Akibat Diteriaki Virus Corona, Mayat Diindramayu Tidak Ada Yang Berani Evakuasi

INIKECE - Akibat dari penyebaran virus corona tersebut banyak sekali menjadi orang ketakutan dan lebih memilih untuk menjaga diri dan jauhi orang-orang terlebih dahulu. Banyak orang sekarang lebih memilih dirumah saja.

Keajaiban Bumi Yang Belum Terpecahkan Hingga Sampai Sekarang, Menjadi Misteri Bumi

INIKECE - Bumi selalu memiliki keajaiban, hingga fenomena alam yang luar biasa, sampai ada suatu tempat dimana tidak dapat diteliti keajaiban bumi tersebut dikarena masih menjadi misteri teka-teki bagi para ilmuan.

Cerita Power Girl! Pesona Sang Gadis Jagoan

INIKECE - Suara gaduh dan teriakan terdengar dari ruangan penuh matras dengan tulisan Ruang Latihan Judo itu. Terlihat seorang gadis dengan rambut kuncir kuda sedang bergulat dengan lelaki yang memiliki ukuran tubuh sedikit lebih besar darinya.

Ramalan April Hari Ini Berdasarkan Zodiak, Simak Yuk!

INIKECE - Diakhir pekan ini, ramalan zodiak hari ini meminta Scorpio dan Aquarius untuk lebih peka terhadap pasangan jika tidak ingin hubungan menjadi buruk. Sementara itu, Virgo diharapkan lebih waspada karena berisiko terkan alergi. .

Romance Remaja! So I Love My Ex - Dia Bukan Lagi Si Cungkring, Part 2

INIKECE - Aluna menarik dan membuang napasnya. Ia memalingkan wajah saat melihat keberadaan Zello. Oke, Aluna memang tahu Zello kuliah di tempat yang sama dengannya, tetapi dia tidak pernah tahu bahwa Zelo ada di Fakultas Ekonomi.

Pada Lembayungku Ada Cinta

Pada Lembayungku Ada Cinta

INIKECE - Aku lembayung. Tak akan pernah kamu temui aku jika pagi menjelang atau malam temaram. 

Aku Lembayung. Terawanglah langit ketika matahari mulai pongah bersinar karena seharian dia dihadapkan pada keangkuhannya sendiri. Ingin melepas jasanya memberi sinar terang dunia, namun seperti belum rela kalau tiba-tiba harus berpindah dan pergi.

Bila bayu mengingatkan dirinya untuk segera pergi, raja siang itu seolah memberikan jejak yang ia inginkan selalu diingat. Jejak yang dicecerkan memanjang, menyemprotkan warna tak jelas, tetapi kemudian diberi kekaguman oleh burung dan pepohonan yang memandang. Mereka inilah yang belakang hari memberikan nama Lembayung, namaku.

Kadang ketika musim penghujan, warnaku yang katanya indah itu tak akan pernah terlihat mata. Mendung menggantung memaksa pancaran cahaya yang terkadang berpendar membentuk elips panjang menjadi muram tak berseri. Seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen lolipop oleh mamanya, keindahanku bersedu sedang, merunduk masuk ke dalam, tanpa peduli kalau masih ada manusia pengagumku yang mengharap aku bisa tersenyum senang.

Bicara tentang pengagum, kemarin ini aku menemukan seorang perempuan muda sedang memandangku tanpa berkedip. Terkadang senyumanya begitu memanjang, menghadirkan lesung pipi di kedua pipinya. Terkadang pula matanya kosong memandangku, seolah tak ada obyek yang mampu mengedipkan matanya barang sedetik.

Pernah kucoba menegurnya, mengapa ia seolah bermuram durja. Bukannya dijawab, ia malah membelai pipiku lembut.

"Kamu indah, Lembayung," begitu katanya pelan masih dengan tatapan matanya yang kosong. Sentuhannya tidak hanya mengulas bagian mukaku, tetapi ia juga membelai kepala bahkan leherku yang pendek. 

Sempatku terkaget karena seperti ada aliran listrik menyenangkan menjalar ke seluruh tubuh begitu sentuhannya mengenai bagian sensitifku dan ini berakibat cahayaku laksana lebih terang sebentar, menyengatkan mata yang tak sengaja menangkapnya.

Sentuhan gadis itu tak berhenti meleraikan keangkuhanku yang terkadang memang muncul. Kunikmati sampai berasa nikmat menyeluruh. Hingga ketika tangannya hampir menyentuh bawah, gadis itu cepat-cepat menarik sentuhannya tadi.

"Kenapa?" tanyaku penasaran.

"Kamu sudah membiarkan ku terluka."

"Luka di mana? Bukankah kau baik-baik saja?"

"Akus akit, Lembayung, Sakit karenamu." Tiba-tiba saja, gadis itu membuka kemejanya. Disna kulihat pemandangan yang menyembulkan kesedihanku.

Tepat di bagian dadanya, ada semacam luka basah yang pinggirnya separoh kering. Luka itu telah menyentuh hati. Kupikir kalau terkena sang raja mentari yang bisa menembus pakaiannya, luka itu pasti akan terasa pedih. Pelan-pelan ku coba sentuh luka itu. Tapi, segera tangan gadis itu menepisnya. Kali ini berbarengan dengan mukanya yang berang.

"Jangan sentuh lukaku!" Ia segera menutu kembali dadanya dengan kemeja coklat tuanya. Gerakannya terburu-buru seolah tidak ingin aku punya kesempatan mengitip sebentar lagi saja. Padahal aku ingin sekali boleh memberi sedikit kehangatan di lukanya itu. Salah satu campuran dari warna lembayungku adalah komposisi warna yang mampu memberi kehangatan bak teh hangat di saat kehujanan deras di malam hari nan dingin. Kehangatan itu aku yakin mampu menggairahkan jejak-jejak harapan yang mungkin masih tertinggal di dadanya. Namun, gadis itu terlalu berhati-hati dan tidak peduli. Ya sudah

"Jangan pernah menyentuh lukaku, Lembayung," ujarnya lagi. Kali ini nadanya geram, tetapi lebih lembut sedikit. Kalau dalam aliran musik, nada gadis itu memarahiku seperti nada decrescendo = berangsur-angsur lembut. Aku jadi menikmatinya. Ini musik yang lain dari yang lain.

"keangkuhanmu telah memunculkan luka itu menganga lebar. Kamu telah menjadikan hatiku kronis, nyaris tak tertolong."

"Apakah sungguh karenaku?"

"Tidak semua. Bayu di musim kemarau penyebab pertama. Hembusannya yang membawa debu dan kerikil, meletup-letupnya hatiku yang masih bersih suci. Awalnya aku biarkan. Hembusannya itu lebih menyenangkan. Tapi, lama-lama, ia membuat membuat borok yang tak tertahan tiap malam aku erang."

"Lalu kau datang. Saat air mataku tak tertahan tercurah, jinggamu mengusapnya. Saat bibirku selalu terkatup rapat, jinggamu memaksaku tersenyum lebar. Amar lebar, aku sampai lupa, ada borok yang harus kuganti perbannya. Akibatnya, aku biarkan saja borok itu menganga karena pada akhirnya, salah satu bagian warnamu sedikit mengeringkannya."

"Tapi..., ketika siang malam kusetujui anganku memikirkan dirimu, kau menjauh. Tanpa alasan, tanpa penjelasan. Kucoba pahami, nyatanya kau makin ingkari. Aku lelah, Lembayung. Sangat lelah, keperkasaanmu membikin hatiku tak jadi menyembuh malah memunculkan luka baru. Luka baru yang sepeti kau lihat barusan tadi,"

Kudengar segala umpatan kalimat sang gadis, pemujaku ini.

Harus kuakui, ia memang pernah menerbitkan rasa ingin lekatku lebih dalam. Di penampilannya yang bersahaja, ada bagian dalam diriku seperti tergolek lemas, pasrah. Melintas kelelahanku mengingat sekian lama kuberikan segenap yang kupunya pada alam dan dunia, namun kepadanya, apa yang kuberikan itu seperti kembali arah. Tanpa berkurang, bahkan berlebih. Gadis ini telah menyempurnakan jinggaku hingga luar biasa berpendar. Kata matahari, sebelum ia kembali ke dalam kerajaannya dan memberikan tahtanya bagi sang ratu bulan, saat itu sinaran jinggaku menguatkan senandung alam raya yang pernah bersedih. Beribu anak bangsa seperti bergairah sukma membawa tanah airnya mencapai puncak suka. Bahkan mahluk lain yang serupa harus mengakui saat itu adalah saat yang paling berkesan. Warna jinggaku sungguh membawa tampilan baru nan menyegarkan.

Semua itu karena perempuan muda yang kini bersimpuh seolah mengurai kesedihannya. Kucoba lagi sentuh lengannya.

Ternyata ia diam saja meski tak bergerak sesenti.

'Gadis, maafkan aku," suaraku berusaha tenang, tak terbawa emosi, "Tak pernah ku bermaksud menyuilkan lukamu lalu membentuk yang baru. Jika aku perkasa sepertimu, itu karenamu, Dis. Jika jinggaku bisa mengusap air mata dan memanjangkan senyummu, karena sebelumnya kau telah melakukannya untukku. Kehadiranmu membikin semua yang ada pada diriku semakin nyata, Gadis."

"Lalu, kenapa kau tega membiarkanku begini?"

Ah, Gadis...

Bagaimana mungkin aku harus berkata jujur padamu?

Dapatkah aku tega membiarkan hatimu semakin tertikam pisau kenyataan hidupku?

"Lebih baik aku pergi saja dari hadapanmu, Lembayung. Pergi jauh. Tak perlu kau cari aku," tiba-tiba sang gadis beranjak membereskan perkakasnya lalu pergi begitu saja. Aku yang masih terkaget, tak bertenaga buat sekadar menangkap tangannya agar ia jangan beranjak pergi dulu. Mulutku cuma bisa terbuka penuh penyesalan sementara mataku terbelalak tak percaya pada diriku sendiri. Begitu angkuhkah diriku ini?

Aku Lembayung.

Tak akan pernah kau temui aku jika pagi menjelang atau malam temaram.

Aku Lembayung.

Kini sedang berumuram durja. Pelangi temanku atau langit membias biru tak mampu lagi membangkitkan keceriaan yang kutahu menjadi salah satu berkat yang harus kubagi pada seluruh jajaran jagat.

Tinggal mendung menggantung yang terkekeh di sudut sana. Ia sepertinya siap, sangat siap menutupi warna jinggaku dengan jubah kebesarannya. Mungkin pikirnya, tak kan ada lagi yang mengumpat karena ia menutupi keindahan warnaku. Toh, ditutup atau tidak jinggaku telah memburam, tak bercahaya.

Tapi, biar begitu, tak kan kuijinkan dia melakukannya.

Tahtaku masih miliku. Seutuhnya.

Bila perlu akan kupanggilkan burung-burung berkicau merdu agar mereka sedikit terlena dan satu-satu gumpalan mendungnya itu terpencar jauh-jauh, tak menyatu sehingga ia tak berdaya menutupiku. Pokoknya, aku akan mempertahankan apa yang menjadi hakku.


Aku angkuh?

Ya, untuk urusan tahta, jelas aku akan melakukannya demikian.

Namun, harus kuakui, keangkuhanku telah menjadikan wajahku tak bersemi lagi kini. Ada yang mendadak hilang dari diri. Awalnya cuma sepotong, lama-lama kurasa seluruh diriku seperti menghilang, melayang entah kemana. Tiap kali mata kupejam dan kembali kubuka, tak kudapati kesadaran bahwa aku adalah Lembayung. Lembayung yang dipuja dan diraja. Puja puji yang semula penyemangatku, kini tak ada arti.

Pernah kubertanya pada mahatari, apa yang menjadi penyebab ku begini?

Dengan senyum khasnya, matahari membawaku terbang sebentar. Tepat di tengah semesta, ia menunjuk ke bawah. "Di sana sebagian hatimu terbawa hingga membikinmu seperti hilang tak berdaya."

Aku nyaris tak percaya sebab yang ditunjuk sang matahari hanya sekumpulan manusia hilir mudik tak jelas. Aku memandang tak percaya pada raja siang ini. "Yang mana?"

"Lihat dengan mata hatimu yang tersisa. Jika sudah temui, kamu pasti akan mengerti apa yang harus kau lakukan."

Kuelebarkan lagi mataku. Mencoba konsentarsi pada apa yang terjadi.

Di antara kerumunan manusia itu, kutangkap mata seorang anak manusia sedang memainkan sebentuk cahaya. Ia belai penuh cinta, ia nyanyikan dengan merdu, ia dekap dengan kasih dan oohhh... bukankah cahaya itu adalah sebagian hatiku? Warna dan bentuknya persis. Sangat persis. aku tak akan lupa. Itu benar-benar sebagian hatiku yang hilang.

"Dia?" tanyaku pada matahari yang masih mendampingiku.

Mataharitak berkata apa-apa. Ia cuma tersenyum lebar. "Temuillah."

Tanpa ragu, aku temui perempuan itu. Aku mau ia mengembalikan jinggaku.

"Halo, Gadis... Apa kabarmu?"

Yang ditanya memandangku tak percaya. Kepalanya melenggak lenggok seperti mencari sudut dalam diriku yang bisa meyakinkannya.

"Aku Lembayung. Aku yang pernah mengusap air mata dan memanjangkan senyummu. Aku yang perkasa dan yang kau nanti.. Sekain lama kau pergi, Gadis. Aku merindukanmu. Telah lama aku ingin memelukmu. Memeluk kehangatanmu."

Perempuan itu masih belum juga percaya. Matanya memancarkan keraguan itu. Padahal sudah kuusahakan menampilkan visual-visual saat kami pernah bersama. Rasanya itu tak berguna. Kusentuh jemarinya. Tapi, spontan ia menolaknya.

"Kenapa, Gadis? Bukankah kau dulu yang menginginkannya? Bukankah kau yang membawa pundi-pundi cinta itu padaku? Mengapa kau sekarang berubah?"

"Aku bukan Gadis," perempuan itu tiba-tiba menyalak, galak.

"Bagaiamana mungkin aku bukan Gadis? Bukankah warna jingga yang kau pegang adalah sebagian hatiku yang kau ambil dariku? Aku lelah mencarimu, Gadis. Biarkan jingga iu menyatukan hati kita kini."

"Aku Putri. Bukan Gadis."

Aku terbelalak kaget.

"Siapa?"

"Putri."

"Lalu, milik siapa cahaya jingga yang kau bawa kemana-mana itu?"

"Ini warisan dari Ibuku. Ia menitipkan padaku untuk dijaga utuh. Katanya, disini cinta dan hatinya telah berpadu, tidak akan mati sebagaimana ia kini."

"Siapa Ibumu?"

"Gadis. Pemuja Lembayung yang tak pernah mau tahu bagaiman Ibuku teramat mencintainya."

Pryang!!

Laksana petir yang tiba-tiba datang di siang terik, dadaku seperti terpecah mendengar pengakuan barusan. Entah jadinya apa sisa jingga yang kupertahankan sedari tadi. Aku seperti luluh lantah di hadapan perempuan kecil ini. Aku tak berdaya seketika pengakuannya selesai terucap dari bibir mungilnya.

Aku tersimpuh.

Tenaga yang biasanya terlihat begitu membuat tampilanku perkasa seolah lenyap. Matahari di atas yang mencoba menahan tubuhku, tak kuasa lagi menahan. Mungkin ia pun kaget tak menyangka. Angin yang tadinya mendampingiku dari samping, langsung terdiam di tempat. Bahkan burung-burung yang menyanyikan lagu indah agar emosiku terjaga, sekonyong-konyong terkatup rapat perauhnya visual-visual bagaimana kehangatan saat ku berdua dengan gadis yang telah mengambil sebagian hati dari diriku ini di masa lalu.

"Ibuku berpesan agar aku menjaga jingga ini. Ia ingin cinta dan hatinya tetap terjaga utuh bersama warna ini. Ibu juga berpesan, jika aku bertemu dengan Lembayung, apa yang telah kujaga ini dikembalikan kepada pemiliknya. Sekarang aku ingin mengembalikan padamu, Lembayung. Terimalah sebagian milikmu yang telah ibuku ambil karena cintanya padamu."

Oooohhh...

Aku memang ingin mengambil kembali bagian diriku yang hilang, yang telah diambil Gadisku bersama lukanya karena telah kucampakkan. Tapi, kalau yang terkembalikan itu justru menghilangkan yang lain bahkan untuk selamanya, buat apa? Aku ingin utuh menyatu bersama seseorang yang sebenarnya telah menerimaku apa adanya.

"Ambilah, Lembayung. Ambillah jinggamu agar ibuku damai di alam sana."

Oooohhh...

Aku tak kuasa.

Aku tak bisa.

Buat apa kubangun harapan ini kembali jika nyatanya karena salahku, semua tak berarti?

Gadis, maafkan aku...

Tanpa terasa, air mataku menitik jatuh. Satu-satu membikin mulutku kelu. Langit biru yang menopang matahari yang smeua berusaha gagah menggenedongku kini tak kuat menahan tangisku. Mendung yang semula kuejek merasa mendapat jatah melakukan tugas. Dan, air mata yang kujatuhkan dilanjutkan hujan yang dipanggil mendung. Meski tak lama, aku tahu itu sempat membikin banyak pemujaku mengubah rupanya menjadi tak suka.

Saat hujan mulai mereda, kulihat pelangi, teman baikku, berdampingan mengurai warna warninya. Di ujung satu menuju ke ujung satunya lagi, samar kulihat ukiran huruf indah membentuk kalomat. Kucoba hentikan sedihku sejenak. Kubaca kalimat itu sepenuh rasa.

"Terima kasih, Lembayung, pada lembayungku, cintaku selalu ada."

Oooohhh...

Itu tulisan Gadis. Kepalaku menoleh kanan kiri.

Dimana dia sekarang?

...

Dianiaya Teman Pria Di Kelas, Membuat Siswi Memiliki Luka Lebam Dan Sesak Napas

Dianiaya Teman Pria Di Kelas, Membuat Siswi Memiliki Luka Lebam Dan Sesak Napas

INIKECE - Perilaku yang sangat keterlaluan terdapat seorang wanita. Siswi SMA ini dianiaya oleh teman pria di dalam sekelas. Pria ini melakukan aksis yang membuat nyawa wanita siswa ini hampir saja mati.

Diketahui pria ini menendang dada OL (korban), ini hingga pingsan & sesak napas, serta memiliki wajah lebam. Terjadi di SMA Negeri 3 Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pada Jumat (6/9/2019).

Korban yang merupakan siswi kelas 11 ini terlibat perkelahian dengan seorang pria yang juga teman sekelasnya B.

Perkelahian dimulai saat OL dan B terlibat adu mulut. OL yang sedang mengerjakan tugas bertengkar dengan B. Tak diketahui apa penyebab awal pertengkaran tersebut. Suasana kelas berubah menjadi gaduh.

Namun, sayang tak guru yang mengetahui kejadian tersebut. Cekcok antaran pelaku dan korban berujung pada pukulan B kepada OL. 

Pukulan yang dilayangkan B membuat wajah dan hidung OL mengalami lebam. Tak sampai di situ, B yang merupakan siswa pindahan tersebut, kembali melayangkan tendangan. Kali ini, dengan tega B menendang bagian dada OL.

OL yang menjadi korban amukan B langsung pingsan setelah menerima tendangan di dadanya. Tendangan B membuat OL juga mengalami sesak napas. 

OL bahkan juga tak bisa menggerakkan tangannya akibat sakit yang dialami di bagian dada. Hal ini diungkapkan oleh ibu korban, Paula.

"Dia kesulitan bernafas karena dadanya sakit dan sesak. Dia juga kesulitan menggerakkan tangan karena dadanya terasa sakit," katanya, Jumat (6/9/2019).

Ibu korban juga heran mengapa B tega menghajar OL padahal ia adalah laki-laki. Paula meminta pihak sekolah menyelesaikan kasus tersebut yang menurutnya masih menjadi tanggung jawab sekolah.

Sementara itu, korban mengaku tak menyangka temannya dengan tega menendangnya hingga pingsan.

"Saya tidak menyangka dia tega menendang dada saya sampai saya jatuh tersungkur," katanya.

Hingga berita ini dibuat, pihak sekolah telah mendatangi rumah korban untuk melakukan penyelesaian. Ibu korban juga sempat menyatakan belum akan melaporkan kasus tersebut ke pihak berwajib.


Beberapa waktu lalu, dunia pendidikan dihebohkan dengan kasus tewasnya seorang siswa SMA Militer Plus Taruna Indonesia Palembang saat kegiatan Masa Orientasi Siswa pada Sabtu (13/7/2019).

Siswa berinisial DBJ (14) tewas dianiaya oleh pembina MOS bernama Obbi. Kepala korban dipukul oleh pembina menggunakan bambu.

"Hasil pemeriksaan, tersangka mengakui jika telah menganiaya korban. Tadi malam telah ditetapkan tersangka atas nama Obbi," kata Kasat Reskrim Polresta Palembang Kompol Yon Edi Winara, Senin (15/7/2019).

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukukan kepada tersangka, diduga Obbi nekat melakukan penganiayaan karena kesal dengan ulah DBJ.

Kompol Yon Edi mengatakan, BDJ dianggap pemalasa DNA sering membantah arahan pembina.

"Motifnya berawal dari dia (tersangka) kesal, karena calon siswa ini malas-malasan begitu, dia lakukan pemukulan dengan bambu," katanya.

DBJ disebut sempat memaki Obbi setelah dipukul. Obbi merasa tersinggung hingga membuatnya marah dan menarik DBJ hingga terjatuh. Akibatnya, kepala DBJ terbentul ke aspal. Benturan ini diduga membuat DBJ mengalami pendarahan di kepala.

Langkah! Bola Mata Ubah Warna Di Siang Dan Malam Hari, Terjadi Pada Seorang Bocah

Langkah! Bola Mata Ubah Warna Di Siang Dan Malam Hari, Terjadi Pada Seorang Bocah

INIKECE - Menjadi Perbincangan banyak orang. melihat keanehan dari seorang bocah perempuan asal Bandung, Indonesia ini. Viral karena memiliki 4 warna yang berbeda pada bola matanya yang bisa berubah sewaktu-waktu.

Amelia Anggraeni, nama dari bocah perempuan tersebut. Kisah bocah ini viral dari satu akun Instagram @ijtijawabarat melakukan postingan tentang bocah perempuan satu ini. 

Dalam unggahan tersebut terlihat bahwa Amelia sedang duduk disamping ayahnya. Dan dalam sebuah video tersebut, diperlihatkan bola mata Amelia yang berwarna abu-abu kebiruan yang mirip dengan orang eropa.

Diketahui bahwa bola ata Amelia, bisa berubah warna pada waktunya. Jika pada malam hari, bola mata Amelia akan kembali menjadi berwarna hitam, dan jika masukin siang hari, bola mata Amelia akan kembali lagi menjadi abu-abu atau biru.

Tidak hanya bola matanya yang aneh, ternyata rambut pada Amelia sama. Terlihat rambut Amelia memiliki warna hitam, kuning dan keemasan.


Bocah berusia 2.5 tahun ini pada saat dilahirkan, memiliki bola mata berwarna putih. Saat itulah pihak keluarga berpikir bahwa Amelia dilahirkan dengan kebutaan di bagian matanya.

Tetapi kejadian aneh muncul pada saat Amelia berusia 5 bulan, bola mata Amel berubah menjadi abu-abu. Perubahan ini terus terjadi saat ia berusia satu tahun hingga kini, Bola mata Amel berubah menjadi biru hingga usianya kini dan masih terus berubah-ubah.

Hendra mengaku ia melihat perbedaan Amel dan saudaranya sejak masih dalam kandungan.
"Ada perbedaan kalau dibilang itu dari ari-ari ada yang mengikat di badannya ini, mengikat beda dari adiknya kakak-kakaknya," ujar Hendra.

Perubahan warna pada bola mata Amelia disebut sebagai kasus yang langka. Di dunia, manusia pemilik mata berwarna terang adalah 45%.

Sedangkan di Indonesia ada tiga daerah yang penduduknya memiliki bola mata berwarna terang. Tiga daerah tersebut adalah Lamno di Aceh, Pulau Siompu di Sulawesi Tenggara, dan Lingon di Maluku.
Warga Lamno dikenal memiliki ciri fisik yang mirip bangsa Eropa, bola mata mereka juga berwarna biru.

Sama seperti warga Lamno, penduduk Pulau Siompu juga bermata biru. Penduduk setempat menyebut daerah mereka merupakan salah satu tempat singgah pelaut Portugis.

Seorang perempuan bernama Ariska Dala memiliki warna biru gelap namun kulitnya sawo matang seperti orang Indonesia. Ayah Ariska, La Dala juga bermata biru.

Suku Lingon yang menerap di belantara Halmahera, Maluku memiliki mata biru dan berkulit putih. Mereka juga disebut memiliki perawakan yang lebih besar dari ukuran tubuh orang Indonesia pada umumnya.

Suku Lingon bukanlah suku yang berasal dari ras Weddoid, Melanesia, Polinesia, ataupun Mongoloid seperti kebanyakan penduduk di Halmahera.

Kelakuan Turis Marah Terhadap Penjual Ayam, Menjadi Viral

Kelakuan Turis Marah Terhadap Penjual Ayam, Menjadi Viral

INIKECE - Telah terjadi kerusuhan yang dibuat oleh wanita turis asal Inggris ini di pasar Tradisional di Kota Tangier, Maroko. Diketahui wanita turis ini tampak memarahi seorang penjual ayam.

Ia memarahi penjual ayam tersebut lantaran ayam yang dijual tukang ayam tersebut diletakkan di dalam kandang. Sehingga wanita turis asal Inggris mengamuk dan mengatakan hal yang tidak sopan kepada penjual ayam tersebut.


Dalam kejadian ini menjadi viral karena diperlihatkan sebuah video, dimana wanita turis ini sedang memarahi penjual ayam dengan kata-kata

"Apakah kamu tidak sekolah? Kamu tidak bisa membaca ya? Apa kamu bodoh? Apa kamu sebodoh itu," teriak si wanita turis yang memaki pedagang tersebut.


Setelah memarahi penjual ayam tersebut, wanita turis ini tiba-tiba langsung naik ke kandang ayam dan ingin mencoba membebaskan ayam-ayam yang ada di dalamnya tersebut.


Dalam aksi yang tersebut, penjualan ayam tersebut menentang tindakan dari wanita turis ini. Untuk tidak membuat kekacauan terhadapat dagangannya tersebut.

Tetapi hal tersebut membuat turis asing ini, ingin mencoba atau nyaris menggigit tangan si penjual ayam tersebut. Tak beberapa lama kemudian datang beberapa polisi dan dihentikan.

Polisi bahkan sempat dan membawa wanita turis ini ke rumah sakit karena terus saja berteriak histeris. Dalam hal ini wanita turis asal Inggris ini menjadi viral yang diunggah pertama kali di akun Twitter dengan nama @AfricaFactsZone pada awal September.

Memberi Kesempatan Ke 2, Apakah Perlu? Bagi Yang Ketahuan Selingkuh

Memberi Kesempatan Ke 2, Apakah Perlu? Bagi Yang Ketahuan Selingkuh

INIKECE - Dalam suatu hubungan asmara, pasti akan memiliki lika-liku yang harus dijalani, mulai dari emosional hingga romantis dari tiap pasangan. Akan tetapi apabila selama ini hubungan yang kita jalani diketahui baik-baik saja dan tidak ada masalah, tetapi pasangan kita ketahuan selingkuh.

Hal itu akan membuat perasaan hati yang dirasakan sangat-sangat menyakitkan bagi diri kita. Konflik antara pasangan akan terjadi hingga pertikayan yang serius.

Apakah kita yang telah mengetahui pasangan kita telah selingkuh harus kita maafkan dan diberikan kesempatan ke 2 bagi dirinya?

Coba tanyakan pada diri anda terlebih dahulu. Tips yang lebih baik, sebaiknya dalam setiap hubungan perlu melakukan komunikasi terkait arti atau persepsi mengenai perselingkuhan bagi diri masing-masing. Hal ini bertujuan untuk :
  • Memperjelas bagaimana sebetulnya bentuk komitmen anda dan pasangan ketika menjalin hubungan
  • Mengurangi adanya salah paham karena anda dan pasangan memiliki persepsi berbeda dalam konsep selingkuh.
Lalu, bagaimana ciri pasangan yang bisa dikatakan selingkuh? Secara harfiah, selingkuh merupakan perilaku melanggar komitmen dengan pasangan. Penulis buku Bukan Move On biasa tersebut ini juga membagikan beberapa batasan selingkuh, atau tolak ukur seseorang bisa dikatakan berselingkuh.
  • Timbul ketertarikan baik secara fisik maupun emosional dengan orang lain
  • Adanya kedekatan emosional dengan orang lain
  • Merahasiakan ketertarikan dan kedekatan tersebut dari pasangan resmi
"Jadi, kalau nyaman chatting dengan lawan jenis, dilakukan terus-terusan dan dirahasiakan dari pasangan, maka itu sudah bisa dibilang sebagai selingkuh secara emosional," tulis Pingkan dalam akun Instagram miliknya.

Mengapa seseorang memilih selingkuh?

Setiap orang tentunya memiliki motivasi yang berbeda ketika memutuskan untuk melanggar komitmen pernikahannya. Hasil penelitian yang dilakukan tagun 2018 oleh psikolog bernama McNulty, dkk, ada beberapa faktor prediksi yang mungkin bisa menyebabkan seseorang selingkuh.
  • Tidak puas dengan hubungan pernikahan
  • Semakin muda usia seseorang, maka semakin besar kemungkinan dia selingkuh
  • Kurangnya kepuasan dalam hubungan seksual
  • Daya tarik, untuk wanita ; semakin dia terlihat menarik, malah semakin kecil kemungkinan dia untuk selingkuh. Untuk laki-laki, justru dilihat dari daya tarik pasangannya, semakin pasangan laki-laki tersebut memiliki daya tarik yang tinggi, maka kemungkinan laki-laki selingkuh pun akan semakin rendah.
  • Pengalaman hubungan seksual. Untuk laki-laki, semakin dia banyak berhubungan seks sebelum nikah, maka semakin besar kemungkinan dia selingkuh. Sebaliknya, perempuan yang memiliki sedikit pengalaman seksual sebelum menikah, malah memiliki kecenderungan tinggi untuk selingkuh.
Perlukah pasangan yang selingkuh dimaafkan?

Belum lama ini, Rania (bukan nama sebenarnya), menceritakan pengalamannya dikhianati oleh suaminya. Pernikahan yang telah dibina hampir 13 tahun sempat berada di ujung tanduk lantaran ia memergoki sang suami selingkuh.

"Selama ini suami saya memang sering tugas ke luar kota. Ini sudah jadi hal yang lumrah. Tapi setahun belakangan, nggak tau kenapa perasaan saya sering nggak enak kalau suami bertugas. Apalagi saat suami terlihat menyembunyikan sesuatu. Handphone-nya tiba-tiba dikasih password, dan makin sering tugas ke luar kota. Hingga pada suatu hari saya membaca WhatsApp dari selingkuhannya. Marah, sedih, benci, rasanya semua jadi satu. Ketika itu saya hanya berpikir untuk minta cerai, nggak sanggup melanjutkan pernikahan kalau sudah dibohongi seperti itu. Saya tidak yakin bisa memaafkan dan melanjutkan pernikahan kami."

Apa yang dirasakan Rania, mungkin akan dialami oleh perempuan atau istri mana pun yang mengetahui pasangannya selingkuh. Biar bagaimana pun selain rasa cinta dan kasih sayang, kepercayaan dua orang dalam suatu hubungan itu ibarat lem utama yang dapat memperkuat tali pernikahan. Dan kepercayaan ini tentunya berkaitan dengan bagaimana anda dan pasangan saling memiliki komitmen untuk tidak saling menyakiti.


Ketika perselingkuhan terjadi di dalam pernikahan, maka bisa diartikan bahwa kepercayaan salah satu pihak dalam hubungan pernikahan bisa mulai memudar. Meskipun begitu, perceraiakan memang bukan satu-satunya jalan yang bisa ditempuh.

Hal inilah yang disampaikan oleh Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si. Ia mengatakan meskipun memaafkan pasangan yang telah selingkuh bukan perkara mudah, hal ini tentu saja tetap bisa dilakukan. Bahkan, psikolog yang kerap disapa Nina Teguh ini menyarankan, sebelum meluapkan dan meledakan emosi pada pasangan, ada baiknya kita melakukan intropeksi lebih dahulu.

Ia mengatakan langkah ini bisa membantu mencari tahu alasan di balik mengapa pasangan selingkuh. Menurutnya, saat peselingkuhan terjadi maka yang diperlukan adalah kerjsama antara kedua belah pihak untuk memperbaikinya.

Sementara, psikolog klinis Stephes A. Diamond Ph. D dalam artikel yang ia tulis di situs Psychology Today juga menjelaskan, bahwa memaafkan pasangan yang selingkuh merupakan hak setiap individu. Artinya, masing-masing orang punya pilihan untuk memaafkan atau pun tidak memaafkan pasangannya yang selingkuh.

Namun, apabila pasangan melakukan kesalahan sama berulang kali dengan pola yang persis, maka akan lebih bijaksana untuk mengakhiri hubungan yang ada. Karena bagaimana pun, hubungan yang sehat adalah ketika pasangan bisa saling menghargai satu sama lain.

Perselingkuhan juga merupakan hal yang kompleks, terutama dalam hubungan pernikahan. Parents mungkin merasakan beragam hal ketika mengetahui pasangan anda berkhianat. Berikut merupakan beberapa tips agar anda tetap sehat baik dalam hal fisik maupun mental ketika menghadapi pasangan yang selingkuh :
  • Tidak ada salahnya merasa marah, sedih, atau pun kecewa. Namun jangan sampai perasaan tersebut menyelimuti anda terus-menurus.
  • Hindari berselingkuh balik. Karena bagaimana pun, balas dendam bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah atau menjamin pasangan anda tidak melakukan kesalahn yang sama.
  • Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, pasangan, dan orang ketiga atas perselingkuhan yang ada. Anggap musibah tersebut sebagai salah satu pelajaran hidup yang kelak membuat anda menjadi pribadi yang lebih kuat lagi.
  • Tetap menjaga diri, jangan berlarut dalam kesedihan sehingga and mengabaikan kesehatan.
  • Usahakan agar anak tidak mendapatkan imbas atas masalah perselingkuhan.
  • Jangan ragu untuk cari bantuan dan berkonsultasi dengan tenaha ahli. 
Memaafkan pasangan selingkuh atau tidak, tentu saja bersifat personal. Semua akan kembali kepada diri masing-masing.

Faktanya, memang tidak ada pernikahan yang sempurna. Selain itu, anda pun berhak bahagia. Oleh karena itu, jika pernikahan sudah dirasa tidak sehat, tidak ada salahnya melepaskannya.

"Komitmen itu bersifat dua arah. Hubungan yang senantiasa merusak kepercayaan atau bahkan berimbah menyakiti salah satu pihak, itu sama sekali tidak dapat diterima. Memaafkan adalah pilihan, dan rujuk tidak selalu menjadi solusi yang tepat. Jangan sampai kita terjebak dalam lingkaran kesalahn yang sama," tutup Stephen.

Cerita Move On, Residu Jatuh Cinta

Cerita Move On, Residu Jatuh Cinta

INIKECE - "Bagaikan langit dan bumi, aku dan engkau selamanya takkan pernah, pernah bisa kan bersama, sadar ku siapa yang tak pantas untuk bersanding denganmu..."

Suara merdu penyanyi dangdut ternama Indonesia mengisi kekosongan sudut ruangan di salah satu mall Jakarta bagian Selatan siang itu. Lelaki dengan seragam abu-abu dengan garis merah di pinggir kiri-kanannya tersenyum miris mendengar tiap lirik dari lantunan lagu tersebut.

Benar kata orang bahwa dangdut seringkali identik dengan lirik yang dekat dengan masyarakat. Dan siang itu ia tertawa geli dalam hati karna merasa tersindir oleh lagu yang masih terus berputar itu diikuti dengan suara teman sekerjanya yang menyanyi dengan tampang sok dramatis.

"Bre, sebatang dulu yuk di bawah sebelom masuk," ajak temannya tersebut.

Faisal, laki-laki yang diajak tersebut sibuk merapikan rambutnya yang selalu terlihat rapih dengan pomade kesayangannya itu. "Males ah, mau langsung naik aja udah jam segini," ujarnya sambil menggerakkan kepala ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah dua siang.

Ya, begitulah aktivitas rutin yang dilakukan Faisal setiap pukul dua siang pada hari-hari biasa. Ia akan naik ke lantai paling atas mall untuk mengambil bak sampah alumunium berukuran besar lalu kemudian ia mengelilingi tiap toko di mall tersebut untuk mengambili sampah-sampah mereka. Sejak 2 tahun bekerja, pekerjaannya tidak pernah semenyenangkan sejak 6 bulan lalu. Ketika pagi itu ia bertemu seorang perempuan berambut sepundak dengan poni depan yang membuatnya semakin terlihat mungil.

Faisal masih ingat saat perempuan bernama Vania itu menanyakan dimana letak Your Favorite Cakes berada. Salah satu tenant yang berada di mall tersebut. Menjual aneka cup cakes dengan tampilan menarik dan dilengkapi dengan aneka kopi, es krim, dan minuman lainnya. Sejak itu pula ia tau bahwa Vania bekerja di sana.

Diam-diam Faisal sering memperhatikan Vania tiap kali ia sedang bertugas dilantai toko Vania bekerja. Bagaimana perempuan itu melayani pelanggan dengan senyum dan sapaannya yang ramah, tawa renyahnya saat mengobrol dengan rekan kerjanya, atau bahkan tatapan sedih perempuan itu kala dimarahi pelanggan karna melakukan kesalah.

Faisal tau bagaimana Vania melewati hari-harinya yang sulit, seperti saat ia harus tetap bekerja paruh waktu di Your Favorite Cakes bersamaan dengan menyelesaikan skripsinya, atasan yang tidak menyenangkan, atau bahkan keluhan tentang biaya wisuda yang mahal.

Ia sering mendengarkan cerita perempuan itu tiap kali mereka ada kesempatan untuk mengobrol walau hanya sebentar. Tapi, Faisal sadar diri dengan pekerjaannya sebagai petugas kebersihan mall yang seringkali membuatnya tidak cukup percaya diri untuk memiliki hubungan dengan perempuan mana pun apalagi Vania yang ia tau akan memiliki masa depan cerah.

Tapi di satu sisi, sejak bertemu Vania ia juga merasakan ada kepercayaan diri yang dengan tidak sopannya muncul ke permukaan. Vania tidak pernah memasang wajah risihnya tiap kali Faisal menyapa dengan senyum. Ia sangat ramah dan tidak terlihat enggan untuk bertukat cerita tiap Faisal datang untuk mengambil sampah atau sekedar membersihkan kaca Your Favorite Cakes.

Sesederhana itu untuk membuat Faisal semangat bekerja, seperti siang ini ketika ia bertemu lagi dengan Vania.

"Hai, Vania! Udah lama nggak keliatan, kemana aja?" tanya Faisal.

Perempuan dengan topi ala chef khas Yout Favorite Cakes itu tersenyum ramah sambil membawa beberapa tempat sampah untuk diberikan ke Faisal. "Padahal saya masuk terus loh, Mas. Tapi, setiap jam segini saya lagi break jadinya nggak ketemu deh kita," jawabnya kemudian tertawa. Tawa yang membuat hati Faisal bergemuruh dan akhirnya memberanikan diri untuk mengenal Vania lebih jauh.

Dengan ragu-ragu, Faisal menyodorkan smartphone-nya kepada Vania. "Van, saya boleh minta nomor kamu nggak?"

Vania mengerutkan alisnya, tersenyum kikuk. Ia sadar akan jadi berbeda jika sudah pada tahap bertukar nomor handphone. Tapi, Vania masih pada niat awalnya untuk tidak membuat laki-laki manapun merasa rendah diri oleh penolakannya dalam bentu apapun.

Melihat sinyal kebingungan di wajah Vania, laki-laki itu urung untuk memaksa. Hanya ada dua kemungkinan dalam benak Faisal. Apakah Vania enggan untuk mengenalnya lebih jauh karna status pekerjaan Faisal, ataukah karna ia harus menjaga hati yang lain.
"Yah, udah ada pacar, ya Van? Nggak usah deh kalo gitu," ujar Faisal dengan nada kecewa.

Seketika Vania langsung mengambil handphone Faisal dan mengetikkan 12 angka.
"Siapa tau aku butuh bantuan Mas Faisal suatu saat," ucap Vania sambil berlalu untuk menghampiri pelanggannya. Dan, entah kenapa Faisal tidak bisa berhenti tersenyum hingga hari-hari berikutnya.

***

Sinar matahari sore menyoroti meja rumah makan ayam bakar di sekitar mall tersebut. Sore itu Vania mengiyakan ajakan Faisal untuk istirahat bersama. Mereka banyak membicarakan tentang pekerjaan, dan hal-hal ringan lainnya. Setiap berhasil membuat Vania tertawa, Faisal merasa menjadi laki-laki paling senang se-Jakarta Selatan, jika sedunia terlalu berlebihan untuk menggambarkannya.

"Tau nggak Van? Tiap cewek yang tau kalo saya kerjaannya cuma bersihin mall pasti mereka langsung mundur. Boro-boro diajak makan, baru saya senyumin aja udah melengos," ujar Faisal yang membuat Vania terkekeh miris.

"Yakin banget emang itu karna pekerjaan Mas Faisal? Bisa jadi karena mereka udah punya pacar, kan."

"Beberapa sih iya, tapi saya emang sadar diri. Cowok nggak punya apa-apa gini kayak saya mana bisa ngehidupin anak orang dengan gaya mewah-mewahan."

Vania menarik napas. Ia sedih melihat tatapan tidak percaya diri laki-laki di depannya itu. Sambil mengaduk es teh manis di gelasnya, Vania berujar, "Ternyata kita itu kayak cup cakes di toko saya ya Mas. Ketika orang liat luarnya masih dibungkus pakai brand ternama pasti nggak akan curiga soal rasa dan harga berapapun mereka beli karena udah percaya.

Padahal, kalo kue itu aku buka bungkusnya dan ditaruh di antara kue-kue nggak bermerk lainnya kemungkinan mereka nggak akan tertarik untuk beli walau harganya murah.

Faisal tersenyum, mengangguk setuju. "Ini maksudnya ibarat saya kalo lagi pake seragam kerja gini versus laki-laki berkemeja rapih kan?"

Vania tertawa sambil mengangguk. "Harusnya perempuan termasuk saya lebih menghargai kerja keras seorang laki-laki dibanding hanya men-judge pekerjaan mereka. Nggak ada pekerjaan yang rendah selama halal kan? Siapa tau suata hari nanti Mas Faisal bisa dapet kerjaan yang lebih baik," ujar Vania menyemangati.

"Saya bakal cari kerjaan yang lebih baik kok, Van. Buat nikahin kamu," gurau Faisal.

Seketika pipi Vania memerah, "Kok aku Mas?"

"Lah, kamu nggak mau?" Faisal pura-pura memasang wajah patah pati.

"Hehee, aku masih punya banyak hal yang mau diraih, Mas."

Laki-laki itu tertawa mendengar respons Vania. Padahal dia hanya menggoda saja, tapi Vania terlihat serius menanggapi. Eh, tapi, boleh deh gue doain dulu biar dia beneran jadi istri gue. Faisal membatin.

Mata perempuan itu selalu terlihat berbinar tiap kali membicarakan sesuatu. Seolah tanpa harus diutarakan pun, Faisal tau apa yang tengah Vania rasakan. Dada Faisal mendesir mendengar ucapan Vania tadi. Apakah baru saja ia diberi tanda? Atau dia yang terlalu cepat menyimpulkan?

Ternyata jawabannya lebih cepat dari ia sangka. Hari itu, tanpa hujan deras ataupun kilatan petir, Vania menjungkir balikkan perasaannya hanya dalam satu hari.


***

Sudah hampir seminggu Vania tidak bertemu Faisal sejak hari itu, mereka membicarakan banyak hal. Ia bingung kenapa Faisal tidak lagi ke Your Favorite Cakes setiap jam dua siang yang kini malah digantikan oleh orang lain. Tapi, Vania tidak cukup berani untuk bertanya keberadaan Faisal. Padahal, ia ingin menyampaikan sesuatu hal pada laki-laki itu.

Vania memutuskan untuk menunggu di lobby saat pertama kali mereka bertemu. Ia berharap laki-laki itu lewat tapi bahkan sampai hampir jam operasional mall berakhir dia tidak bertemu Faisal. Ketika salah satu laki-laki berseragam sama dengan Faisal melewatinya, ia menghentikan langkah orang tersebut secara terpaksa.

"Bang, maaf nih, tau nggak Mas Faisal ada dimana? Kenal kan sama Mas Faisal? Kenal dong pasti?" cecar Vania. Ia melihat sekilas kartu nama yang tergantung di kantong seragam laki-laki bernama Firman tersebut.

Ia terlihat sedang mencoba mengingat sesuatu. "Oh, Ical maksudnya ya, Neng?"

Kini, Vania yang kebingungan. "Hm, iya kali ya? Mungkin itu nama tongkrongan ya? Hehe.." ucap Vania tak yakin sambil terkekeh.

"Oooh, jadi ini yang bikin Ical uring-uringan. Mana segala minta ganti jobdesk," sahutnya dengan ekspresi berhasil menyelesaikan teka-teki.

Vania merasa tamabah bingung. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan laki-laki itu. "Hah? Gimana Bang maksudnya?"

"Yaelah, sekarang mana ada nih ya orang yang dorong-dorong bak sampah segede gaban tapi mukanya hepi bener kayak ngendarain Lamborghini. Udah ketebak banget dia ngincer anak sini. Benar aja kan ternyata," lanjutnya lagi.

"Bang, bisa nggak kasih tau aja Mas Faisalnya dimana? Saya juga ada yang mau dibicarain penting sama dia," Vania mendesak tidak sabar.

"Tungguin aja di sini, paling 30 menitan lagi bocahnya lewat. Ngomong-ngomong, gue sobatnya Ical nih, agak kecewa dituduh nggak kenal sahabat sendiri." Setelah Vania berterima kasih, Firman melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Dan sampai pukul setendah dua belas malam, Vani amasih belum tertemu Faisal.

***

Beberapa lampu utama sekitar lobby mall sudah padam, menghasilkan beberapa lorong terlihat cukup gelap. Faisal baru saja menyelesaikan pekerjaannya, hendak pulang ketika melihat perempuan mungil yang ia hindari belakangan ini tengah terduduk dengan sebuah box bertulisan Your Favorite Cakes di atas pangkuannya.

Perempuan itu sepertinya mendengar derap langkah karna ia langsung menoleh kearah Faisal berdiri saat ini. "Hai, Mas!" ucap Vania kikuk.

"Kenapa belum pulang? Mall udah gelap banget gini, ngapain kamu?" ujar Faisal yang gagal menyembunyikan kekhawatirannya.

Vania bingung ingin memulai darimana. Susunan kata yang sudah ia rangkai tiba-tiba lenyap dala  sekejap begitu berhadapan dengan Faisal.

"Aku nungguin Mas Faisal daritadi, ada yang mau diomongin. Lagian kenapa Mas nggak pernah lagi ke toko belakangan ini? Ketemu juga enggak.'

"Saya udah nggak megang jobdesk itu lagi," ucap Faisal cuek.

Vania masih bergeming sampai Faisal membuka suara.

"Kamu kenapa nggak jujur dari awal kalo kamu udah punya pacar?"

Seperti dugaan laki-laki itu, Vania terkejut. Pasti dalam pikirannya adalah darimana Faisal tau? Faisal menggelengkan kepalanya. Ia bahkan masih merasakan sakitnya ketika melihat Vania memeluk erat laki-laki yang tengah memboncenginya itu. Di hari yang sama saat mereka menghabiskan sore bersama.

"Kirain kamu tuh nggak kayak perempuan lain, Van. Tapi, kamu ngecewain saya. Buat apa coba kata-kata manis kamu waktu itu? Buat bikin saya berharap?"

"Iya aku salah, tapi aku nggak berniat jadiin Mas Faisal sebagai selingkuhan. Aku cuman nggak mau Mas Faisal terus-terusan ngerasa rendah diri. Aku mau Mas Faisal tuh bisa ngehargain diri sendiri. Itu aja Mas, nggak ada niatan lain."

Kini, penjelasan apapun dari Vania hanya terdengar sebagai omong kosong di telinga Faisal. "Udah nggak apa-apa, saya cuma perlu waktu buat lupain kamu, dan tolong bantu untuk nggak nemuin sya dulu."

Air mata Vania menggenang, ia memberikan box yang sejak tadi ia bawa kepada Faisal. Laki-laki itu sebetulnya enggan menerima, tapi melihat Vania menangis rasanya ia ingin sekali memeluknya walaupun dalam hati ia masih sangat kecewa.

"Nggak perlu kasih sogokan begini juga saya maafin kok," ujar Faisal.

"Ambil aja, hari ini aku terakhir kerja disini Mas, kalau sesuai rencana bulan September aku wisuda, jadi perlu konsentrasi penuh nggak bisa sambil part time." Vania menyeka air matanya.

"Aku senang bisa ketemu orang setulus Mas Faisal. Aku berharap Mas Faisal bisa bahagia dan belajar untuk mengapresiasi diri sendiri. Karena gimana orang lain bisa mencintai Mas Faisal kalo kamu-nya sendiri nggak bisa. Dari awal aku tau Mas Faisal pasti bakal salah mengartikan. Tapi, kalau hari itu aku nolak untuk kenal Mas Faisal lebih jauh, mungkin Mas Faisal nggak akan punya keberanaian lagi buat coba ke perempuan lain. Mas Faisal pantas kok untuk diperjuangin," Faisal termenung, memandangi punggung Vania yang perlahan menjauh.

Faisal mengehla napas. Perempuan di depannya benar-benar memenuhi syarat untuk move on versi Faisal yaitu pertama 'jarak'. Kini, tinggal waktu dan orang baru. Dua hal yang tak yakin akan ia dapatkan dengan mudah setelah ia melewatkan perempuan seperti Vania.

Tentang Penulis :

Honeymilk merupakan mahasiswa berumur 19 tahun di Universitas Negeri Jakarta dengan cita-cita menjadi seorang guru yang juga novelis. Senang menyalurkan imajinasinya dalam sebuah cerita yang terinspirasi lewat kejadian sehari-hari yang dekat dengan aktivitasnya. Bertempat tinggal di Jakarta, dan menghabiskan sis waktu dengan part time disalah satu restaurant Italia di daerah Kemang.

Kejeniusan Yang Luar Biasa Bocah 14 Tahun Dengan 3 Terbitan Jurnal Penelitian

Kejeniusan Yang Luar Biasa Bocah 14 Tahun Dengan 3 Terbitan Jurnal Penelitian

INIKECE - Banyak orang takjub dengan kejeniusan dari bocah 14 tahun, dimana usia tersebut masih banyak orang bermain atau bermain game online. Tetapi tidak untuk Daniel Liu, bocah 14 tahun yang telah mencintai pelajaran kimia sejak kecil.

Kecintaannya terhadap Kimia membuatnya terus memiliki ide untuk melakukan bereksperimen. Daniel Liu pada tahun 2016 pernah viral, dimana teman sekelasnya di Universitas Toledo, Amerika Serikat, membuat status tentang dirinya.

"Anak ini berusia 11 tahun dan dia menghadiri kelas kimia organik. Dia bilang kita bisa mengirimnya email jika punya pertanyaan," tulis @cigdemk14.


Memiliki Jeniusan yang luar biasa sehingga ia bisa masuk untuk menghadiri kelas Kimia Organik terbuka yang diselenggarakan oleh Michael Young, dosen di Universitas Toledo.
Daniel Liu membuat orang takjub dengan hasil ujian praktikum dengan nilai 99, padahal skor rata-rata peserta hanya 50.

Pernah memenangkan beasiswa senilai 10.000 dolar pada saat berusia 10 tahun, dan ia berhasil mengalahkan 30.000 murid lain dalam tantangan "You Be The Chemist" yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan Kimia. 


Berkat kejeniusannya itu, ia pernah diundang ke White House Science Fair dan bertemu Barack Obama yang kala itu masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.


Pada tahun 2018, ia dan rekan setimnya berhasil menerbitkan jurnal cara mengembangkan obat-obatan farmasi dan pestisida dengan cara yang lebih cepat, lebih murah, dan lebih ramah lingkungan.

Daniel bisa bergabung dengan Michael setelah berhasil menunjukan kemampuannya yang mengagumkan di bidang sains. Ia bekerja sama dengan Michael Young dan juga Mohiy Kapoor (Seorang peneliti postdoctoral) untuk mengerjakan penelitian tersebut.

Hingga kini, nama Daniel Liu tercatat telah mempublikasikan tiga artikel penelitian yang dipublikasikan di Journal of The American Chemical Society, Synlett, dan Journal of Chemical Education.

Walaupun telah sukses menerbitkan hasil penelitiannya selama menempuh pendidikan di Universitas Toledo, Daniel tak menutup kemungkinan untuk mewujudkan cita-citanya berkuliah di Harvard University atau Massachusetts Institute of Technology.

Cerita Menarik, Wajah Dalam Cermin

Cerita Menarik, Wajah Dalam Cermin

INIKECE - Binar Bening mata itu mengerjap-ngerjap. Ribuan bintang seolah berkumpul membentuk gugusan paling terang di mata itu. Aku memandangnya takjub. Apalagi ketika bibir mungil itu merekah, membentuk bulan sabit yang indah di wajah putihnya yang kemerah-merahan.

Pipi montok itu seperti menggelembung, menenggelamkan hidungnya yang tak begitu mancung. Bukan, senyum itu bukan ditujukan untukku, tapi untuk Ameera, ibunya, yang begitu cekatan membersihkan pub-nya. Membuat aku beberapa kali mengusap hidup. Mengusir aroma yang tercium kurang sedap.

Sekian menit mengamati wajah Celia sambil membungkuk membuat punggungku lelah juga. Kutegakkan tubuhku. Menarik langkah surut ke belakang. Duduk di sofa dekat jendela. Memandangi anak dan ibu yang saling menggoda. 

Dunia di dalam kamar berwarna pastel ini seakan milik mereka berdua. Sesekali Ameera mencubit lembut pipi Celia dengan gemas. Celia tergelak-gelak riang. Suara tawanya memecah siang.

"Kamu tidak menyesal Ameera?" tanyaku, untuk pertama kali, setelah beberapa menit berada di ruangan ini. Ameera melepas pandangannya dari wajah Celia. Melirik ke arahku sesaat. Kedua alisnya terangkat.

"Menyesal kenapa apa?" tanyanya.

"Resign dari pekerjaanmu di kantor, demifull time mengurus Celia." Ameera tersenyum matanya kembali tertuju pada Celia.

"Jelaskan padaku, apa ada yang lebih nikmat daripada menatap wajah imut ini tiap saat?"

"Aku yakin, kamu pasti rindu dengan meeting-meeting panjang itu," kataku.

"Ya...tidak kupungkiri." kedua bahu Ameera sedikit terangkat. "Sesekali perasaan itu memang muncul. Tapi, hidup adalah pilihan, Nadine. Dan, untuk saat ini, aku memilih untuk menghabiskan hari-hariku bersama Celia."

"Banyak wanita yang bisa menjalankan peran keduanya. Tetap bekerja dan memberi kasih sayang utuh kepada anak-anak mereka dengan bantuan baby sitter.

Ya..Walau kutahu, mencari baby sitter yang andal dan dapat dipercaya saat ini bukanlah perkara gampang. Baru dua minggu yang lalu kulihat di televesi, seorang baby sitter memperlakukan anak asuhnya dengan tidak manusiawi, di saat kedua orang tuanya tidak di rumah. Yang paling sadis dan sedang marak terjadi adalah kasus penculikan anak yang dilakukan oleh pengasuhnya sendiri.

Tapi kalau kamu mau aku bisa membantu, Ameera. Salah seorang tetanggaku adalah agen penyalur asisten rumah tangga dan pengasuh anak. Selama ini belum pernah kudengar dia bermasalah."

"Ini hanya masalah waktu, Nadine. Banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa dulang." Ameera diam sesaat. "Aku tidak ingin kehilangan momen perkembangan Celia tiap detiknya. Mendengar tangis dan tawanya. Menemukan Celia sudah bisa membalikkan badan dan mengangkat kepala. Itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan dibayar dengan apa pun juga.


Lagi pula, yang namanya bekerja, kan tidak harus di kantor. Aku masih bisa berkaya dari rumah menjadi penulis lepas seperti cita-citaku sejak dulu. Yang terpenting, aku tetap bisa mengurus Celia dengan tanganku sendiri, sampai dia tumbuh dewasa dan mandiri. Dan kamu tahu, Nadine," Ameera mengubah posisi tubuhnya sedikit miring ke kanan. Menghadap ke arahku.

"Sekarang aku benar-benar tidak sabar menunggu saat pertama kali Celia memanggilku Mama."

Aku tercenung. Sebegitu bersakah cinta Ameera kepada Celia? Bayi malang yang ditemukan petugas kebersihan di dalam sebuah kardus, di dalam kamar mandi sebuah pom besin, di dekat kantorku, enam bulan yang lalu. Dan langsung menjadi viral setelah seseorang mengunggah fotonya di media sosial.

Tujuh tahun, ya..selama waktu itu Ameera dan Dito, suaminya, menghabiskan waktu untuk mengunjungi dokter kandungan yang direkomendasikan beberapa teman. Berbagai obat dari resep dokter sampai ramuan tradisional tak bosan ditelannya.
Inseminasi juga sudah beberapa kali dilakukan, hingga akhirnya memutuskan untuk mengikuti program bayi tabung. Namun, anak yang mereka idam-idamkan belum mau juga mendiami rahim Ameera.

"Tetapi, kenapa Celia?" Berulang kali kutanyakan hal itu kepada Ameera, saat ia mengutarakan keinginannya untuk mengadopsi Celia, sehari setelah Ameera memintaku untuk menemainya melihat bayi malang itu di puskesmas yang menampungnya sementara waktu. Membuatku nyaris tersedak sepotong brokoli, menu makan siangku, waktu itu.

Bobot Celia waktu itu tidak lebih dari dua kilogram, dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Ada sedikit masalah di bagian jantungnya, mungkin akibat obat penggugur kandungan yang dikonsumsi ibu kandungnya yang tidak menginginkan kehadirannya di dunia ini. Dan hingga kini masih belum diketahui keberadaannya.

"Love at the first sight!" begitu yang diucapkan Ameera, saat kuingatkan, masih banyak bayi yang bisa diadopsinya di panti asuhan dengan kondisi yang lebih baik, dan tentu saja tidak akan menyusahkannya.

"Aku rasa kami sudah berjodoh. Dito juga setuju," jelas Ameera lagi waktu itu. "Aku jatuh cinta kepadanya, seperti aku jatuh cinta pada wafel, aroma tanah basah, dan Dito suamiku. Simpel."

***

Aku benar-benar tak dapat memahami jalan pikiran Ameera saat itu, walau aku telah menghabiskan hampir sepertiga umurku hidup bersamanya. Sejak kami sama-sama merantau dari Kota Medan ke Ibukota untuk kuliah dan memutuskan berbagai kamar di kos yang padat penduduk. Hingga akhirnya kami diterima bekerja di perusahaan yang sama, kemudian pindah ke sebuah apartemen di jantung ibu kota.

Aku dan Ameera seperti sepasang cermin yang saling dihadapkan. Menderu dengan semangat yang sama. Saling mendukung dalam tiap kesempatan. Tanpa pernah saling iri. Membuat kami berdua melaju dengan cepat menduduki jabatan yang bergengsi di kantor, di bidang kami masing-masing. Hanya satu hal yang membuat kami berbeda pandangan. Anak! Di bagian itu, kami selalu berpisah jalan.

Usai prosesi pernikahan adat Batak yang panjang, Ameera dan Dito telah merancang keinginan untuk secepatnya memiliki keturunan. Aku masih ingat benar saat melepas Ameera dan Dito untuk berbulan madu ke Pulau Samosir. Dengan wajah tak sabar dan setengah berbisik Ameera menggodaku, untuk bersiap-siap di panggil 'Tante' sepulangnya mereka dari pulau vulkanik di tengah Danau Toba itu. Walau keinginan itu tidak juga terwujud hingga detik ini.

Sementara aku dan Ken, yang menyusul Ameera dan Dito menikah empat tahun kemudian, justru sepakat untuk menunda memiliki keturunan. Dengan alasan, agenda pekerjaan masing-masing yang masih padat. Walau dokter telah memastikan aku dan Ken dalam kondisi sehat untuk memiliki keturunan. Untuk kesamaan visi dan misi berumah tangga itu, mungkin aku dan Ken berjodoh.

Kualihkan pandangan. Menatap ke luar jendela. Hujan masih belum lelah juga mengencani siang.

"Kamu masih menggunakan alat kontrasepsi itu, Nadine?"

Pertanyaan Ameera membawa mataku kembali berpijak pada wajahnya. Kemudian aku mengangguk pelan.

"Sampai kapan?"

Aku mengedikkan bahu." Sampai aku dan Ken benar-benar siap."

"Tiga tahun, Nadine!" ucap Ameera, seperti menginatkan. "Tidak ada waktu yang tepat kalau kamu tidak memulainya! Anak adalah pengikat. Membuat hubungan suami-istri makin erat.

"Huh..." kuembuskan napas. Ya, tiga sudah kulewati hidup berumah tangga bersama Ken. Lelaki pekerja keras yang tak banyak menuntut. Tak pernah sekali pun Ken ribu, jika aku tidak sempat menyiapkan kopi atau sarapan. Bahkan, jika terpaksa pulang larut malam karena meeting dengan klien penting yang sulit diberi pengertian.

Begitupun aku, tak pernah mengadu kepadanya, jika keran air dirumah bocor, atau mobil yang tiba-tiba ngadat di jalan. Hidup yang kami jalani adalah sebuah rutinitas dalam keteraturan.

Tiap hari, dimulai dengan ucapan selamat pagi, mengecek agenda sambil menikmati menu sarapan, kemudian bergegas masuk ke dalam mobil masing-masing. Bertemu kembali di malam hari, merebahkan tubuh di kasur dengan membawa kepenatan masing-masing tanpa banyak bicara.

Hanya ucapan selamat tidur yang terdengar, atau sesekali mengakhiri malam dengan bercinta. Ada kalanya aku berpikir, kami seperti dua orang asing yang terperangkap di satu atap. Kemandirian masing-masing membuat kami makin berjarak. Bahkan, akhir-akhir ini Ken makin jarang di rumah. Mengurusi proyek-proyeknya di luar kota yang makin berkembang.

Kuamati penampilan Ameera dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kulit mulus Ameera yang biasa menggunakan setelan blazer kini hanya dibalut terusan biru terang. Sementara rambut ikalnya yang biasa tergerai sebahu dijepit ke balakang sebagian meluruh jatuh menutupi tengkuknya yang berpeluh. Tanpa riasan, apalagi cat kuku.
Tapi...aura itu, kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya, membuat Ameera terlihat begitu cantik dan berkilau.

"Apakah kamu bahagia, Ameera?" kucoba bertanya untuk meyakinkan penglihatanku.

"Sangat...," tanpa ragu Ameera menjawab. Mengangkat Cella yang telah rapi dan berganti popok baru, masuk ke dalam kedapannya. "Kamu sendiri?"

"Apa?" aku tergeragap.

"Apa kamu bahagia, Nadine?" Ameera balik bertanya.

"Menurutmu?"

Ameera melangkah ke arahku bersama Celia yang berlabuh dengan tenang di dadanya. Disambarnya sebuah cermin kecil berpigura plastik pink terang dari atas rak pakaian Celia. Ameera menyodorkan benda itu tepat di hadapanku.

"Nih, tanya sendiri pada wajah yang kamu lihat di cermin!"

Aku tercenung. Menarik cermin itu dari tangan Ameera. Menatap wajah yang kulihat di cermin. Wajahku sendiri. Tak ada cela di wajah itu. Sapuan make-up yang melapisi wajah dalam cermin itu membuatnya terlihat begitu sempurna. Alis yang melengkung dengan rapi. Hidung mancung. Bibir, walau tak sepenuh Angelina Jolie, tapi terlihat seksi. Namun, ada satu yang tak dapat berbohong di wajah itu, sepasang mata yang kesepian..menatap layu di cermin itu.

Triana Rahayu - Bogor