewan komisaris menggelar rapat. Membahas tentang kasus percintaan antara Bos dan karyawan dalam perusahaan tersebut.

"Easterbrook memperlihatkan sikap yang kurang baik termasuk berhubungan intim suka sama suka dengan seorang pegawai," demikian isi pernyataan dewan komisaris McDonald's.

Easterbrook didapuk menjadi pemimpin perusahaan jaringan restoran itu pada empat tahun lalu. Namun, karir yang dibangunnya mendadak berakhir pada akhir pekan lalu.

Easterbrook lantas menulis surat yang berisi permohonan maaf atas perbuatan yang dianggap melanggar aturan. Surat itu dikirim melalui surel kepada seluruh karyawan McDonald's

"Alasan kepergian saya adalah saya terlibat hubungan asmara dengan seorang karyawan, yang melanggar aturan McDonald's. Saya sadar ini sebuah kesalahan. Dan saya juga memahami keputusan dewan komisaris yang sejalan dengan nilai-nilai perusahaan ini. Ini saatnya bagi saya untuk terus maju dan saya berharap kalian menghargai privasi saya," tulis Easterbrook.


Dewan komisaris McDonald's lantas menunjuk Presiden McDonald's Amerika Serikat. Chris Kempczinski, sebagai pengganti Easterbrook. Keputusan itu berlaku mulai kemarin.

Kempczinski yang bergabung dengan restoran hamburger itu pada 2015 menyatakan merasa terntang untuk melanjutkan kesuksesan yang diraih oleh perusaahn itu selama bertahun-tahun.

"Kempczinski mengambil kendali saat kondisi perusahaan dalam keadaan yang sangat baik. Kami sangat yakin dia adalah pemimpin terbaik yang memiliki pandangan da rencana matang demi melanjutkan kesuksesan itu," kata Presiden Dewan Komisaris McDonald's, Enrique Hernandez Jr.

Komisaris lantas menunjuk Joe Erlinger untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Kempczinski. Dia tadinya adalah direktur pemasaran internasional dan sudah bekerja di McDonald's sejak 2002.

Easterbrook diketahui sudah bercerai dengan istrinya dan sudah memiliki anak. Karirnya di McDonald's dianggap cemerlang.

Easterbrook yang menerapkan kebijakan modernisasi yakni merenovasi tampilan restoran, dan mengadopsi teknologi informasi pemesanan menu secara digital. Dia juga memutuskan tetap mempertahankan menu-menu lawas dan tidak melakukan inovasi.

Bahkan dia memilih memangkas produksi menu untuk kebutuhan konsumen pada dini hari dengan alasan efisiensi, serta tetap mempertahankan penggunaan daging sapi segar saat restoran waralaba lain yang mengganti menu mereka dengan makanan berprotein berbasis tanaman. Hal itu terbukti mendongkrak penjualan dan nilai saham.

Meski demikian, hubungan Easterbrook dengan para pemegang lisensi waralaba di seluruh dunia tidak harmonis. Sebab dia menolak usul untuk menjual menu roti lapis ayam premium yang diusulkan pemegang lisensi. Akhirnya para pemegang hak waralaba itu membentuk asosiasi pada tahun lalu.

Misteri Liontin, Happy Halloween!

Misteri Liontin, Happy Halloween!

INIKECE - Ada dua alasan Lian memungut liontin itu dari tempat sampah. Pertama, isi tempat sampah sekadar kertas-kertas salah cetak, hingga bersih dan bebas bau. Mengambil benda dari situ tidak akan mengotori tangannya. Kedua, liontin itu amat mirip hadiah dari mendiang Nenek.

Kantor cabang perusahaan asuransi ini sudah kosong. Jam menunjukkan pukul delapan malam, dan semua pegawai lain sudah pulang. Lian memandangi liontin yang dia yakini memang pemberian Nenek 'Bentuk Hati, berwarna ungu anggur, dengan ukiran nama Nenek di bagian belakang'.

Namun, kali terakhir Lian melihat liontin dengan rantai perak tipis ini adalah tujuh tahun lalu. Saat itu dia dan keluarganya baru pindah ke Jakarta. Ketika mereka membongkar barang, liontin itu tidak ada. Barangkali tertinggal di rumah lama, kata ibu. 

Dengan sedih, Lian terpaksa merelakan raibnya kenang-kenangan paling berharga dari Nenek. Dan kini liontin itu ada dalam tempat sampah diruangan kantornya.

Dengan hati-hati, Lian mencukil kait di pinggir liontin sampai terbuka. Apakah liontin ini tak sengaja terbawa kapal laut atau pesawat? Menyeberangi lautan dari Sumatera ke Jawa, lalu menunggu di tempat sampah untuk ditemukan Lian? Seraya menahan napas, dia membuka liontin, lalu mengernyit.

Liontin itu bukan berisi foto Nenek seperti yang dia ingat. Melainkan foto seorang pria sepantar Lian. Wajah pria itu cemberut, seolah dia tak sudi dipotret. Sejenak Lian bingung, lalu tiba-tiba sadar, dia mengenal pria dalam foto ini.

Lima belas tahun lalu, pasti beginilah tampang Pak Mahesa, kepala kantor cabang dan atasan Lian. Bentuk wajah, mata, dan hidungnya sama, tapi bukti paling telak adalah cemberutnya. Pak Mahesa menganut paham bahwa, agar anak buah terpacu bekerja, mereka harus sering-sering disodori muka masam. Rekan-rekan Lian menjulukinya Si Muka Cuka.

Tadinya, sebelum menemukan Liontin, Lian lelah dan lapar. Namun, kini tenaga baru mengaliri sekujur tubuhnya. Keberadaan liontin pun bukan lagi misteri. Pasti benda ini milik Pak Mahesa, yang membuangnya sebab jengkel dengan wajah sendiri. Ukiran nama Nenek hanya kebetulan mungkin namanya sama dengan nama kerabat Pak Mahesa.

Ujung jari Lian menyentil foto itu.

"Merengut melulu, Pak." Dia mencetus. Mulutnya membentuk seringai mencemooh.
"Tahu rasa kalau nggak bisa senyum lagi. Susah keluar rumah. Dijauhi keluarga. Nggak bisa kerja."

Masih sambil menyeringai, Lian mencabut foto Pak Mahesa dari dalam Liontin. Dalam perjalanan pulang, dia merobek foto dan melemparnya ke dalam selokan. Nah! Silahkan Pak Mahesa mencemberuti air kotor di sana.

***

Pada pukul sepuluh pagi, Pak Mahesa belum juga tiba di kantor. Rekan-rekan Lian mulai berkasak-kusuk. Salah satunya, Anwar, berinisiatif mengecek akun media sosial milik Pak Mahesa. Hasilnya nihil, tak ada status sejak kemarin. Lian sendiri terus bekerja seolah tak terjadi apa-apa.

"Ke mana, ya, si bos?" tanya Vita yang duduk di sebelah Lian. "Orang rajin begitu, tahu-tahu telat masuk kantor."

Berenang di comberan, mungkin, pikir Lian tak acuh. Seperti fotonya yang kubuang ke selokan tadi malam.

Anwar menelepon nomor ponsel Pak Mahesa. "Dijawab voice mail," lapornya pada rekan-rekan lain. "Apa dia sakit? Tapi kemarin segar bugar."

Satu jam kemudian, karena belum juga ada kabar, Anwar memberanikan diri menelepon rumah Pak Mahesa. Rekan-rekannya menatap dengan penasaran saat Anwar berbicara dengan sikap berubah-ubah, kaget, serius, lalu prihatin.

"Tadi itu si Mbak di rumah Pak Mahesa." Masih dengan air muka prihatin, Anwar meletakkan gagang telepon. "Pak Mahesa lagi diantar istrinya ke dokter. Dia sakit, um... aku juga bingung cara jelasinya."

"Sakit kambuhan?" tanya Vita.


Anwar menggeleng. "Pagi-pagi Pak Mahesa bangun, mukanya jadi aneh. Mulut melengkung ke bawah, bibir maju ke depan. Mungkin mirip cemberut dia ke kita. Bisa cuma otot keseleo, bisa juga gejala penyakit parah. Dia usahakan, sepulangnya dari dokter nanti mampir ke kantor."

Jarum jam melewati angka dua belas. Sebuah pesan masuk ke ponsel Anwar. Istri Pak Mahesa mengabarkan kondisi suaminya.

Menurut diagnosis dokter, Pak Mahesa sehat dan otot wajahnya normal. Namun, ekspresi cemberut itu tetap melekat di wajahnya tanpa bisa diubah. Hari ini Pak Mahesa libur dulu, dan wajah serta lehernya dipijat oleh tukang urut.

Itulah akibat kebanyakan cemberut, cetus rekan-rekan Lian. Cemberut yang terlalu sering akhirnya tertanam ke dalam daging. Meskipun ucapan itu bernada menghakimi, mereka pun berharap Pak Mahesa lekas sembuh. Sementara itu, Lian tidak ikut berkomentar.

"Ih, sakit apaan, ya? cerocos Vita. "Kalau gejala strok, kok, nggak kedeteksi sama dokter? Sepupu aku pernah, tuh, kayak gitu waktu SMA! Mulutnya tertarik ke kanan. Konon, dia sering mandi air dingin malam-malam, ototnya jadi kaku. Beberapa hari dia harus diam di rumah!"

"Vita," ujar Lian, "aku lagi sibuk..."

"Untung sepupuku sembuh! Tapi waktunya pas banget, sehari sebelum ujian nasional. Gawat, kan, kalau dia nggak lulus, cuma gara-gara lalai sewaktu mandi.."

Vita sialan! Segala hal sepele dia omongkan panjang lebar, menyangka orang pasti tertarik. Celaka betul Lian, terjebak duduk di samping orang bermulut bocor begitu.

Di kamar mandi, Lian melampiaskan kekesalan dengan memutar keran wastagel keras-keras. Guyuran air tangannya lambat lain menyejukkan hati yang kesal. Dia mematikan keran, lalu pandangannya singgah di cermin dan berhenti di sana.

Cermein memantulkan wajah bulat telur dan rambut tebal. Lain akrab dengan wajah itu, tapi tidak dengan garis-garis di kedua sisi mulutnya. Garis-garis ini, yang belum ada tadi pagi, menambahkan kesan cemberut di wajahnya.

Cemberut seperti pada wajah Pak Mahesa. 

Bukan apa-apa, pikir Lian. Hanya efek cahaya, akan hilang sesudah dia beristirahat. Lian mengelus kedua garis itu, dan jarinya mendapati lekukan dalam di daging pipi. Setengah bergidik, dia bergegas kembali ke mejanya.

Vita sedang mengobrol dengan rekan lain. Lain membuka akun Facebook Vita, lalu memilih salah satu fotonya. Semua orang sibuk bekerja, menebak-nebak penyakit Pak Mahesa, atau keduanya. Tak ada yang memperhatikan saat Lian mencetak foto Vita dan menyimpan kertas cetakannya di laci.

Sorenya, Anwar menerima pesan lanjutan dari istri Pak Mahesa. Pijatan tukang urut sama sekali tidak berpengaruh pada wajah Pak Mahesa, yang mulutnya justru makin melengkung. Besok Pak Mahesa akan diperiksa oleh dokter lain.

"Sepupuku, yang aku ceritakan tadi, butuh banyak istirahat," kata Vita pada Lian selagi semua orang bersiap-siap pulang. "Si bos paling-paling juga sama."

Dia melanjutkan berkicau tentang kafe langganannya, mengajak Lian bersantai di sana. Sambil tersenyum, Lian menampik ajakan Vita. Begitu semua rekannya keluar dari kantor, Lian mengambil kertas cetakan foto Vita dan gunting dari laci. Beres menggunting foto hingga seukuran liontin, dia memasang guntingan foto di dalam liontin.

"Vita, rem kamu terlalu blong," ujar Lian. "Mulai besok, kurangi omonganmu. Sedikit saja, nggak usah banyak-banyak. Oke?"

***

Dua hari kemudian, Pak Mahesa masih belum masuk kerja. Hasil diagnosis dokter kedua sama dengan yang pertama, fisik normal, dan entah apa yang mengubah bentuk mulut. Rekan-rekan Lian sepakat untuk membesuk atasan mereka. Lian ingin tahu, adakah nanti yang berani menyuruh Pak Mahesa sering-sering tersenyum.

Jika pun ada, orang itu bukan Vita. Sejak kemarin dia nyaris tidak mengeluarkan suara. Bila ditanya, dia menyahut dengan singkat. Beberapa kali rekan-rekan sekantornya melirik Vita dengan penuh pengertian. Tampaknya mereka menduga, Vita sedang ditimpa masalah.

Tak ada yang curiga bahwa suara Vita yang rendah itu bukan akibat tekanan batin. Bila dia melantangkan suara, atau bicara lebih dari lima kata berturut-turut, udara berhenti mengalir ke paru-parunya hingga di tidak bisa bernapas. Terpaksa dia bicara pendek-pendek, dan akhirnya memilih diam.

Napas pendek itu sesuai dengan permintaan Lian pada liontin. Kini dia bekerja dengan nyaman, tak terusik oleh celoteh Vita.

***

Kondisi Pak Mahesa tak kunjung membaik. Konon, dia kini bahkan kesulitan membuka mulut. Kantor pusat pun mengirimkan kepala cabang pangganti. Orangnya energik, teliti, dan yang paling disukai rekan-rekan Lian murah senyum.

"Aku setuju dia kerja di sini terus," kata Anwar. Lalu dia tampak merasa bersalah, tapi tak ada yang menuduh dia senang atas sakitnya Pak Mahesa. Semua rekan Lian berpikiran sama, mereka menyukai sang atasan baru dan ingin masa jabatannya diperpanjang.

Sementara itu, garis-garis di sisi mulut Lian tidak menghilang. Dia menyayangkannya, walau tidak terlalu kaget. Begitu pula saat napasnya terhenti bila dia bicara panjang-panjang, seperti yang dirasakan Vita.

Segala sesuatu ada imbalannya. Lian hanya tinggal menanggung imbalan itu. Lagi pula, dia atau pun orang lain tidak akan mati hanya gara-gara cemberut permanen dan jarang bicara.

Sebulan kemudian, kantor Lian heboh, si kepala cabang yang baru kabur dengan membawa uang perusahaan. Istri dan anaknya turut raib tanpa jejak. Atas permintaan perusahaan, polisi memburu orang yang kini berstatus mantan kepala cabang itu. Selagi rekan-rekannya sibuk membahas kasus ini, Lian membuka akun media sosial milik mantan kepala cabang.

Akun itu belum digembok. Foto-fotonya pun banyak yang baru. Lian mencetak salah satu foto dan menyimpan kertas cetakannya di laci. Setelah rekan-rekannya pulang, dia menggunting foto mantan kepala cabang dan memasukkannya ke dalam liontin.

Perampok. Bedebah. Mencuri uang lalu kabur. Aku rasa, sekarang dia berfoya-foya di persembunyian, merasa aman dari kejaran polisi. Dia tidak tahu, ada liontin ini...

Ujung jari Lian mengelus sisi liontin. Napasnya makin pendek, dan garis di sisi mulunya makin hari makin memanjang. Namun, dia tak peduli. Senyumnya mengembang selagi dia larut oleh kegembiraan akan menghukum seorang penjahat.

Akan kutahan dia supaya terpaksa diam di tempat dan mudah ditangkap polisi! Kira-kira, apa yang bisa dibuat lumpuh tanpa menyebabkan dia, dan aku mati? kaki? tangan? atau...kehilangan satu bola mata?

Tentang Penulis ;

Evi Shi senang menulis sejak kecil. Dia telah menerbitkan delapan novel cetak dan sedang merambah online fiction.

Siapa Yang Butuh Pacar?

Siapa Yang Butuh Pacar?

INIKECE - Sudak sejak Cecil menyicipi dunia percintaan. Jatuh bangun dari proses pertemanan, pendekatan, berpacaran, bahkan pertikungan sekalipun sudah pernah ia alami maupun ia lakukan. Semua kegiatan itu asyik dijalani di tahun pertama, tapi begitu menginjak tahun kedua, warna dunia yang bermandikan merah muda berangsur-angsur berubah kelabu.

Dari tiga mantan pacar dan puluhan mantan gebetan yang Cecil punya, tidak ada hubungannya yang dirasa worth it. Contoh saja Yoha, mantan pacar Cecil yang pertama.

Awal kisah mereka bak cerita dongen yang sempurna. Tapi akhir cerita mereka bak komedi. Pada waktu itu Cecil masih kelas 2 SMP. Lugu, baru mengalami cinta untuk pertama kali. Sepatah gombal lebih dari cukup untuk membuat Cecil cengar-cengir sendirian di sudut kelas, sambil sesekali mengintip ke luar jendela kelas, barangkali sosok yang ia tunggu akan berpapas melewati lorong.

Yoha adalah pacar yang sangat perhatian. Tidak ada kata absen baginya untuk mengucap sapa "good morning", "good night", "udah makan belum?" dan kata-kata lainnya. Hubungan manis itu sukses membuat hati Cecil bersiul gembira setiap pagi, lantaran Yoha selalu bangun lebih pagi dari Cecil untuk berolahraga. Belum lagi kencan-kencan mereka penuh dengan canda tawa.

Rutinitas penuh kasih itu berlangsung selama kurang lebih 1 tahun, lalu semua berubah di saat sesosok game bernama PRUDOMINO menyerang. Mendadak sapaan mereka berubah menjadi serba-serbi "sbb". Kencan mereka digantikan oleh Yoha yang sibuk mabar dengan sahabat-sahabatnya.

Cecil sudah berusaha mempertahankan hubungan mereka, bahkan mencoba untuk ikut menyicip keasyikan rivalnya itu. Apa daya, bermain game bukan bakat Cecil. Pun ketika Cecil menelepon sang kekasih, Yoha pasti sedang group call dengan sahabat-sahabat gamer lainnya.

Setiap kali Yoha duduk di depan komputernya, ia berada di luar jangkauan Cecil. Konyol tapi nyata. Hubungan Cecil yang berlangsung 1,5 tahun tertikung oleh Game Online. Lebih menyakitkan lagi ketika Yoha hanya membalas permintaan pisah dari Cecil hanya dengan sepatah "Hehe. Maaf ya aku keseringan main. WIsh the best for you."

Gebetan Cecil yang berikutnya, Toby, tidak kalah perhatiannya dari Yoha. Mereka tidak berpacaran, tapi cukup sering jalan bareng dan chat selama beberapa bulan. Cecil dan Toby menyukai lagu yang sama. Tak jarang mereka nonton konser live bersama.

Toby rela menjemput Cecil sampai ke rumah, lengkap sampai mengantar Cecil pulang di malam hari. Hal lain yang tidak bisa dilupakan Cecil adalah hadiah ulang tahun yang didapatnya dari Toby: Sebuah boneka teddy bear berukurang cukup besar yang bahkan sekarang masih terpamapng di kamar Cecil.

Toby mungkin tidak seperti Yoha yang selalu meninggalkan pesan good morning dan good nigth, tapi Toby berhasil membuat Cecil merasa nyaman. Seolah mereka berada di dunia yang sama, tanpa ada rahasia antara satu sama lain. Berbagai sinyal positif saling mereka tukarkan ke satu sama lain, namun kepastian akan hubungan mereka tidak kunjung datang. Penantian itu berakhir dengan kelimat maut dari Toby, "Kamu udah aku anggep adik sendiri."

To be fair, Toby memang sedikit lebih tua dari Cecil. Sekitar 3 tahun. Dan sepertiga dari itu adalah waktu yang Cecil butuhkan sampai ia bisa melupakan perasaannya ke Toby sepenuhnya.

Bukan berarti Cecil tidak didekati laki-laki lain selama proses penyembuhan patah hati itu. Ada Ryan si kapten futsal, Leo si ketua kelas 10-B, Alex si bajingan (iya, Cecil masih menyimpan dendam karena Alex selalu meminta Cecil yang membayar waktu mereka jalan bareng. Pria macam apa yang menyuruh wanitanya membayar biaya bensin?!), dan masih banyak lagi tokoh yang pernah menjajaki dunia asmara Cecil.

Semua nama di atas gagal menyicip posisi sebagai "pacar Cecil". Pacar Cecil yang kedua justru seseorang yang tidak pernah bicara dengannya, yang tiba-tiba muncul dan menembaknya.

Namanya Hans. Teman sekelasnya yang pendiam, biasa berkutik dengan laptopnya di pojok kelas. Cecil bersedia menjadi pacarnya atas rasa iseng, tapi ternyata menyenangkan.

Cecil jadi mengenal dunia kartun Jepang (anime) berkat Hans. Banyak tontonan yang menarik, walaupun banyak reaksi karaternya yang terkesan lebay. Hans anak yang baik, tapi bukan pacar yang baik.

Di hubungannya yang ini, Cecil menyadari bahwa yang disebut pacar itu hanya status. Pacar itu overrated. Hans tidak perhatian seperti Yoha. Dia juga tidak dewasa seperti Toby. Dia memang berpacaran dengan Hans, tapi hanya ketika mereka menyentuh dunia anime.

Di luar itu, mereka nyaris tidak pernah berbicara. Kencan pun tidak pernah sama sekali. Bahkan Cecil sempat menggebet 2-3 orang lain selagi menjalin hubungan dengan Hans.

Hubungan Cecil dan Hans berakhir setelah 4 bulan. Sebenarnya mereka hanya benar-benar berpacaran selama 1 bulan, dan 3 bulan sisanya adalah Cecil yang tidak menganggap Hans ada. Hans baru menghubungi Cecil setelah 2 bulan tidak berkabar, mengajaknya nonton anime bareng, lalu ditolak oleh Cecil ternyata sedang dekat dan jalan dengan anak laki-laki lain.

Ironisnya, Cecil berakhir dingin seperti Yoha. Kata-kata terakhir Cecil kepada Hans adalah sesuatu seperti "Ok. Have fun with yourself."

Akhir hubungan Cecil dan Hans malah mengawali hubungan Cecil yang baru. Ini adalah hubungan yang belum pernah Cecil rasakan sebelumnya.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, Cecil pernah ditaksir oleh kapten futsal. Hal ini terdengar sampai ke fans clun ketua futsal tersebut dan berakhir dengan pelabrakan oleh 5 kakak kelas dan 2 teman sekelas. Tujuh lawan satu, semua perempuan.

Setelah itu, Cecil pernah mengalami beberapa pelabrakan lainnya. Termasuk salah satunya ketika ia ditampar oleh teman seangkatannya karena nyaris mengakhiri hubungan yang sudah terjalin selama 3 tahun. ( Sungguh, Cecil tidak bermaksud menikung siapapun. Pacar cewek itu yang mulai berbicara dengannya.)

Setelah pergantian tahun ajaran, sekitar satu bulan setelah puts dari Hans, seorang anak laki-laki datang menghampiri Cecil. Anak itu bersama Dimas. Cecil mengingatnya sebagai anggota tim inti basket. Mulai kelas 11 itu, mereka jadi teman sekelas.

Perbedaan tinggi antara Dimas dan Cecil turut membantu tingkat ketegangan antara dua insan itu. Bayangkan saja bila ada laki-laki tinggi dengan otot lengan yang lumayan terbentuk datang menghampiri kalian dengan tampang garang dan suara rendah,


"Lu yang namanya Cecil ya?"

Makhluk mana yang tidak terkejut? Cecil juga hanya bisa mengangguk dengan hatinya yang seimbang antara ragu dan takut. Dia hanya pernah didekati laki-laki yang menyukainya, bukan yang membencinya.

Bukankah laki-laki cenderung menyembungikan bila tidak menyukai seseorang?

"Lu yang mantan pacar Hans kan?"

Pertanyaan kedua dari Dimas memberikan secercah jawaban kepada Cecil. Dia ingat pernah melihat Hans dengan Dimas ini. Hanya saja Cecil tidak pernah memperhatikan dengan jelas,

"Iya, gue mantannya. Kenapa?"

Cecil memberanikan diri dan menjawab mantap. Kalau instingnya berkata benar, Dimas pasti disini untuk membela Hans yang ia selingkuhi. Kalau begitu, Cecil hanya perlu membela diri bahwa Hans yang gagal memenuhi tugasnya sebagai seorang pacar. Kalau tiba-tiba sosok Dimas ini mulai bermain fisik, Cecil hanya perlu melapor ke guru BK.

Dimas membuka mulut. Cecil siap memasang telinga. Begitu suara nge-bass bergema di udara, ternyata isi pesannya jauh berbeda dari diperkirakan Cecil.

"Hans pengen balikan sama lu."

"...hah?"

Cecil tidak sadar apakah kata itu terhembus ke udara atau bersangkar di pikiran Cecil. Intinya, cecil bingung. Otak gadis peraih nilai UN Bahasa Inggris tertinggi itu berputar cepat melawan rasa bingung.

"Hans minta balikan?" tanya Cecil, memastikan telinganya masih berfungsi dengan baik.

Dimas menjawab dengan anggukan. "Iya"

"Terus kenapa lu yang ngomgong ke gue?" Lu siapanya dia?" Cecil mengernyit.

"Ia kan? Gue juga bingung."Anak basket itu menarik napas dalam. "Dia minta gue jadi perantara kalian. Balesan lu apa?"

"Ya nggak mau, lah!"

"Kenapa nggak mau?"

"Bukan urusan ku. Pokoknya nggak mau." Cecil tidak akan mengaku kalau ia merasa lebih bahagia dengan gebetan barunya daripada bersama dengan Hans pada waktu itu. Untuk apa bersikeras berpacaran kalau tidak membuahkan kebahagiaan?

"Oh. Oke. Gue kasih tahu ke dia."

Interaksi itu berakhir dalam kurang dari 3 menit. Dimas langsung pergi keluar dari kelas, meninggalkan Cecil dengan sederet tanda tanya di kepalanya. Tanda tanya itu pun pada akhirnya tidak terjawab sampai akhir.

Gadis kelas 11 itu mengira Dimas akan kembali berbicara padanya tentang Hans, tapi ternyata tidak pernah berinteraksi lagi untuk waktu yang cukup lama. Hari berikutnya mereka berbicara adalah beberapa minggu kemudian, setelah kuis Bahasa Inggris.

Dimas dan Cecil sama-sama terkejut melihat nilai satu sama lain. Nilai Cecil adalah 3 digit sempurna, sedangkan nilai Dimas nyaris mencapai 2 digit. Dimas tidak membuang waktu untuk memohon Cecil mengajarinya. Cecil tidak pernah mengajar orang lain, pun memiliki niat mengajar. Namun entah karena takdir atau apa, Cecil mengiyakan permintaan Dimas.

Hubungan guru-murid itu berjalan lancar untuk waktu yang lama. Cecil tidak pernah menyangka akan mengajari siapapun dalam hidupnya. Dia bukan guru yang sabar. Dimas juga bukan murid yang tangkas. Perjalanan tambahan mereka berlangsung penuh dengan debat dan omelan Cecil. Pada saat yang bersamaan, mereka jarak di antara mereka mulai merapat.

Lucunya adalah, Cecil bisa berkata dengan yakin bahwa Dimas bukan gebetannya. Bukan karena hubungan guru dan murid mereka. Melainkan karena mereka hanya berbicara seperlunya, dan topik mereka jauh lebih acak daripada topik Cecil dengan laki-laki lainnya. Jauh lebih acak.

Salah satu penyebabnya adalah handphone Dimas yang sering error dimakan usia. Entah berapa kali Dimas mengirim pesan yang salah ke Cecil, dari basket, pelajaran, jalan-jalan, sampai meme dan umpatan sekalipun. Dimas juga beberapa kali salah mengirim pesan yang harusnya untuk Cecil, lalu baru menyadarinya di jam-jam subuh. Kapan lagi Cecil akan menerima pesan seperti :

"Bahasa Inggris saya terjatuh ke empang paman saya apaa?"

Di jam 3 pagi, dalam bentuk screenshoot yang disertai komentar nyeleneh dari anggota klub basket yang pusing 7 keliling dengan pertanyaan Dimas?

Selain chat yang jarang, Dimas dan Cecil juga tidak pernah jalan bareng. Mereka hanya bertemu di sekolah. Lebih tepatnya di kelas. Apakah mereka saling bersenda gurau? Tidak juga. Intinya, mereka hanya berinteraksi secukupnya. Interaksi tidak berguna yang mereka lakukan hanya terjadi dalam bentuk pergelutan karena Cecil yang gemas dengan Dimas yang tidak kunjung mengerti penggunaan is/am/are.

Walau begitu, perkelahian mereka yang sesungguhnya terjadi selepas Cecil putus dari pacar ketiganya, kak Rafa.

Dimas datang dengan cara yang mirip ketika ia pertama mengajak Cecil berbicara, membuat Cecil bertanya-tanya apakah kini kak Rafa yang mengutus Dimas menjadi perantara mereka? Padahal Cecil baru putus dengan si kapten basket itu tempo hari.

"Kenapa lu putus dari Rafa?" Dimas bertanya tanpa segan.

Cecil mengangkat bahunya. "Bosen, kali. Dia sibuk terus sama basket, sih. Kenap--"

"Kita mau tanding bulan depan. Udah pasti kita sibuk! Itu pertandingan terakhir kak Rafa sebelum pensiun buat ujian. Lu nggak bisa jadi pacar yang suportif?"

Cecil menatap bingung kepada Dimas yang mendadak emosian. Lalu gadis itu mendengus. "Ngapin sih ngurusin urusan orang? Pacaran aja sana sama kak Rafa kalau nggak seneng."

Dimas menggebrak meja Cecil sampai pulpennya terlompat jatuh ke lantai. Cecil ikut melompat, kaget dengan perilaku Dimas.

"Rafa minta mundur dari posisi kapten cuma gara-gara lu. Gue nggak minta lu balikan sama dia, tapi lu jujur aja sama dia. Lu nggak putus karena di amain basket terus kan? Lu putus karena lu jalan sama cowok lain!"

Cecil melirk ke belakang Dimas. Untunglah suasana kelas agak sepi karena sedang istirahat. Tetap saja, kini ia sedang menjadi tontonan anak-anak sekelas.

"Gue nggak selingkuh," ujar cecil, memelankan suaranya. "Gue bosen sama dia."

"Bosen?"

"Iya, bosen. Udah 3 bulan, gitu-gitu aja..."

"Dan ada yang lebih menarik buat lu sekarang. Fine."

Cecil panas. Dia tidak suka nada bicara Dimas yang menyalahkan Cecil. "Oh, lu udah cukup jago bahasa bule buat dipakai di daily conversation?"

Dimas tidak bergeming. "Bilang yang jujur ke dia. Nggak usah nyalaih basket."

"Lu aja yang bilang ke dia, kayak ke Hans waktu itu."

"Gue akan bilang seandainya dia mau percaya ke gue." Dimas menunjuk ke iPhone di genggaman Cecil. "Bilang ke dia sekarang juga. Gue nggak rela harus kalah tanding basket cuma karena kapten gue patah hati."

Cecil ingin protes, namun mengurungkan niatnya berkata ekspresi Dimas yang over-serius. Tanpa banyak kata, Cecil mengirim pesan ke mantan barunya itu dan mengatakan apa yang Dimas inginkan. Selesai itu, Cecil menunjukkan layar handphonenya ke Dimas.

"Nih, puas?" tanya Cecil malas.

Dimas membaca pesan Cecil dengan saksama, lalu memprotes, "Minta maaf ke kak Rafa,"

Cecil memutar bola matanya. "Tulis aja sendiri."

Gadis itu berdiri dari mejanya dan pergi begitu saja, meninggalkan Dimas dengan ponselnya tanpa pengawasan.

Cecil dan Dimas tidak berbicara sejak itu. Hari-hari yang penuh dengan kebodohan Dimas mendadak sirna. Tidak ada lagi screenshoot konyol saat subuh. Sudah satu minggu terlewat tanpa tertanyaan bahasa Inggris dari Dimas.

Handphone Cecil mendadak terasa tidak penting. Chat dari gebetan-gebetannya terlantar dengan berbagai "sbb" dan alasan-alasan klasik. Bahkan chat yang ia kirim ke kak Rafa hanya bertanda stempel read tanpa balasan.

Pulang sekolah, mata Cecil terpaku di lapangan basket. Dimas ada di sana, bermandikan keringat di tengah latihan. Sesekali tawanya muncul di tengah istirahat singkat.

Peluit pelatih bertiup, menyadarkan Cecil yang terpana menonton sparring basket. Nyaris di saat bermsaan, sepatah kata dengan suara familiar mengguncang gendang telinga Cecil.

Kak Rafa. Berani juga dia muncul di hadapannya sekarang. Untuk apa dia muncul di sini? Sudahlah, Cecil jadi mengingat pertengkarannya dengan Dimas. Lebih baik ia kabur dan pura-pura tidak mengenal mantannya yang satu ini.

"Cecil," panggilnya lagi. "Lihat aku. Aku udah keluar dari klub basket. Kita jangan putus ya?"

Nada kak Rafa memelas. Sosok keren yang biasanya selalu berwibawa lantas menghilang begitu saja. Cecil jadi ingin tertawa. Rasanya seperti melihat dirinya ketika pertama kali putus; konyol dan menyedihkan.

"Fa, kita udah putus," jawab Cecil dingin. Kalau Dimas memang ingin Cecil berkata jujur, maka inilah kejujuran yang bisa Cecil suguhkan. "Bukan karena kamu yang sibuk sama basket. Aku udah nggak sayang sama kamu. Aku punya cowok lain."

Rafa mengepalkan tangannya. Rangkaian bisep-trisepnya berkontraksi, terlihat mencoba menahan diri,

"Jujur aja, Cil. Aku nggak akan marah. Kalau kamu emang nggak suka aku main basket, aku bisa berhenti. Aku tahu kamu bukan orang kayak gitu."

"Aku sudah jujur. Terserah kamu mau percaya atau nggak!"

Cecil menghentakkan kakinya lalu beranjak pergi. Persetan dengan apa yang dirasakan kak Rafa. Hubungan yang sudah berakhir harus tetap berakhir. Untuk apa kembali kepada orang yang sama? Toh akhirnya akan sama. Pacar itu overrated. Diincar banyak orang sebagai pusat kebahagiaan, padahal lebih banyak mengundang perasaa negatif ketimbang positif.

Diharapkan memberi kepastian, tapi membelenggu dan mengikat. Peraturan-peraturan bodoh dibuat dengan mengatasnamakan cinta, lalu berakhir dengan menuai benci. Kenapa juga Cecil masih mencari pacar, ketika sosok itu hanya mampu memberi warna pelangi dan bukannya pink yang Cecil sukai? Pacar itu overrated!

Langkah Cecil terhenti begitu tubuhnya ditarik. Lengan kecilnya digenggam oleh segumpal tangan berotot yang murni hasil berolahraga.

Cecil meringis. Hidup tidak cukup hanya menyakiti hati Cecil. Kali ini tubuhnya ikut disiksa.

Cecil tetap berusaha terlihat tegar dan galak. "Lepas, nggak!" teriaknya.

"Nggak. Nggak boleh. Kamu itu pacar aku. Aku nurutin kamu, kamu juga harus nurutin aku."

Cengkraman Raga menguat. Cecil menarik napas dalam untuk teriakan berikutnya.

"Rafa! Lepas!"

Bukan suara Cecil. Suara pria yang menggema di lorong sekolah di sore hari itu. Tentunya bukan suara Rafa juga. Itu suara anggota anak basket yang dikutuk tidak bisa memahami bule.

Dimas datang dalam balutan kaus dan celana basket. Sorot matanya sangar seperti saat bertengkar dengan Cecil. Dimas jelas marah. Penyebabnya?

Dimas menghempas tangan Rafa dari lengah Cecil. Gadis itu sontak bersembunyi di balik Dimas. Momen-momen berikutnya tidak bisa diingat Cecil dengan baik. Ia terlalu takut. Ia gemetar di balik Dimas, seolah terken efek dari suara bass yang timpang tindih di konser musik live. Entah berapa lama peristiwa itu terjadi. Begitu sadar, guru BK mereka tiba-tiba sudah muncul dan pergi bersama kak Rafa.

Momen berikutnya diisi dengan Dimas yang meminta maaf kepada Cecil. Dia tidak tahu bahwa Rafa akan memaksa Cecil balikan. Dimas hanya ingin Rafa cepat move on, itu saja.

Cecil mengangguk mendengar penjelasan Dimas. Entah dia menangis atau tidak, tapi raut wajah Dimas berhasil membuat Cecil kembali tertawa. Kehampaan yang Cecil rasakan kembali terisi. Cecil tertawa semakin kencang begitu raut wajah Dimas semakin aneh melihat Cecil yang tertawa seperti orang gila. Akhirnya Dimas pun meminta maaf sebelum kabur ke lapangan dan melanjutkan latihannya.

"Dimas!" Cecil memanggil sebelum sosok itu pergi semakin jauh. "Kita temen kan?"

Raut wajah khawatir menghilang dari wajah Dimas. "Bukan," katanya, "kita sahabat."

Sahabat. Mungkin satu-satunya hidup Cecil. Mungkin satu sudah cukup di hidup Cecil. Satu sudah cukup untuk mewarnai hidup Cecil.

Lapangan basket bermandikan warna oranye keemasan. Biasanya warna seperti itu menyilaukan, tapi kali ini rasanya menyenangkan. Senyum yang terkembang di wajah dua sahabat itu jadi buktinya.

Pacar itu overrated. Kebahagiaan bisa dicari dimana-mana. Begitu juga dengan cinta. Untuk apa mencari pacar kalau semuanya bisa dipenuhi oleh seorang sahabat bernama Dimas? Cecil hanya butuh Dimas dan Dimas seorang. Dimas yang sahabat Cecil, teman Cecil, kawannya. Cecil tidak butuh pacar yang hilir mudik datang begitu saja. Dimas bisa menjadi teman Cecil satu-satunya. Teman seumur hidup.

Biodata Singkat Penulis :

Fausbiru, mahasiswa yang sebentar lagi akan menginjak umur 20 tahun. Berimajinasi adalah salah satu hobi favoritnya selain bermain game. Walaupun suka menulis, rasa suka itu selalu terhalang minimnya motivasi.

Sebuah Republik Pengatur Cuaca, Cerita Menarik!

Sebuah Republik Pengatur Cuaca, Cerita Menarik!

INIKECE - Sudah sebulan lebih, pemerintah mengeluarkan peraturan yaitu seluruh jenis awan harus didata oleh negara. Dimana mereka lahir, berapa muatan uap lautan yang bisa mereka kandung, siapa ayah-bundanya, kota apa saja yang mereka singgahi, dan lain-lain.

Alasannya bahwa kebijakan pencatatan sipil mengharuskan "semua yang ada di darat, laut, dan udara wilayah Republik harus patuh pada otoritas tempatnya sehari-hari."

Pemerintah juga mmebuat jadwal keberangkatan dan kedatangan seluruh awan mendung pembawa hujan. Hujan-hujan sebagai anak awan dalam suatu musyawarah gaib sendiri bingung kenapa gerak-geriknya harus diatur negara.

Mereka menelurkan maklumat bahwa pemerintah tidak punya hak untuk mengatur hal-hal yang menjadi otoritas alam. Manusia dan alam memang tidak bisa akur sejak mesin uap, lokomotif dan listrik diciptakan.

"Kami tidak melakukan kesalahan apa pun," kata juru bicara mereka (dia mengaku adalah hujan yang jadwal kedatangannya selalu jam tujuh malam di hari-hari pertama bulan Maret) pada sebuah jumpa pers di kedai kopi paling sepi yang terletak di daerah pinggiran ibukota.

"Hujan tidak bisa diatur dan akan selalu begitu. Itu semua sudah menjadi aturan tidak tertulis yang dibuat Dia-Yang-Agung sebelum semensta diciptakan," ujar si juru bicara hujan sambil coba menahan petir yang sudah mendobrak-dobrak rapuh dadanya.

"Kalau begitu bagaimana dengan banjir yang menyapu habis daerah pinggiran ibukota?" Tanya seorang wartawati yang baru saja mengundurkan diri dari tempat kerjanya selama sepuluh tahun.

"Saya tanya kembali kepadamu, manis. Sudah berapa pohon yang ditanam?" Hujan menjawab enteng.

Selanjutnya para wartawan yang tidak punya gambaran apa pun tentang perangai cuaca malah bertanya pertanyaan seperti "Siapa pacar anda?", "Sudah selaman dengan presiden?", atau "Pernah mengintip orang mandi?" dengan harapan ada sebuah judul sensasional yang bisa mereka tulis di internet untuk dikomentari orang-orang yang tidak pernah membaca.

Juru bicara hujan hanya tertawa dan hanya menjawab singkat seluruh pertanyaan dengan dua kata, " Tuhan memberkati."

Jumpa pers selesai karena tubuh juru bicara mulai berkedip mengeluarkan cahaya kilat yang bercabang-cabang dan semakin lama semakin terang. Para wartawan tentu saja takut, mereka masih butuh meliput acara pernikahan seorang penyanyi cantik jelita dengan presenter acara jelajah wisata pada malam itu juga.

Jumpa pers selesai, lanjut sesi foto. Juru bicara hujan lalu kembali menghadap mejelisnya, yang sebagian anggotanya kini mulai gembuk karena izin mereka selalu ditolak pemerintah.

Kembali ke bumi, tentu saja ada penolakan dari para penyair perihal peraturan pembatasan hujan. Mereka beralasan cuaca dan keturununannya tidak boleh diatur negara. Bisa kualat, katanya. Melawan wewenag Dia-Yang Agung. Sebagian lagi malah mendukung.

"Ini justru hal bagus sebab banyak dari mereka yang tersedak genangan dan berputar-putar dalam puisi hujan dan hal picisan lain yang mengikuti rinainya," kata seseorang yang pernah percaya pada cinta.

Tapi negara tidak ambil pusing. Hujan yang turun di wilayah yurisdiksi harus taat dan patuh pada undang-undang dan peraturan yang berlaku. Tidak patuh? Silahkan hujan di negara lain. Ini wilayah saya, kekuasaan saya. Harus ikut aturan main saya.

Para penyair (didukung oleh barisan pemuda-pemudi tanpa pasangan) kemudian mengadakan demonstrasi di depan Istana Presiden, meminta hujan dikembalikan kebebasannya. Mereka berorasi, atau lebih tepatnya, membaca mantra pengundang hujan milik seluruh bangsa dan suku-suku di dunia. Berharap yang dipanggil akhirnya mengabaikan peraturan dan tumpah ruah bersama.

Malam makin larut, purnama makin bulat saja. Perkumpulan belum bergeming. Tapi yang diundang belum juga muncul. Desas-desus mengatakan hujan sedang ditahan oleh aparat di tempat yang dirahasiakan. Kabar itu menyebar, begitu cepat.


"Ini tidak bisa dibiarkan!" Seorang penyair yang dikenal mewartakan hujan janggal di bulan musim kemarau berteriak lantang, melawan usianya yang sudah kepala tujuh.

Api telah disulut oleh kabar yang belum tentu benar. Perkumpulan itu sudah gelap mata rupanya. Lembar-lembar puisi hujan dan kerinduan dibakar, diubah menjadi peluru paling tajam. Setiap tanda titik dan koma disatukan, menjadi anak panah yang siap dilepas. Ada pun air mata diuapkan jadi gas, berharap jadi kembawan gas air mata tapi tidak berhasil.

Keadaan menjadi di luar kendali. Aparat terpaksa menembakkan peluru tajam ke udara, membelah sunyi langit. Perkumpulan berlindung di balik perisai kata-kata penuh luka. Malam senyap berubah merah. Tinggal menunggu waktu hingga ibukota menjadi sinonim dari pertempuran.

Tapi sekonyong hadir mukjizat. Hujan turun! Hujan juga ikut melawa negara dengan ketidakpatuhan pada jadwal yang telah ditetapkan. Terdengar sebuah suara dari langit,
"Kalian tidak pernah belajar tentang kemerdekaan! Hai, anak-anak hujan! Jatuhkan derai paling deras seperti yang kalian lakukan pada zaman Nabi Nuh!"

Alam telah melawan. Topan mengiringi simfoni paling bising ini. Petir menyambar-nyambar seperti hendak mencium ubun-ubun para penduduk.

Semua gempar. Perkumpulan bersuka ria. Aparat mundur, basah kuyup. Istana bergetar temboknya. Dia-Yang-Agung ikut mendukung aksi alam untuk gigi. Tak lama, seorang perwakilan negara dengan susah payah menaiki atap istana. Bendera putih dikibarkan, begitu kecil, tapi sorak sorai membahana, pelampiasan sukacita kemerdekaan anak semesta.

Rombongan hujan dan perkumpulan akhirnya bubar dengan tertib. Alam kembali tenang. Rembulan bersinar lebih terang dari biasanya. Semua berakhir bahagia dan basah.

Kehidupan berangsur normal. Perkumpulan kembali menjadi orang-orang yang isbuk dengan diri sendiri. Negara sibuk menertibkan para penebang hutan, sementara aparat sibuk membebaskan mereka. Cuaca kembali bebas, hujan tidak perlu jadwal lagi dan tidak bisa ditebak. Di televisi, program perkiraan cuaca kembali mengudara.

Tiba-tiba pemerintah mengeluarkan undang-undang baru. Mereka rupanya ingin membatasi durasi seseorang hidup tanpa pasangan. Yang melanggar mendapat dua macam hukuman. Dilirang makan es krim serta meris wajah bagi wanita, dan dilarang nonton pertandingan sepak bola bagi pria. Duh!

Rasa Sakit Mendalam! Baru Saja Menikah Tapi Sang Istri Telah Pergi Selamanya

Rasa Sakit Mendalam! Baru Saja Menikah Tapi Sang Istri Telah Pergi Selamanya

INIKECE - Bagi pasangan yang sudah lama menjalin hubungan, menikah merupakan sesuatu momen yang sangat dinanti-nantikan. Mengarungi bahtera rumah tangga bersama orang terkasih tentu menjadi saat yang membahagiakan.

Segala lika-liku, sedih senang akan dijalani berdua sampai akhirnya suatu pasangan dapat menemukan hidup baru dengan keluarga kecil kelak.

Namun, apa yang terjadi apabila momen menikah dan menjalani hari tua bersama pasangan terkasih tiba-tiba sirna dengan begitu singkatnya.

Seperti kejadian yang dialami oleh seorang pria di Dusun Pettabeang, Desa Kayuangin, Kecamatan Malunda, kabupaten Majene, Sulawesi Barat ini.

Ardiwansyah Tato harus merasakan pahit usai ditinggal sang istri tercinta yang bernama Nurmadina yang baru dinikahinya seminggu. Kejadi tersebut viral usai diunggah oleh akun Instagram @makasaar_iinfo dan akun Facebook pribadi Ardiwansyah.

Tak diketahui pasti tanggal Ardiwansyah dan Nurmadina menikah, namun mereka diketahui melangsungkan akad pernikahan pada hari Kamis.

Setelahnya, mereka juga menggelar acara resepsi dengan meriah dan dihadiri oleh teman dan kerabat dekat mereka.

Namun tiba-tiba saja, Nurmadina sempat pingsan saat acara resepsi itu berlangsung. Ia pun segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis, dan mengecek kondisinya.
Namun, entah karena sudah kehendak dari yang Kuasa atau ada penyebab lain, seminggu kemudian Nurmadina dinyatakan meninggal dunia.
Sontak saja hal tersebut menjadi pukulan yang berat bagi Ardiwansyah. Dalam sebuah video yang beredar, tampak Ardiwansyah tak kuasa menahan kesedihannya.
Ia tampak berlutut di samping makam istrinya yang baru dinikahinya, sesekali ia juga tampak mencium nisan Nurmadina.
Tampak juga orang berada di samping Ardiwansyah mencoba menenangkannya, namun karena tak kuasa melihat nasib Ardi, orang tersebut juga sekilas menyeka air matanya yang keluar.
Beberapa pelayat lain juga tampak ikut merasakan kepedihan hati Ardiwansyah. Namun meskipun berat dan sakit, Ardiwansyah mencoba untuk tegar dan mengikhlaskan kepergian istri tercintanya.
Keikhlasan hati Ardiwansyah terlihat saat dirinya mengunggah foto saat bersama istrinya semasa hidup dan menuliskan beberapa kata-kata.
"Perjalanan kebahagian yang kita tunggu2 selama ini. Tlah berhasil kita capai. Meskipun sesingkat dan seklias itu namun sangat berarti. Walau kadang masih blum percya dengan semua yang tlah terjadi. Slmat jalan Istriku Nurmadinah," tulis Ardiwansyah.


Sesaat namun begtu indah. Selmat jalan Istriku tercinta semoga kelak nati kita bisa bertemu di syurganya," tambahnya.

Kisah Luar Biasa Seorang Suami Dalam Penyembuhan Istrinya Yang Amnesia Setelah Melahirkan

Kisah Luar Biasa Seorang Suami Dalam Penyembuhan Istrinya Yang Amnesia Setelah Melahirkan

INIKECE - Kisah ini dialami oleh Steve (38) dan Camre Curti (31). Pasangan suami istri ini berjuang mengembalikan keutuhan rumah tangganya, setelah Camre mengalami hilang ingatan beberapa waktu lalu.

Bahkan Steve pun menuliskan kisah cinta mereka menjadi sebuah buku, sebagai salah satu usaha memulihkan ingatan sang istri.

Kisah mereka menjadi viral dan menjadi inspirasi banyak pasangan lainnya. 

1. Camre Hilang Ingatan Saat Melahirkan Putra Pertamanya


Ujian dalam pernikahan Steve dan Camre dimulai saat proses persalinan putra pertama mereka, Gavin, yang kini sudah berusia 7 tahun. Saat itu, Camre tidak tahu bahwa dirinya mengidap preeklampsia.

Gavin pun dilahirkan melalui operasi caesar darurat dengan berat kurang dari 2 kg. Sempat kejang, Camre pun kemudian secara media dibuat dalam kondisi koma.

Diharapkan saat Camre terbangun, mereka akan bisa memulai tahap kehidupan baru sebagai orang tua seperti yang sudah dibayangkan selama ini. Namun nyatanya tidak demikian.

Camre justru kehilangan ingatan jangka pendek dan jangka panjangnya. Ia tidak tahu siapa dirinya sendiri, keluarganya (termasuk Steve), bahkan tidak tahu bahwa ia baru saja melahirkan.

Kondisi ini tentu saja membuat Steve sangat terpukul. Ia menyebutkan bahwa proses pemulihan Camre berjalan dengan sangat lambat. Camre bahkan harus kembali belajar melakukan berbagai aktivitas harian dasar seperti menyikat gigi dan berpakaian.

2. Sang Suami Tidak Menyerah Begitu Saja


Sadar ingatan istrinya sudah hilang saat melahirkan Gavin, Steve yang saat itu hampir tidak percaya bisa tetap berupaya untuk bangkit. Ia bertekad akan terus mendampingi Camre dan tidak menyerah pada kondisi tersebut.

Beberapa waktu setelah Camre mulai pulih, keduanya sempat berbicara berdua. Camre berkata bahwa meski ia tidak ingat siapa Steve, tetapi dirinya paham laki-laki tersebut adalah orang yang sangat istimewa.

"I Don't Know Who You Are, But I Know I Love You."

Itu adalah ucapan Camre yang benar-benar membuat Steve menyadari ia harus terus berjuang. Steve pun kemudian terinspirasi untuk menuliskan kisah cinta mereka, mulai dari awal bertemu sampai saat ini, dalam sebuah buku. Buku tersebut diberi judul * "But I Know I Love You"*.

"Segala sesuatu dalam buku ini adalah kenangan tentang apa yang telah kami lalui dan apa yang saya lewatkan. Saya sangat menikmati membaca buku tersebut, tetapi kadang-kadang sulit bagi saya karena itu menunjukkan kepada saya semua yang telah kami lalui. Sayangnya saya tidak memiliki lagi memori tersebut," ujar Camre.


3. Camre Masih Terus Menjalani Terapi Pengobatan


Sampai saat ini, Camre masih harus terus menjalani terapi pengobatan. Dibantu oleh terapis okupasinya, Jessica Smith, serta Steve, Camre kini mempelajari kembali banyak fungsi dasar. Bahkan kini Camre dapat kembali mengingat Steve dan Gavin.

"Bersama dengan suami dan putra saya, saya bisa melalui semua ini. Setiap kali saya melihat Gavin dan Steve, saya paham cinta dari keluarga adalah hal yang paling berarti dan itu yang bisa membuat saya mampu menjalani hidup," imbuh Camre.

Serba-Serbi Hilang Ingatan ( Amnesia )

Amnesia alias hilang ingatan merupakan sebuah kondisi yang menyebabkan seseorang kehilangan memori. Bisa berupa informasi maupun pengalaman personal. 

Selain tidak bisa mengingat pengalaman di masa lalu, ada beberapa kasus amnesia di mana pengidapnya juga kesulitan menerima informasi baru.

Pada umumnya, amnesia terjadi akibat adanya kerusakan pada bagian otak yang berfungsi untuk memproses memori. Beberapa masalah kesehatan yang bisa memicu terjadinya kondisi ini yakni demensia, stoke, depresi, cedera kepala dan bahkan stres.

Untuk mendiagnosis amnesia, diperlukan beberapa pemeriksaan. Termasuk sepeti pemeriksaan fisik, tek kognitif, serta tes diagnostik termasuk MRI dan CT scan.

Penanganan amnesia diperlukan berbagai teknik dan rencana perawatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Mungkin akan diperkukan terapi okupasional, mempeljari informasi-infomrasi baru, serta membuat catatan harian. Yang pasti, diperlukan pendampingan dari keluarga dan orang terdekat untuk membantu memaksimalkan proses pemulihan.